Powered by Blogger.

Ini Yang Perlu Kamu Tahu Saat Dollar Menjadi Lawan

Ini Yang Perlu Kamu Tahu Saat Dollar Menjadi Lawan
Korelasi antara IHSG dengan nilai tukar rupiah terhadap dollar memang cukup erat. Menguatnya dollar (yang berarti otomatis melemahnya rupiah) akan menjadi sentimen negatif kuat buat pasar saham. Dari dalam negeri, disebabkan banyak hutang korporasi yang dalam dollar, sehingga jika dollar menguat, maka beban hutangnya pun ikut membengkak. Dari luar negeri, penguatan dollar akan membuat US Treasury Bond menjadi menarik, sehingga investor diprediksi akan memilih menginvestasikan modalnya ke sana sampai situasi global kondusif (yang biasa kita kenal dengan istilah 'dollar pulang kampung').

Bayang-bayang dollar memang kerap menghantui pelaku pasar sejak dulu. Krisis finansial yang sudah beberapa kali menghantam bursa kita selalu dibarengi dengan penguatan dollar secara signifikan. Tapi ada kalanya IHSG bisa melawan penguatan dollar tersebut.

Saya ambil contoh sekitar akhir bulan Agustus s/d awal September 2015 lalu dimana banyak muncul 'keanehan' di pasar saham. 'Keanehan' itu lazim disebut sebagai anomali. Saat itu rupiah bergerak terus melemah, namun pelemahannya tidak lagi diikuti oleh IHSG, karena IHSG justru bergerak naik melawan arah. Saham-saham berlompatan kegirangan seperti anak-anak kecil bermain hujan. Para trader yang masih asik wait and see -karena melulu memonitor penguatan dollar- hanya bisa memendam rasa dongkol karena kehilangan kesempatan memborong saham di harga rendah. Lalu dengan cepat mencari tahu apa penyebab rebound tersebut. Diketahuilah bahwa ada isu buyback tanpa RUPS yang digelontorkan OJK atas himbauan dari Menteri BUMN kepada emiten sebagai aksi buat menyelamatkan kejatuhan harga saham.

Sistem Trading : Cocok Buat Saya atau Cocok Buat Pasar?

Sistem Trading : Cocok Buat Saya atau Cocok Buat Pasar?
Sistem trading ini merupakan rahasia para trader, disusun berdasarkan pengalaman dan karakter diri sendiri, dengan tujuan untuk meminimalisir resiko dan menaikkan profit. Semakin agresif karakternya, maka semakin agresif pula sistem trading yang disusun. Yang dimaksudkan agresif di sini adalah lebih aktif trading, dan jarang menunggu. Dimana terlihat ada kesempatan untuk meraih profit, walaupun dalam fluktuasi kecil sekalipun, pasti akan diambil. Bisa dibilang sebagai risk taker. Lawannya agresif adalah konservatif. Trader konservatif akan lebih sabar menunggu dan biasanya hanya memburu saham-saham dengan potensi fluktuasi yang besar. Disebut juga sebagai risk averter. Dalam banyak pendapat, apapun sistem tradingnya, asalkan cocok dengan karakter diri sendiri, maka itu sudah baik. Pertanyaannya, sebenarnya yang kita cari itu sistem trading yang cocok buat diri kita atau yang cocok buat pasar?

Jalan Tikus Para IQ Moderat, Jalan Sang Petarung

Jalan Tikus Para IQ Moderat, Jalan Sang Petarung
"Apa bedanya orang pintar dengan orang bodoh?" Orang pintar biasanya dipahami sebagai orang yang memiliki IQ lebih tinggi, berkebalikan dengan orang bodoh. IQ sendiri merupakan standard penilaian terhadap kecerdasan manusia. Sekitar 2/3 populasi manusia berada pada IQ 85-115. Jika kamu punya IQ 130, maka bisa dikatakan kecerdasanmu di atas rata-rata. Namun, dalam prakteknya penilaian atas IQ hanya sebagai perangkat diagnostik saja. Jika ditemukan IQ di bawah 80, maka kudu cari tahu apa penyebab gangguan berfikirnya. Kecerdasan itu sendiri tak cukup diukur sebatas IQ saja. Kita butuh lebih dari sekedar IQ.

Bursa saham tak sekedar pertemuan antara si pembeli dengan si penjual, tapi juga pertemuan antara si jenius dengan si jenius yang lain. Banyak di antaranya terlahir dengan IQ yang tinggi, bakat alami mengelola keuangan yang diperoleh dari ayah/ibunya, memiliki guru-guru teknikal yang mumpuni, dan tentunya sebuah grup kecil yang selalu meluangkan waktu untuk membahas fundamental saham dan lainnya. Saya dan kamu hanya seperti orang-orang kecil yang mencoba menantang mereka di pasar saham dengan kemampuan terbaik yang kita punya, dengan IQ moderat, tanpa perangkat yang canggih, tanpa informasi yang lengkap, tanpa modal yang besar. Akui saja, banyak di antara kita yang belajar tanpa guru, kan? Lantas, bagaimana cara kita memenangkan pertarungan ini? Ada jalan tikusnya.

Menangkap Pisau Jatuh


Menangkap Pisau Jatuh
Naik turunnya harga saham akan selalu terjadi saban hari, baik itu disebabkan faktor makroekonomi, maupun faktor mikroekonomi dari saham itu sendiri. Dalam banyak kondisi, kita sulit mengetahui apa penyebab sebuah saham turun tajam. Biasanya informasi akan menyusul setelah kejadian. Aksi guyuran masif yang mengeroyok sebuah saham membuatnya babak belur dan terpuruk ke level-level fantastis. Katakanlah -15%, atau -25%. Sedemikian hebohnya aksi guyuran ini hingga menarik minat para swing trader yang hobinya menangkap pisau jatuh seperti ini. Seberapa penting ini dilakukan?

Pasar Saham Sebagai Miniatur Mentalitas Politikus, Mafia,dan Pahlawan

Pasar Saham Sebagai Miniatur Mentalitas Politikus, Mafia,dan Pahlawan
Saya tidak begitu memahami politik. Itu kata kunci utama yang harus dicatat. Ketika saya memutuskan untuk menggeluti dunia saham sekitar akhir tahun 2008 (awal bull market), saya sama sekali tidak punya gambaran apapun tentang pemerintahan, politik, dan sebagainya, karena fokus saya semata-mata pada sukses trading dan investasi. Pemikiran saya sangat sederhana saat itu : rahasia trading tentunya terletak dari kemahiran membaca grafik dan menganalisa laporan keuangan. Sayangnya setelah menjalani selama 5 tahun, saya baru menyadari bahwa ini tak sesederhana yang diperkirakan semula. Pasar saham menjadi sangat sulit terbaca karena sarat dengan yang namanya POLITIK.

Pasar Irrational Saat Darah Tumpah Ke Jalan

Pasar Irrational Saat Darah Tumpah Ke Jalan
"The markets can stay irrational longer than you can stay solvent." John Maynard Keynes

Aneh memang kalau melihat harga saham turun terus melampaui valuasi fundamental, 'valuasi' teknikal, valuasi makro, sehingga kita pastinya sangat yakin kalau harga sudah sangat murah saat itu. Tapi buat memborong banyak, alih-alih berani, yang muncul justru rasa takut kalau-kalau harga masih akan turun lebih dalam. Kalau sudah begini, mau pake jurus valuasi apapun, mau pake analisa teknikal apapun, tetap saja hasilnya jadi meragukan dan serba salah. Itulah tujuan dari pasar irrational.

10 Hal Kecil Yang Sering Membuat Perbedaan Besar Di Analisa Saham

Hal Kecil Yang Sering Membuat Perbedaan Besar
Di dunia saham dikenal dua macam analisa yaitu analisa teknikal dan analisa fundamental. Kedua macam analisa ini punya banyak sekali variannya. Varian teknikal sendiri ada 2 macam, seperti teknikal klasik dan teknikal modern. Bagaimana dengan fundamental? Ada varian market value, fair value dan ada intrinsic value, dimana masing-masing varian ini punya beberapa metode masing-masing pula. Jadi ada banyak sekali model analisa teknikal dan fundamental yang terdapat di saham. Tapi kita tidak sedang mempersoalkan itu. Apapun metodenya, apapun hasilnya, tidaklah menjadi masalah, karena masing-masing metode ada kelemahan dan kelebihannya. Tapi tahukah kamu, bahwa dengan menggunakan metode yang sama, tapi justru bisa memberikan hasil yang berbeda? Ini seperti 2 orang analis yang sama-sama menggunakan fibonacci retracement sebagai analisa teknikal, tapi hasilnya yang satu bilang apel, yang satu lagi bilang jeruk. Sesuatu yang mungkin terlihat sepele, tapi ternyata tak sesepele seperti yang dibayangkan, bahkan tak jarang berakhir fatal.

7 Alasan Merevisi Sistem Trading Yang Menjadikannya Tambah Parah - Bagian 2

7 Alasan Merevisi Sistem Trading Yang Menjadikannya Tambah Parah - Bagian 2
  1. Revisi sistem karena ingin mencocokkan swing trading ke day trading (scalping). Biasanya kita mengira bahwa day trading itu merupakan tipikal swing trading jangka pendek, padahal keduanya punya konsep yang berbeda. Swing trading itu punya konsep dan metode tersendiri yang sama sekali berbeda dengan day trading. Merevisi sistem swing trading untuk dijadikan day trading bukan ide yang bagus, bahkan nyaris fatal.

    Ada banyak scalper yang menyebut dirinya sebagai swing trader. Ini salah kaprah. Day trader itu bukan swing trader. Swing trader yang sebenarnya membutuhkan rentang waktu yang lebih lebar, biasanya harian s/d mingguan, jarang dan hampir tidak pernah dalam hitungan menit atau jam. Karena itu yang dibutuhkannya adalah grafik harian s/d mingguan, bukan menitan atau jam-an. Ini berdasarkan pengalaman saya sendiri. Saya pernah memantau pergerakan harga per tick, menit, dan jam. Saat itu saya berfikir bahwa mungkin rahasia trading itu terletak pada pergerakan harga secara menitan. Grafik seperti itu memungkinan untuk memprediksi jangka sangat pendek, tapi tak bisa memprediksi kecenderungan arah besoknya. Semua prediksi itu terhenti ketika pasar tutup di sore hari. Jika besok open gap (up / down), maka itu semua akan di luar prediksi. Sejatinya day trading itu mengambil posisi di pagi hari dan melepasnya menjelang pasar tutup, tak peduli apakah oscillator sudah overbought atau masih oversold. Bahkan dalam banyak contoh, hal itu bisa dilakukan tanpa bantuan grafik sama sekali. Metode seperti ini tak memungkinan saya untuk mengambil posisi hold hingga esok hari. Butuh berbulan-bulan lamanya sampai akhirnya saya menyadari bukan itu yang saya cari. Day trading ya day trading. Swing trading ya swing trading. Selamanya tak akan bisa bercampur.

Jebakan Korelasi, Memutus Mata Rantai Setan

Jebakan Korelasi, Memutus Rantai Setan
Awal tujuan menilai korelasi antar saham / antar indeks / antar saham-indeks adalah dalam rangka mencari analisa pendukung. Logika di balik analisa ini tidak sulit. Biasanya naik turunnya saham itu sering berbarengan satu sama lain, walaupun tidak selalu seperti itu. Yang paling kentara itu pada indeks saham, dimana jika indeks Dow merah merona, maka esoknya IHSG diprediksi akan ikut merah merona juga. Adanya interkoneksi antara bursa yang satu ke bursa yang lain dipercaya menjadi alasan kuat kenapa indeks saham luar, terutama Dow, Eropa, HangSeng, dan Nikkei, selalu dipantau. Tujuannya tidak lain tidak bukan untuk memprediksi pergerakan IHSG, yang pada ujungnya dihubungkan lagi untuk memprediksi pergerakan saham-saham BEI. Model analisa seperti ini dikenal sebagai Top Down Analysis.

7 Alasan Merevisi Sistem Trading Yang Menjadikannya Tambah Parah - Bagian 1

7 7 Alasan Merevisi Sistem Trading Yang Menjadikannya Tambah Parah - Bagian 1
Merevisi sistem trading memang akan menjadi rutinitas para trader yang ingin meningkatkan performanya di bursa saham. Berbagai pendekatan dilakukan. Banyak ide di kepala yang sudah mengantri untuk dituangkan menjadi formula-formula cuan. Pengalaman pahit dan manis menjadi alasan kenapa sebuah sistem butuh direvisi. Ibarat membuat obat, kita membutuhkan obat dengan efek terapi yang lebih baik dan efek samping yang lebih rendah. Terserah apakah harus dengan menambahkan bahan-bahan tertentu atau justru mengurangi yang sudah ada. Perlakuan yang lebih kurang sama juga terjadi di dunia saham. Menyusun sistem trading itu sama seperti menyusun formula untuk membuat obat. Namun, di antara alasan-alasan tersebut, ada 7 alasan merevisi sistem trading yang justru menjadikannya tambah parah, yaitu :

Kebingungan StopLoss, Mengeset Titik Awal

Kebingungan StopLoss, Mengeset Titik Awal
Topik stoploss sering dianggap sebagai topik yang kurang menarik dan tak membutuhkan pembahasan yang mendalam. Topik ini juga dipandang seperti setengah tabu, karena membincangkannya sama seperti hendak menyindir tentang sebuah sistem trading yang gagal. Stoploss yang kena memang menandakan sistem trading yang gagal. Dan stoploss yang berulang kali kena menandakan sistem trading yang butuh perbaikan serius. Saya sangat yakin ada banyak sekali trader di luar sana yang melakukan aktivitas trading tanpa pernah tahu dimana level stoplossnya, padahal stoploss inilah pengaman agar kegagalan dari sistem trading yang belum sempurna tidak berakibat parah ataupun fatal, sehingga ratio kecukupan modal tetap terjaga dan trader tetap bisa melanjutkan aktivitas tradingnya. (Baca juga : Safety Precaution Dalam Trading Saham.) Yang menjadi soal di prakteknya adalah bahwa stoploss ini pun sebenarnya bagian dari sistem trading juga. Artinya, sebelum mengeset titik awal sebuah stoploss, trader harus sudah memahami benar-benar sistem trading yang dijalankannya agar kegagalannya menjadi sinyal buat stoploss. Pertanyaannya, apakah bisa mengeset stoploss sedangkan sistem trading belum punya? Dimana titik ideal sebuah stoploss ini?

Panic Selling, Apa Yang Harus Dilakukan?

Panic Selling, Apa Yang Harus Dilakukan?
Selamat sore semua. Setelah sekian lama vakum tidak menulis, alhamdulillah saya bisa kembali menulis. Semoga sobat trader makin cerdas, makin canggih, dan makin jeli dalam menangkap momentum-momentum pasar. Terlalu banyak yang terjadi di situasi kehidupan saya, sehingga terpaksa rehat cukup lama. Beberapa waktu lalu ada kejadian yang nampaknya cukup menarik buat dibahas tentang kondisi pasar tanggal 28 Januari 2026, dimana IHSG jeblok -7,35%. Sekalipun saya rajin memantau kondisi pasar, saya juga tidak tahu penyebab rontoknya IHSG saat itu. Apakah harus kita tahu apa penyebabnya? Kalaulah penyebabnya memang murni masalah bencana alam, ekonomi, dan geopolitik, ya tentu kita wajib tahu. Selain daripada itu, saya yakin para pelaku pasar baru tahu penyebab rontoknya IHSG setelah mencari info soal MSCI. Tak usahlah saya membahas lagi apa dan kenapa, karena memang sudah banyak situs berita yang membahas itu. Tak kurang juga banyak pawang saham turun gunung buat membahas detil permasalahan. Tapi yang kita semua tahu pasti adalah semua informasi itu selalu datang terlambat. (Baca juga : Berharap Pada Informasi Yang Selalu Datang Terlambat). Tak ada wanti-wanti soal MSCI ini sebelumnya kan? Namun, coba kita ulik sedikit soal petanda sebelum semua ini terjadi.

Sell In May and Go Away, Strategi Investasi?

Sell In May and Go Away, Strategi Investasi?
Sell in May and Go Away merupakan salah satu strategi investasi saham yang didasarkan pada teori bahwa periode dari November ke April memiliki pertumbuhan saham yang di atas rata-rata ketimbang bulan-bulan yang lain. Kerap juga disebut sebagai indikator Halloween. Nampaknya alasan kuat di balik strategi tersebut semata-mata alasan probabilitas, dimana potensi untuk mendapatkan profit pada rentang November ke April itu lebih besar ketimbang Mei ke Oktober. Secara kebetulan, rata-rata titik terendah IHSG biasanya berada di bulan September-Oktober, sehingga rally bisa dimulai di bulan November atau sesudahnya.

Kalau sudah berbicara tentang rentang waktu, kita tak lagi berbicara soal mitos atau fakta, melainkan probabilitas. Dengan gambaran strategi yang demikian, kita bisa memahami betapa orang-orang di luar sana memburu strategi investasi hingga membahasnya ke rentang bulan-bulan tertentu. Sell In May and Go Away jelas merupakan saran untuk melepaskan saham di bulan Mei dan masuk kembali di bulan November nanti. Kita akan bahas sedikit soal ini.

Alasan Mempelajari Analisis Teknikal

Alasan Mempelajari Analisis Teknikal
Harga saham akan mengikuti valuasinya. Valuasi saham sangat ditentukan oleh kinerja emiten. Dengan mempelajari analisis fundamental, maka besar peluang untuk bisa memprediksi harga saham nantinya. Itu merupakan salah satu dari sekian banyak alasan untuk mempelajari analisis fundamental. Saya sendiri juga berkali-kali menyampaikan di blog ini bahwa hal pertama yang kudu dipelajari di saham adalah analisis fundamental. Strong recommended lebih enak didengar jika tidak mau dibilang wajib.

Buat analisis teknikal, biasanya ada banyak pendapat miring seputar ini. Analisis teknikal tidak memiliki metode buat menganalisis valuasi saham. Asumsi pergerakan saham semata-mata disandarkan pada psikologis fear and greedy. Fear menciptakan supplai, dimana orang berlomba-lomba buat jualan, sedangkan greedy menciptakan demand, dimana orang berlomba-lomba buat beli. Nilai psikologis itu diformulasikan ke dalam oscillator yang nantinya akan menandai zona psikologis overbought (terlalu tamak) dan oversold (terlalu takut). Itu jelas bukanlah valuasi saham. Dengan analisis sarat dengan penilaian subjektif seperti itu, apa sebenarnya alasan penting buat mempelajari analisis teknikal?

Belajar Trading Saham Buat Mahasiswa

Belajar Trading Saham Buat Mahasiswa
BEI semakin gencar mengenalkan pasar modal ke mahasiswa. Caranya adalah lewat seminar hingga membuat pojok bursa di universitas terkait. Mahasiswa merupakan pangsa yang sangat bagus, dimana mereka berpeluang untuk membentuk grup investasi yang membahas segala yang berkaitan dengan pasar modal. Sebagai orang-orang yang terdidik, mahasiswa diharapkan bisa menjadi role model dari sebuah generasi kekinian. Kamu belum ngetrend kalau belum trading di saham, kira-kira seperti itulah pesan yang ingin disampaikan.

Tahun 2011 BEI pernah memberikan penghargaan kepada pojok bursa kepada 4 universitas yaitu :
  • Untuk kategori Pengembangan dan Inovasi, Universitas Muhammadiyah Malang keluar sebagai pemenangnya.
  • Untuk kategori Aktivitas Edukasi dan Pemerataan Informasi, Universitas Kristen Duta Wacana dari Yogyakarta keluar sebagai pemenang.
  • Untuk kategori galeri pojok BEI teraktif berdasarkan aktivitas transaksi dari nilai transaksi, keluar sebagai pemenang adalah Universitas Surabaya.
  • Untuk kategori galeri pojok bei teraktif berdasarkan aktivitas transaksi dari jumlah rekening efek, Universitas Sangga Buana (YPKP) Bandung keluar sebagai pemenangnya.
Mengingat animo mahasiswa ke pasar modal begitu tinggi, tidak ada salahnya saya mencoba memberi beberapa saran di sini.

Breakout, Berbagi Cerita Seputar Seni Pendobrak Tembok

Breakout, Berbagi Cerita Seputar Seni Pendobrak Tembok
Metode trading yang paling banyak digunakan tidak hanya oleh trader pemula, tapi juga trader profesional, adalah metode breakout. Selain karena sangat mudah dipahami, metode ini juga disinyalir banyak menghasilkan trader-trader sukses. Kunci suksesnya berada pada kesederhanaannya. Semakin menarik karena model breakout ini ada banyak variasinya, mulai dari horizontal (seperti fractal, T3B, darvas box, fibonacci), diagonal (seperti trendline, pola), dinamis (seperti MA, O, H, L, C, VWAP), dan sebagainya.

Breakout merupakan kondisi dimana harga berhasil menembus support / resisten yang ditandai. Contoh : saham A memiliki support di 450 dan resisten di 520. Jika harga turun lebih rendah dari 450, maka disebut breakout support. Sebaliknya, jika harga naik lebih tinggi dari 520, maka disebut breakout resisten. Sengaja saya jelaskan ini lebih dahulu agar sobat mengetahui bahwa pemahaman saya tentang breakout itu sama seperti trader-trader lainnya. Saya tak punya definisi lain soal breakout.

Dunia Saham, Sebuah Panorama

Dunia Saham, Sebuah Panorama
Dunia saham itu seperti apa? Sebenarnya dunia saham itu tak jauh berbeda dengan dunia bisnis lainnya. Hanya saja saham merupakan instrumen finansial yang bisa diperjual belikan, maka ia disebut bisnis finansial. Sedangkan di bisnis riil, yang diperjual belikan itu produknya yang bukan instrumen finansial. Seberapa penting saham ini buat perusahaan? Apakah naik turun harganya mempengaruhi kinerja perusahaan?

Sekarang ini banyak perusahaan yang berupaya go public. Pembiayaan dari bursa saham diyakini jauh lebih efektif dan efisien ketimbang mengajukan pinjaman ke bank. Lagipula kekuatan modal investor bisa mencapai 10x lipat dari bank. Semakin banyak perusahaan yang terdaftar di bursa, maka semakin besar kapitalisasi bursa tersebut, yang berdampak semakin banyak pula modal yang berputar. Perusahaan hanya perlu menunjukkan kinerja terbaik agar investor tertarik buat menanam modal di situ.

Sampai di sini, mulai kerasa dunia saham itu agak sedikit berbeda, bukan? Walaupun secara konsep tak jauh berbeda dengan dunia bisnis lainnya. Saya akan ceritakan sedikit tentang ini.

Candlestick, Seni Membaca Grafik Saham

Candlestick, Seni Membaca Grafik Saham
Saya mewanti-wanti buat mereka yang baru terjun ke saham, janganlah terburu-buru buat mempelajari candlestick. Analisis candlestick memang terlihat menarik buat siapapun, tak terkecuali pemula, tapi sebenarnya ia merupakan seni analisis teknikal yang advanced. Bisa dimengerti bahwa godaan buat mempelajari seni teknikal yang satu ini sangatlah besar. Bukan apa-apa, setiap harinya kita selalu dihadapkan dengan grafik candlestick, sebagai grafik khas saham atau forex. (Grafik bar juga lazim digunakan, tapi kalah populer jika dibandingkan candlestick.) Tentunya sedikit banyak kita ingin tahu apa yang terjadi dengan saham tersebut jika sudah muncul Unique Three River Bottom, misalnya.

Bagi saya, candlestick menyumbang lebih dari 30% buat pemahaman analisis teknikal. Saat membangun sistem, filosofi di balik candlestick benar-benar sangat membantu saya. Hati-hati, jika candlestick digunakan langsung buat trading, maka akurasinya hanya 5%. Jika kurang memahami filosofinya, maka kita tidak akan paham apa yang hendak disampaikan oleh candlestick tersebut.

Pengalaman Menggunakan Amibroker

Pengalaman Menggunakan Amibroker
Pertama kali mengenal Amibroker itu di tahun 2008. Ada seorang teman yang berbaik hati membagi materi workshop sahamnya yang berbasis Amibroker kepada saya. Kebiasaan jelek saya, tiap kali berkenalan dengan sesuatu yang baru, saya selalu bersikap defensif. Tidak bisa langsung percaya atas keunggulan Amibroker dibandingkan produk yang lain. Lagipula, kebetulan saya tak punya referensi apapun soal keunggulan produk yang satu dengan yang lain.

Hari-hari selanjutnya, jadilah saya rutin mengutak-atik Amibroker. Programnya ringan dan sangat user friendly, namun tampilan grafiknya terlalu sederhana. Saya membayangkan software seperti ini bisa menampilkan grafik candlestick 3D yang keren. (Hehe..) Juga, kendati disediakan banyak indikator-indikator teknikal, di Amibroker tidak banyak disediakan built-in Explorer. Ini berbeda dengan Metastock yang justru sudah menyediakan banyak built-in Explorer di dalamnya

10 Orang Yang Tak Sadar Sedang Menggenggam Intan

Dia Yang Tak Sadar Sedang Menggenggam Intan
Orang Indonesia masih banyak yang mengalami sindrom inferior complex, yang merasa dirinya lebih inferior ketimbang bangsa lain. Tak cukup sampai di situ, mental priyayi yang sudah berpuluh-puluh tahun menggerogoti bangsa ini membuat orang Indonesia lebih suka mencari kerja gajian ketimbang berfikir buat wiraswasta atau membuka lapangan pekerjaan. Maka, tiap kali ada pembahasan soal investasi, apalagi mendengar istilah saham, yang terbayang di benaknya adalah itu merupakan profesinya orang-orang kaya, tanpa dia tahu bahwa gembel sekalipun bisa berinvestasi di saham asalkan mengerti caranya.

Ya ini memang soal cara. Tak ada satu pun investor atau trader yang berani mengklaim bahwa cara A yang benar, atau cara B yang lebih keren, dan sebagainya. Setiap orang memang membanggakan caranya masing-masing, tapi tak ada yang klaim cara mana yang paling benar. Jadi, sekalipun kamu merupakan pendatang baru di dunia saham, tak akan ada yang berani menyindir soal kebodohanmu di pasar saham, karena semua orang berpotensi buat menjadi sangat bodoh di sini, bersamaan dengan berpotensi buat menjadi sangat pintar.

Di sini saya ingin menggarisbawahi bahwa di luar sana ada orang-orang yang sebenarnya sangat potensial buat sukses di bursa saham, namun ia tak menyadari itu. Saya menyebutnya sebagai orang yang tak sadar sedang menggenggam intan.