Powered by Blogger.
Showing posts with label Strategi. Show all posts
Showing posts with label Strategi. Show all posts

Sistem Trading : Cocok Buat Saya atau Cocok Buat Pasar?

Sistem Trading : Cocok Buat Saya atau Cocok Buat Pasar?
Sistem trading ini merupakan rahasia para trader, disusun berdasarkan pengalaman dan karakter diri sendiri, dengan tujuan untuk meminimalisir resiko dan menaikkan profit. Semakin agresif karakternya, maka semakin agresif pula sistem trading yang disusun. Yang dimaksudkan agresif di sini adalah lebih aktif trading, dan jarang menunggu. Dimana terlihat ada kesempatan untuk meraih profit, walaupun dalam fluktuasi kecil sekalipun, pasti akan diambil. Bisa dibilang sebagai risk taker. Lawannya agresif adalah konservatif. Trader konservatif akan lebih sabar menunggu dan biasanya hanya memburu saham-saham dengan potensi fluktuasi yang besar. Disebut juga sebagai risk averter. Dalam banyak pendapat, apapun sistem tradingnya, asalkan cocok dengan karakter diri sendiri, maka itu sudah baik. Pertanyaannya, sebenarnya yang kita cari itu sistem trading yang cocok buat diri kita atau yang cocok buat pasar?

Pasar Irrational Saat Darah Tumpah Ke Jalan

Pasar Irrational Saat Darah Tumpah Ke Jalan
"The markets can stay irrational longer than you can stay solvent." John Maynard Keynes

Aneh memang kalau melihat harga saham turun terus melampaui valuasi fundamental, 'valuasi' teknikal, valuasi makro, sehingga kita pastinya sangat yakin kalau harga sudah sangat murah saat itu. Tapi buat memborong banyak, alih-alih berani, yang muncul justru rasa takut kalau-kalau harga masih akan turun lebih dalam. Kalau sudah begini, mau pake jurus valuasi apapun, mau pake analisa teknikal apapun, tetap saja hasilnya jadi meragukan dan serba salah. Itulah tujuan dari pasar irrational.

7 Alasan Merevisi Sistem Trading Yang Menjadikannya Tambah Parah - Bagian 2

7 Alasan Merevisi Sistem Trading Yang Menjadikannya Tambah Parah - Bagian 2
  1. Revisi sistem karena ingin mencocokkan swing trading ke day trading (scalping). Biasanya kita mengira bahwa day trading itu merupakan tipikal swing trading jangka pendek, padahal keduanya punya konsep yang berbeda. Swing trading itu punya konsep dan metode tersendiri yang sama sekali berbeda dengan day trading. Merevisi sistem swing trading untuk dijadikan day trading bukan ide yang bagus, bahkan nyaris fatal.

    Ada banyak scalper yang menyebut dirinya sebagai swing trader. Ini salah kaprah. Day trader itu bukan swing trader. Swing trader yang sebenarnya membutuhkan rentang waktu yang lebih lebar, biasanya harian s/d mingguan, jarang dan hampir tidak pernah dalam hitungan menit atau jam. Karena itu yang dibutuhkannya adalah grafik harian s/d mingguan, bukan menitan atau jam-an. Ini berdasarkan pengalaman saya sendiri. Saya pernah memantau pergerakan harga per tick, menit, dan jam. Saat itu saya berfikir bahwa mungkin rahasia trading itu terletak pada pergerakan harga secara menitan. Grafik seperti itu memungkinan untuk memprediksi jangka sangat pendek, tapi tak bisa memprediksi kecenderungan arah besoknya. Semua prediksi itu terhenti ketika pasar tutup di sore hari. Jika besok open gap (up / down), maka itu semua akan di luar prediksi. Sejatinya day trading itu mengambil posisi di pagi hari dan melepasnya menjelang pasar tutup, tak peduli apakah oscillator sudah overbought atau masih oversold. Bahkan dalam banyak contoh, hal itu bisa dilakukan tanpa bantuan grafik sama sekali. Metode seperti ini tak memungkinan saya untuk mengambil posisi hold hingga esok hari. Butuh berbulan-bulan lamanya sampai akhirnya saya menyadari bukan itu yang saya cari. Day trading ya day trading. Swing trading ya swing trading. Selamanya tak akan bisa bercampur.

7 Alasan Merevisi Sistem Trading Yang Menjadikannya Tambah Parah - Bagian 1

7 7 Alasan Merevisi Sistem Trading Yang Menjadikannya Tambah Parah - Bagian 1
Merevisi sistem trading memang akan menjadi rutinitas para trader yang ingin meningkatkan performanya di bursa saham. Berbagai pendekatan dilakukan. Banyak ide di kepala yang sudah mengantri untuk dituangkan menjadi formula-formula cuan. Pengalaman pahit dan manis menjadi alasan kenapa sebuah sistem butuh direvisi. Ibarat membuat obat, kita membutuhkan obat dengan efek terapi yang lebih baik dan efek samping yang lebih rendah. Terserah apakah harus dengan menambahkan bahan-bahan tertentu atau justru mengurangi yang sudah ada. Perlakuan yang lebih kurang sama juga terjadi di dunia saham. Menyusun sistem trading itu sama seperti menyusun formula untuk membuat obat. Namun, di antara alasan-alasan tersebut, ada 7 alasan merevisi sistem trading yang justru menjadikannya tambah parah, yaitu :

Kebingungan StopLoss, Mengeset Titik Awal

Kebingungan StopLoss, Mengeset Titik Awal
Topik stoploss sering dianggap sebagai topik yang kurang menarik dan tak membutuhkan pembahasan yang mendalam. Topik ini juga dipandang seperti setengah tabu, karena membincangkannya sama seperti hendak menyindir tentang sebuah sistem trading yang gagal. Stoploss yang kena memang menandakan sistem trading yang gagal. Dan stoploss yang berulang kali kena menandakan sistem trading yang butuh perbaikan serius. Saya sangat yakin ada banyak sekali trader di luar sana yang melakukan aktivitas trading tanpa pernah tahu dimana level stoplossnya, padahal stoploss inilah pengaman agar kegagalan dari sistem trading yang belum sempurna tidak berakibat parah ataupun fatal, sehingga ratio kecukupan modal tetap terjaga dan trader tetap bisa melanjutkan aktivitas tradingnya. (Baca juga : Safety Precaution Dalam Trading Saham.) Yang menjadi soal di prakteknya adalah bahwa stoploss ini pun sebenarnya bagian dari sistem trading juga. Artinya, sebelum mengeset titik awal sebuah stoploss, trader harus sudah memahami benar-benar sistem trading yang dijalankannya agar kegagalannya menjadi sinyal buat stoploss. Pertanyaannya, apakah bisa mengeset stoploss sedangkan sistem trading belum punya? Dimana titik ideal sebuah stoploss ini?

Panic Selling, Apa Yang Harus Dilakukan?

Panic Selling, Apa Yang Harus Dilakukan?
Selamat sore semua. Setelah sekian lama vakum tidak menulis, alhamdulillah saya bisa kembali menulis. Semoga sobat trader makin cerdas, makin canggih, dan makin jeli dalam menangkap momentum-momentum pasar. Terlalu banyak yang terjadi di situasi kehidupan saya, sehingga terpaksa rehat cukup lama. Beberapa waktu lalu ada kejadian yang nampaknya cukup menarik buat dibahas tentang kondisi pasar tanggal 28 Januari 2026, dimana IHSG jeblok -7,35%. Sekalipun saya rajin memantau kondisi pasar, saya juga tidak tahu penyebab rontoknya IHSG saat itu. Apakah harus kita tahu apa penyebabnya? Kalaulah penyebabnya memang murni masalah bencana alam, ekonomi, dan geopolitik, ya tentu kita wajib tahu. Selain daripada itu, saya yakin para pelaku pasar baru tahu penyebab rontoknya IHSG setelah mencari info soal MSCI. Tak usahlah saya membahas lagi apa dan kenapa, karena memang sudah banyak situs berita yang membahas itu. Tak kurang juga banyak pawang saham turun gunung buat membahas detil permasalahan. Tapi yang kita semua tahu pasti adalah semua informasi itu selalu datang terlambat. (Baca juga : Berharap Pada Informasi Yang Selalu Datang Terlambat). Tak ada wanti-wanti soal MSCI ini sebelumnya kan? Namun, coba kita ulik sedikit soal petanda sebelum semua ini terjadi.

Sell In May and Go Away, Strategi Investasi?

Sell In May and Go Away, Strategi Investasi?
Sell in May and Go Away merupakan salah satu strategi investasi saham yang didasarkan pada teori bahwa periode dari November ke April memiliki pertumbuhan saham yang di atas rata-rata ketimbang bulan-bulan yang lain. Kerap juga disebut sebagai indikator Halloween. Nampaknya alasan kuat di balik strategi tersebut semata-mata alasan probabilitas, dimana potensi untuk mendapatkan profit pada rentang November ke April itu lebih besar ketimbang Mei ke Oktober. Secara kebetulan, rata-rata titik terendah IHSG biasanya berada di bulan September-Oktober, sehingga rally bisa dimulai di bulan November atau sesudahnya.

Kalau sudah berbicara tentang rentang waktu, kita tak lagi berbicara soal mitos atau fakta, melainkan probabilitas. Dengan gambaran strategi yang demikian, kita bisa memahami betapa orang-orang di luar sana memburu strategi investasi hingga membahasnya ke rentang bulan-bulan tertentu. Sell In May and Go Away jelas merupakan saran untuk melepaskan saham di bulan Mei dan masuk kembali di bulan November nanti. Kita akan bahas sedikit soal ini.

Kalau Bukan Karena Sabar, Saya Akan Sulit Memahami Value Investing

Kalau Bukan Karena Sabar, Saya Akan Sulit Memahami Value Investing
Penulis : Zulbiadi Latief
Email : zulbiadi@gmail.com, akunternet@gmail.com
Blog : https://analis.co.id/


Bicara value investing pasti semua sudah tahu seperti apa gaya investasinya. Ya, value investing selalu melihat bagaimana valuasi dan nilai intrinsik dari saham yang akan dijadikan sebagai ladang investasinya. Beda halnya dengan growth investing dimana mereka lebih fokus pada pertumbuhan dari emiten, entah itu sahamnya mahal atau tidak, tidak menjadi soal bagi growth investor. Sekalipun demikian, growth investing –kata Warren Buffett – juga merupakan bagian dalam analisis seorang value investor. Ya, karena pertumbuhan dari suatu emiten juga menjadi dasar perhitungan dalam nilai intrinsik sebuah saham.

Di atas adalah gambaran umumnya soal value investing yang merupakan aliran investasi saham yang saya pilih saat ini. Sekarang, saya mau sedikit cerita soal bagaimana berlaku sabar dalam menjalani strategi trading ini, yang kata orang banyak kita bisa kaya sambil tidur dengan menerapkan strategi value investing.

Bagaimana HFT Mengetahui Support dan Resisten?

Bagaimana HFT Mengetahui Support dan Resisten?
HFT punya kemampuan untuk memanipulasi antrian bid-offer. Memanipulasi di sini semata-mata buat mengecohkan analisis lawan terhadap kekuatan bid dan offer. Jika harga hendak naik, maka yang pertama kali dilakukan justru mengguyur buat menilai kekuatan bid, dan sebaliknya. Nah, kalau hanya sekedar guyuran, maka pergerakan itu akan mudah diantisipasi oleh HFT lain. Namun, ceritanya akan beda kalau guyuran tersebut didukung dengan ganjalan besar di offer karena hal itu bisa diartikan sebagai dukungan penuh terhadap beruang. Kita tidak akan pernah tahu apakah ganjalan tersebut hanya menggertak atau benar-benar sebuah bear power. Sampai di sini kita dipaksa berfikir di luar kotak.

Bid-offer akan tersusun otomatis sedemikian rupa hingga membentuk pola-pola tertentu. Sebut saja pola bull defensif dan bear defensif. Bull defensif buat mengganjal bid saat harga turun, sedangkan bear defensif buat mengganjal offer saat harga naik. Kebalikannya adalah bull attack dan bear attack. Bull attack buat mengganjal bid saat harga naik, sedangkan bear attack buat mengganjal offer saat harga turun. Kita semua pasti sering melihat pola-pola semacam ini. Yang menjadi pertanyaannya adalah apakah ganjalan-ganjalan itu mencerminkan posisi support-resisten yang sebenarnya? Mari kita ulas bersama-sama.

Pesan Hikmat Dari Seorang Sahabat

Pesan Hikmat Dari Seorang Sahabat
Lima tahun yang lalu, seorang teman saya mengatakan pada saya bahwa saya membuat trading menjadi sangat sulit. Ia mengatakan itu setelah melihat tabel yang saya susun yang berisikan banyak sekali indikator. Alih-alih memuji, ia justru mengkritik saya. Saya memang sedang getol-getolnya menyusun metode analisis yang komplit, namun berakhir pada analisis yang rumit luar biasa, mulai dari menghitung HH-LL hingga mengelompokkannya ke dalam zona-zona dan menampilkannya ke dalam tabel, semata-mata demi mendapatkan momentum terbaik. Hasilnya? Gagal.

Saat itu saya berkeyakinan bahwa trading itu memang sulit dan jangan sesekali dianggap mudah. Maka lakukanlah analisis sulit buat menjawab persoalan yang sulit di trading , begitu pikir saya. Idealisme trading saya makin menjadi-jadi, bahkan mungkin saya sudah melangkah terlalu jauh dengan melakukan over analysis. (Note : Over analysis / analisis berlebihan itu seperti apabila ab = bc, maka b = c hanya jika a > b. Dan jika a < b, maka lihat dulu apakah jarak dari a ke b dekat atau jauh. Apabila dekat, maka pertimbangkan b mungkin sama dengan c, tapi mungkin juga tidak. Jika jauh, b sudah pasti tidak sama dengan c.). "Kamu membuat trading itu menjadi sangat sulit" mungkin ada benarnya. Over analysis saya itu hanya berakhir pada kebuntuan juga.

Disiplin Trading, Pertaruhan Kepercayaan Pada Sistem

Disiplin Trading, Pertaruhan Kepercayaan Pada Sistem
Dalam postingan saya sebelumnya, saya menuliskan bahwa kita tidak perlu disiplin pada sistem yang amburadul. Tentunya kalimat ini sangat debatable. Saya menyadari bahwa salah satu pengaman terbaik dari sebuah sistem apapun adalah kedisiplinan. Dengan kata lain, sejelek apapun sebuah sistem, tidak masalah, asalkan kita disiplin terhadap aturan. Jika memang sudah saatnya cut loss, maka jangan ragu lagi. Lakukan sesegera mungkin. Begitu pun sebaliknya, jika memang sudah saatnya take profit, lakukanlah tanpa ragu. Saya, kamu, dan mereka paham betul soal ini. Tapi, apa iya tetap disiplin sekalipun sistemnya jelek itu tidak masalah? Simak penjelasan berikut ini.

Sebelum adanya disiplin, lebih dulu harus ada aturannya. Itu dasar logikanya, karena tanpa ada aturan, maka disiplin itu sendiri tak bisa dilakukan. Kamu bisa membuat aturan tentang kapan harus cut loss, kapan harus take profit, kapan harus wait and see. Nah, aturan itu sendiri lahir daripada sebuah sistem. Sistem akan menandai apakah sebuah saham terindikasi naik atau turun. Jika sebuah saham terindikasi turun, maka jual. Sebaliknya, jika terindikasi naik, maka beli. Itulah aturannya.

Membedah HFT, Konsep Trading Ala Robot

Membedah HFT, Konsep Trading Ala Robot
Trading itu tentang probabilitas, kesempatan, dan resiko. Fundamentalis biasanya sangat ketat dalam membatasi resiko lebih dulu, barulah menilai probabilitas (yaitu dalam hal ini menghitung nilai saham), untuk selanjutnya menunggu kesempatan paling tepat untuk masuk (yaitu saat harga saham sudah undervalued). Berbeda dengan teknikalis yang biasanya lebih dulu fokus dalam menilai probabilitas (yaitu mana saham yang berpeluang naik, mana yang tidak), menemukan kesempatan terbaik saat di trading harian (yaitu dengan menilai indikator, support-resisten, trigger, dan sebagainya), lalu membatasi resiko lewat manajemen uang.

Di luar 2 konsep ini, ada satu konsep lagi yang lebih menitikberatkan pada pengambilan kesempatan (sekecil apapun itu), lalu memilih saham dengan probabilitas terbaik, dan membatasi resiko lewat manipulasi antrian bid-offer. Tehnik ini disebut HFT (High Frequency Trading). Bisa juga disebut HST (High Speed Trading).

You Gamble. Market Didn't.

You Gamble. Market Didn't.
Konsep berfikir bahwa trading itu tak lebih dari sekedar berjudi melawan pasar, sebenarnya didorong oleh kemalasan berfikir. Menganggap bahwa pasar itu terlalu sulit untuk dipahami sehingga ada yang memilih untuk mengambil kesimpulan instan saja. Trading adalah judi, dan pasar saham adalah kasino raksasa yang legal. Pemain akan selalu kalah, dan bandar selalu menang. Semakin banyak orang yang bermain, maka semakin banyak pula uang yang dihasilkan oleh bandar. Karena itu untuk memenangkan perjudian ini, cara terbaik yang bisa dilakukan adalah mereplikasi cara kerja kasino. Tahu tidak? Logika perjudian ini jauh lebih mudah dimengerti oleh kalangan trader dan lebih disenangi ketimbang logika berfikir ruwet ala analis.

7 Tanda Sistem Trading Yang Baik

7 Tanda Sistem Trading Yang Baik
Mendesain sebuah sistem trading itu pekerjaan yang betul-betul menguras pikiran. Ia merupakan rangkaian dari algoritma. Ide algoritma itu sendiri semata-mata berdasarkan penilaian pribadi atas cara kerja pasar. Semakin bagus penilaiannya, maka semakin bagus pula algoritma yang disusun, yang pada akhirnya semakin bagus pula sistem trading yang didesain nantinya. Sudah pasti kita tak akan tahu sistem seperti apa yang sedang dijalankan oleh pelaku pasar yang lain. Ada ratusan algoritma, mungkin ribuan, yang mencoba beradu keberuntungan di pasar modal. Jika algoritmanya benar, maka ia akan berhasil bertahan di pasar untuk waktu yang sangat lama. Tapi jika algoritmanya keliru, maka jangan segan-segan untuk memperbaikinya.

Darimana kita mengetahui sebuah sistem trading itu bagus atau tidak? Berikut ini saya jelaskan 7 tanda sistem trading yang baik.

Tumbangnya Si Provokator Akibat Langkahnya Sendiri

Tumbangnya Si Provokator Akibat Langkahnya Sendiri
Pasar sudah mengetahui arah lanjutan, trader tidak. Maka dalam rentang waktu yang sempit, pergerakan harga seperti permainan pingpong saja. Lalu muncullah si provokator dengan massa yang besar untuk memberikan perlawanan semata-mata hanya ingin mengetes kekuatan pasar. Ia membombardirnya dengan modal yang besar dengan alasan bahwa itulah satu-satunya cara untuk bisa memaksa pasar bergerak sesuai keinginannya. Tapi pergerakan yang besar seperti itu justru akan mengaktifkan sinyal tertentu di pasar. Selalu ada pihak yang berlawanan dengan kekuatan modal yang besar juga, bahkan mungkin jauh lebih besar. Sayangnya ini bukan soal siapa yang punya modal paling kuat, melainkan siapa yang punya otak lebih encer. Masing-masing pihak harusnya mengerti bahwa pasar itu tak bisa dipaksa. Ia bukan milik sekelompok bandar, bukan milik sekelompok sekuritas, bukan milik asing, bukan milik siapa-siapa. Ia adalah milik bersama. Maka pergerakan sebesar apapun akan berakhir pada probabilitas 50 : 50. Berharap saja bahwa level harga yang berlangsung itu bukan perangkap. Kalau ternyata itu adalah perangkap, maka pasar bisa melakukan hal yang tak terduga, berbalik arah, menyapu bersih, dan meninggalkan trader dalam penyesalan yang mendalam.

Rahasia Di Balik Gemerlapnya Bintang

Rahasia Di Balik Gemerlapnya Bintang
Banyak hal menarik yang bisa dibahas perihal perilaku manusia di bursa saham ini. Salah satunya adalah adanya keyakinan bahwa seseorang diakui mahir soal saham apabila telah lihai bermain di saham gorengan. Alasan utamanya biasanya mudah ditebak. Karena saham gorengan mampu memberikan gain yang jauh lebih besar ketimbang yang bukan gorengan. Peluang resikonya pun juga besar dan disitulah justru ujian pengakuan buat mereka yang ingin menjadi profesional di bidang ini. Apakah ini sekedar mitos? Nyaris mitos, mungkin lebih tepatnya logika yang dipelintir. Saya merasa perlu membahas sedikit soal ini agar kita sama-sama mengerti logika asli sebenarnya mengarah kemana.

Saban harinya kita selalu menemukan saham-saham yang naik dan turun tanpa kita benar-benar tahu alasan terjadinya pergerakan itu. Kita dibuat terheran-heran dan takjub. Kenaikan harga mulai dari yang biasa-biasa saja sampai dengan yang spektakuler membuat kita takjub sekaligus cemburu atas keberuntungan orang lain yang kebetulan memegang saham tersebut. Sebaliknya keruntuhan harga mulai dari yang kecil sampai dengan yang menggegerkan membuat kita bersimpati terhadap mereka yang rugi, sekaligus bersyukur karena kita tidak sedang memegang saham itu. Saham-saham yang mencetak gain pada hari itu seperti bintang-bintang di langit, tak peduli apakah ia saham gorengan atau tidak. Apa rupanya rahasia di balik gemerlapnya bintang-bintang itu?

Si Pemain Ngotot Yang Sibuk Menggertak

Pola Bunuh Diri Si Pemain Ngotot
Naik turunnya harga saham itu tidak gampang. Ada yang terus menghalang-halangi agar harga tidak naik dengan cara mengganjal offer lagi dan lagi. Sebaliknya ada juga yang mengganjal bid terus-terusan agar harga tidak turun. Kedua aksi itu berakhir pada harga yang tak kemana-mana pada hari itu, meninggalkan kebingungan pada pelaku pasar tanpa pernah tahu mau kemana harga keesokannya. Aksi semacam itu disebut sebagai gertakan (bluffing), tapi buat apa menggertak? Jika saya hanya memegang 10 lot saham AALI, apakah saya pantas digertak? Muka gile. Sama seperti gambar di samping ini, sudahlah kecil, ditekan pula. Ini butuh penjelasan yang rada panjang.

Konsep Lain Dari Akumulasi Dan Distribusi - Bagian 2

Konsep Lain Dari Akumulasi Dan Distribusi - Bagian 2

Gambar di atas merupakan pengembangan dari gambar sebelumnya di Bagian 1 yang lalu. Terlihat lebih lengkap dengan garis warna-warni menandai fase yang sedang berlangsung. Gambar ini saya peroleh dari www.readtheticker.com. Jika pada gambar bagian 1 hanya ada 4 fase (accumulation, distribution, mark up, mark down), maka di sini ada 6 fase karena ada 2 fase tambahan yaitu re-accumulation dan re-distribution.

Garis warna biru menandai daya beli yang besar dan daya jual yang lemah. Hampir semua pelaku pasar meyakini konsep bahwa fase akumulasi merupakan fase dimana pembeli yang dominan, namun dalam kenyataannya tidak begitu. Penjual bisa jadi lebih dominan, hanya saja entah kenapa harga tak lagi turun lebih jauh. Yang seperti ini sering sekali saya temukan secara kebetulan. Posisi bid offernya pun terbilang fantastis, kalau tak mau dibilang sinting. Betapa tidak, bid bisa langsing hanya berkisar ribuan lot, tapi offer bisa luar biasa tebal berkisar puluhan sampai ratusan ribu lot. Naluri trader pastinya akan berbisik dalam hati, "Habislah saham yang satu ini. Bakalan hancur." Anehnya harga tak kunjung turun. Selanjutnya sekonyong-konyong ada investor gila yang memborong offer, mengganjal bid dengan puluhan ribu lot, persis seperti seekor macan yang akan melawan kawanan gajah. Berhasil? Iya berhasil. Barisan offer tersebut mendadak tipis, bak asap tebal kena tiup angin kencang.

Konsep Lain Dari Akumulasi Dan Distribusi - Bagian 1

Konsep Lain Dari Akumulasi Dan Distribusi - Bagian 1
Konsep akumulasi-distribusi termasuk salah satu konsep dasar investasi / trading yang harus dipahami oleh setiap pelaku pasar, selain support-resisten, trend, jangka waktu, manajemen uang, dan sebagainya. Akumulasi dimaknai sebagai aksi mengumpulkan saham sebanyak yang sanggup pada saat harga dinilai masih murah / rendah. Distribusi dimaknai sebagai aksi menjual saham sebanyak yang sanggup pada saat harga dinilai sudah mahal / tinggi. Jika sebuah saham dikatakan sedang diakumulasi, maka asumsi yang pertama kali muncul adalah saham itu akan segera dibawa naik. Sebaliknya, distribusi diasumsikan saham akan segera dibawa turun. Konsep ini lebih enak buat diucapkan ketimbang dikerjakan, karena memang dalam prakteknya tak semudah yang disangkakan sebelumnya.

Mengeset Masa Tunggu Yang Tak Terbatas

Masa Tunggu
Keputusan trading tidak hanya soal beli dan jual, tapi juga tahan dan tunggu. Beli dan jual bisa dilakukan dalam waktu yang singkat, tapi tahan dan tunggu membutuhkan waktu yang lebih lama. Pada dasarnya tahan dan tunggu itu punya dasar konsep yang sama yaitu sama-sama menunggu. Bedanya, pada posisi tahan, trader menunggu buat jual, sedangkan pada posisi tunggu, trader menunggu buat beli. Karena penjelasan nantinya merupakan kombinasi antara keduanya, maka saya satukan saja sebagai Tunggu.