Powered by Blogger.
Showing posts with label Inflasi. Show all posts
Showing posts with label Inflasi. Show all posts

Ini Yang Perlu Kamu Tahu Saat Dollar Menjadi Lawan

Ini Yang Perlu Kamu Tahu Saat Dollar Menjadi Lawan
Korelasi antara IHSG dengan nilai tukar rupiah terhadap dollar memang cukup erat. Menguatnya dollar (yang berarti otomatis melemahnya rupiah) akan menjadi sentimen negatif kuat buat pasar saham. Dari dalam negeri, disebabkan banyak hutang korporasi yang dalam dollar, sehingga jika dollar menguat, maka beban hutangnya pun ikut membengkak. Dari luar negeri, penguatan dollar akan membuat US Treasury Bond menjadi menarik, sehingga investor diprediksi akan memilih menginvestasikan modalnya ke sana sampai situasi global kondusif (yang biasa kita kenal dengan istilah 'dollar pulang kampung').

Bayang-bayang dollar memang kerap menghantui pelaku pasar sejak dulu. Krisis finansial yang sudah beberapa kali menghantam bursa kita selalu dibarengi dengan penguatan dollar secara signifikan. Tapi ada kalanya IHSG bisa melawan penguatan dollar tersebut.

Saya ambil contoh sekitar akhir bulan Agustus s/d awal September 2015 lalu dimana banyak muncul 'keanehan' di pasar saham. 'Keanehan' itu lazim disebut sebagai anomali. Saat itu rupiah bergerak terus melemah, namun pelemahannya tidak lagi diikuti oleh IHSG, karena IHSG justru bergerak naik melawan arah. Saham-saham berlompatan kegirangan seperti anak-anak kecil bermain hujan. Para trader yang masih asik wait and see -karena melulu memonitor penguatan dollar- hanya bisa memendam rasa dongkol karena kehilangan kesempatan memborong saham di harga rendah. Lalu dengan cepat mencari tahu apa penyebab rebound tersebut. Diketahuilah bahwa ada isu buyback tanpa RUPS yang digelontorkan OJK atas himbauan dari Menteri BUMN kepada emiten sebagai aksi buat menyelamatkan kejatuhan harga saham.

7 Pintu Masuk Analisis Saham

7 Pintu Masuk Analisis Saham
Bagaimana cara menganalisis saham? Darimana saya harus memulainya? Kenapa harus mulai dari situ? Ada banyak pertanyaan-pertanyaan mendasar seputar analisis saham, pertanyaan yang tak pernah jauh-jauh dari "Gimana caranya? Gimana caranya? Gimana caranya?". Menyadari bahwa pengetahuan masih terbatas, banyaknya pertanyaan yang tak terjawab itu menjadikan banyak trader yang tak hanya kehilangan fokus, tapi juga kehilangan semangat di awal-awal belajar saham. Lebih miris lagi, ada yang sudah bertahun-tahun mempelajari saham, namun akhirnya memutuskan untuk berhenti.

Realitanya memang analisis saham itu sulit, kok. Saya akui itu. Kata kunci untuk memulai analisis ini adalah kamu harus mengakui bahwa analisis saham itu sulit. Jika kamu terlalu angkuh buat mengakui itu, biasanya dalam hitungan 1-2 tahun, kamu akan mundur teratur dari dunia saham. Namun, kamu juga harus pahami, sesulit apapun sesuatu hal, pasti ada cara buat melakukannya. Dengan kata lain, sesuatu itu dikatakan sulit karena kita belum tau caranya. Kamu hanya perlu menemukan caranya.

Saya mempelajari teori soal saham sejak tahun 2000, namun prakteknya baru dikerjakan tahun 2009. Mencoba memahami dinamika saham lewat tulisan-tulisan di buku, forum saham, membuat saya cukup yakin bisa menjalani profesi ini dengan mulus dan lancar. Namun begitu terjun ke sini, saya digebukin hingga bonyok. Kenyataan tak seindah harapan. Ternyata buku-buku masih belum bercerita banyak (atau mungkin saya yang belum terlalu banyak membaca buku). Penyebab utamanya adalah tak lain tak bukan karena saya tidak tahu pintu masuk terbaik analisis saham.

Prinsip-Prinsip Dasar Investasi - Bagian 4

Prinsip-Prinsip Dasar Investasi - Bagian 4
Tingkat Inflasi

Inflasi berkaitan dengan erat dengan nilai (valuasi) sebuah instrumen investasi, entah itu saham ataupun obligasi, bahkan berkaitan erat dengan nilai dari mata uang itu sendiri. Ia ditandai dengan meningkatnya harga barang-barang yang terutama sekali di bahan pokok. Semakin tinggi tingkat inflasi, maka semakin rendah nilai saham, obligasi, dan mata uang, karena tingkat pengembalian menjadi lebih rendah. Misalnya, sebuah perusahaan memproduksi sepatu seharga Rp30.000 ,- per pasang. Kalau inflasi terjadi, maka perusahaan terpaksa menaikkan harga jual sepatu menjadi Rp35.000,- Kenaikan harga ini akan membuat pembeli harus merogoh kocek lebih banyak untuk mendapatkan sepasang sepatu yang sama. Dengan sendirinya jumlah pembeli akan menurun yang berakibat pada menurunnya pendapatan perusahaan sepatu tersebut. Jika pendapatan menurun, laba pun ikut menurun, sehingga harga sahamnya pun ikut turun.

Perubahan nilai ini bersifat sulit ditebak. Kajian analisis soal dampak inflasi merupakan prediksi dari pembahasan yang mendalam. Misalnya, jika hari ini harga beras Rp12.000,- per kg, maka berapakah harga beras 7 bulan lagi? Tidak ada yang tahu. Tapi bisa dicari tahu dengan cara mencari data kecukupan cadangan beras, beban import (termasuk di dalamnya kurs rupiah terhadap dollar), beban transportasi (termasuk di dalamnya harga BBM), ada tidaknya subsidi pertanian, kemungkinan operasi pasar untuk antisipasi, dan sebagainya. Semakin akurat kamu memprediksi perubahan nilai tersebut, maka semakin akurat pula kamu memprediksi berapa nilai yang pantas dibayarkan untuk sebuah instrumen investasi.

BBM, Outlook Ekonomi Ditinjau Darinya - Bagian 2

Mestinya memang BBM RON 88 tidak semahal itu. Untuk jelasnya, saya tampilkan pada illustrasi tabel di bawah ini.

Illustrasi Perhitungan HPP Pertamax dan Premium
Illustrasi Perhitungan HPP Pertamax dan Premium

Saya menghitung HPP pertamax dan premium pada 2 tabel yang berbeda karena nilai ICP-nya berbeda. Hari ini tanggal 01 Januari 2015 harga premium resmi turun dari Rp8500 menjadi Rp7600, yaitu pada ICP $60 dengan kurs IDR-USD Rp12.200-12.300, yang nantinya bisa menjawab kenapa harga premium sekarang lebih rendah padahal sudah tidak ada subsidi. Sekarang perhatikanlah. Sebelumnya saya menghitung bahwa HPP Premium adalah Rp10.136 per liternya. Hitungan ini menggunakan ICP bulan Oktober 2015 yaitu $83.72. Ini bukan ICP buat Premium, melainkan Pertamax. Untuk Premium, nilainya dikurangi 14% dari ICP Pertamax, sehingga nilainya menjadi $83.72 - (14% x $83.72) = $72.

BBM, Outlook Ekonomi Ditinjau Darinya - Bagian 1

BBM, Outlook Ekonomi Ditinjau Darinya - Bagian 1
Harga BBM (Bahan Bakar Minyak) telah turun terhitung mulai hari ini tanggal 01 Januari 2015. Ini mungkin menjadi kado yang manis buat rakyat Indonesia, namun belum terlalu manis karena harga premium masih di atas harga sebelum kenaikan, yaitu Rp7600 vs Rp6500. Sebelumnya awal November 2014 lalu Pemerintah menaikkan harga premium dari Rp6500 menjadi Rp8500 dan Pemerintah mengatakan itu sebenarnya masih ada subsidi Rp1500. Nah, saat ini Pemerintah mengatakan premium tidak akan disubsidi sama sekali, lalu harganya turun menjadi Rp7600. Bagaimana ini bisa terjadi? Kenapa premium subsidi lebih mahal harganya ketimbang yang tidak disubsidi? Pembahasan ini berguna nantinya untuk memprediksi outlook ekonomi 2015.

Mengenal Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index) dan Tingkat Inflasi Inti (Core Inflation Rate)

Indeks Harga Konsumen (IHK) diartikan sebagai indeks untuk mengukur tinggi rendahnya biaya hidup di sebuah negara. Makin tinggi nilai ini, maka tinggi pula biaya hidup di sana. IHK mencakup beragam produk dan servis seperti biaya pendidikan, sandang, pangan, papan, transportasi, energi, dan banyak lagi. Logikanya IHK ini sudah menjadi gambaran tingkat inflasi. Tapi dalam prakteknya analis lebih suka menggunakan nilai Tingkat Inflasi Inti (TII). TII ini sebenarnya IHK juga, tapi biaya makanan dan bahan bakar dikeluarkan untuk mendapatkan nilai yang sebenarnya. Kenapa 2 kategori itu dikeluarkan? Karena keduanya sering sekali bergerak lebih volatil ketimbang kategori yang lain.