Powered by Blogger.

7 Alasan Merevisi Sistem Trading Yang Menjadikannya Tambah Parah - Bagian 1

7 7 Alasan Merevisi Sistem Trading Yang Menjadikannya Tambah Parah - Bagian 1
Merevisi sistem trading memang akan menjadi rutinitas para trader yang ingin meningkatkan performanya di bursa saham. Berbagai pendekatan dilakukan. Banyak ide di kepala yang sudah mengantri untuk dituangkan menjadi formula-formula cuan. Pengalaman pahit dan manis menjadi alasan kenapa sebuah sistem butuh direvisi. Ibarat membuat obat, kita membutuhkan obat dengan efek terapi yang lebih baik dan efek samping yang lebih rendah. Terserah apakah harus dengan menambahkan bahan-bahan tertentu atau justru mengurangi yang sudah ada. Perlakuan yang lebih kurang sama juga terjadi di dunia saham. Menyusun sistem trading itu sama seperti menyusun formula untuk membuat obat. Namun, di antara alasan-alasan tersebut, ada 7 alasan merevisi sistem trading yang justru menjadikannya tambah parah, yaitu :

Kebingungan StopLoss, Mengeset Titik Awal

Kebingungan StopLoss, Mengeset Titik Awal
Topik stoploss sering dianggap sebagai topik yang kurang menarik dan tak membutuhkan pembahasan yang mendalam. Topik ini juga dipandang seperti setengah tabu, karena membincangkannya sama seperti hendak menyindir tentang sebuah sistem trading yang gagal. Stoploss yang kena memang menandakan sistem trading yang gagal. Dan stoploss yang berulang kali kena menandakan sistem trading yang butuh perbaikan serius. Saya sangat yakin ada banyak sekali trader di luar sana yang melakukan aktivitas trading tanpa pernah tahu dimana level stoplossnya, padahal stoploss inilah pengaman agar kegagalan dari sistem trading yang belum sempurna tidak berakibat parah ataupun fatal, sehingga ratio kecukupan modal tetap terjaga dan trader tetap bisa melanjutkan aktivitas tradingnya. (Baca juga : Safety Precaution Dalam Trading Saham.) Yang menjadi soal di prakteknya adalah bahwa stoploss ini pun sebenarnya bagian dari sistem trading juga. Artinya, sebelum mengeset titik awal sebuah stoploss, trader harus sudah memahami benar-benar sistem trading yang dijalankannya agar kegagalannya menjadi sinyal buat stoploss. Pertanyaannya, apakah bisa mengeset stoploss sedangkan sistem trading belum punya? Dimana titik ideal sebuah stoploss ini?

Panic Selling, Apa Yang Harus Dilakukan?

Panic Selling, Apa Yang Harus Dilakukan?
Selamat sore semua. Setelah sekian lama vakum tidak menulis, alhamdulillah saya bisa kembali menulis. Semoga sobat trader makin cerdas, makin canggih, dan makin jeli dalam menangkap momentum-momentum pasar. Terlalu banyak yang terjadi di situasi kehidupan saya, sehingga terpaksa rehat cukup lama. Beberapa waktu lalu ada kejadian yang nampaknya cukup menarik buat dibahas tentang kondisi pasar tanggal 28 Januari 2026, dimana IHSG jeblok -7,35%. Sekalipun saya rajin memantau kondisi pasar, saya juga tidak tahu penyebab rontoknya IHSG saat itu. Apakah harus kita tahu apa penyebabnya? Kalaulah penyebabnya memang murni masalah bencana alam, ekonomi, dan geopolitik, ya tentu kita wajib tahu. Selain daripada itu, saya yakin para pelaku pasar baru tahu penyebab rontoknya IHSG setelah mencari info soal MSCI. Tak usahlah saya membahas lagi apa dan kenapa, karena memang sudah banyak situs berita yang membahas itu. Tak kurang juga banyak pawang saham turun gunung buat membahas detil permasalahan. Tapi yang kita semua tahu pasti adalah semua informasi itu selalu datang terlambat. (Baca juga : Berharap Pada Informasi Yang Selalu Datang Terlambat). Tak ada wanti-wanti soal MSCI ini sebelumnya kan? Namun, coba kita ulik sedikit soal petanda sebelum semua ini terjadi.

Sell In May and Go Away, Strategi Investasi?

Sell In May and Go Away, Strategi Investasi?
Sell in May and Go Away merupakan salah satu strategi investasi saham yang didasarkan pada teori bahwa periode dari November ke April memiliki pertumbuhan saham yang di atas rata-rata ketimbang bulan-bulan yang lain. Kerap juga disebut sebagai indikator Halloween. Nampaknya alasan kuat di balik strategi tersebut semata-mata alasan probabilitas, dimana potensi untuk mendapatkan profit pada rentang November ke April itu lebih besar ketimbang Mei ke Oktober. Secara kebetulan, rata-rata titik terendah IHSG biasanya berada di bulan September-Oktober, sehingga rally bisa dimulai di bulan November atau sesudahnya.

Kalau sudah berbicara tentang rentang waktu, kita tak lagi berbicara soal mitos atau fakta, melainkan probabilitas. Dengan gambaran strategi yang demikian, kita bisa memahami betapa orang-orang di luar sana memburu strategi investasi hingga membahasnya ke rentang bulan-bulan tertentu. Sell In May and Go Away jelas merupakan saran untuk melepaskan saham di bulan Mei dan masuk kembali di bulan November nanti. Kita akan bahas sedikit soal ini.

Alasan Mempelajari Analisis Teknikal

Alasan Mempelajari Analisis Teknikal
Harga saham akan mengikuti valuasinya. Valuasi saham sangat ditentukan oleh kinerja emiten. Dengan mempelajari analisis fundamental, maka besar peluang untuk bisa memprediksi harga saham nantinya. Itu merupakan salah satu dari sekian banyak alasan untuk mempelajari analisis fundamental. Saya sendiri juga berkali-kali menyampaikan di blog ini bahwa hal pertama yang kudu dipelajari di saham adalah analisis fundamental. Strong recommended lebih enak didengar jika tidak mau dibilang wajib.

Buat analisis teknikal, biasanya ada banyak pendapat miring seputar ini. Analisis teknikal tidak memiliki metode buat menganalisis valuasi saham. Asumsi pergerakan saham semata-mata disandarkan pada psikologis fear and greedy. Fear menciptakan supplai, dimana orang berlomba-lomba buat jualan, sedangkan greedy menciptakan demand, dimana orang berlomba-lomba buat beli. Nilai psikologis itu diformulasikan ke dalam oscillator yang nantinya akan menandai zona psikologis overbought (terlalu tamak) dan oversold (terlalu takut). Itu jelas bukanlah valuasi saham. Dengan analisis sarat dengan penilaian subjektif seperti itu, apa sebenarnya alasan penting buat mempelajari analisis teknikal?

Belajar Trading Saham Buat Mahasiswa

Belajar Trading Saham Buat Mahasiswa
BEI semakin gencar mengenalkan pasar modal ke mahasiswa. Caranya adalah lewat seminar hingga membuat pojok bursa di universitas terkait. Mahasiswa merupakan pangsa yang sangat bagus, dimana mereka berpeluang untuk membentuk grup investasi yang membahas segala yang berkaitan dengan pasar modal. Sebagai orang-orang yang terdidik, mahasiswa diharapkan bisa menjadi role model dari sebuah generasi kekinian. Kamu belum ngetrend kalau belum trading di saham, kira-kira seperti itulah pesan yang ingin disampaikan.

Tahun 2011 BEI pernah memberikan penghargaan kepada pojok bursa kepada 4 universitas yaitu :
  • Untuk kategori Pengembangan dan Inovasi, Universitas Muhammadiyah Malang keluar sebagai pemenangnya.
  • Untuk kategori Aktivitas Edukasi dan Pemerataan Informasi, Universitas Kristen Duta Wacana dari Yogyakarta keluar sebagai pemenang.
  • Untuk kategori galeri pojok BEI teraktif berdasarkan aktivitas transaksi dari nilai transaksi, keluar sebagai pemenang adalah Universitas Surabaya.
  • Untuk kategori galeri pojok bei teraktif berdasarkan aktivitas transaksi dari jumlah rekening efek, Universitas Sangga Buana (YPKP) Bandung keluar sebagai pemenangnya.
Mengingat animo mahasiswa ke pasar modal begitu tinggi, tidak ada salahnya saya mencoba memberi beberapa saran di sini.

Breakout, Berbagi Cerita Seputar Seni Pendobrak Tembok

Breakout, Berbagi Cerita Seputar Seni Pendobrak Tembok
Metode trading yang paling banyak digunakan tidak hanya oleh trader pemula, tapi juga trader profesional, adalah metode breakout. Selain karena sangat mudah dipahami, metode ini juga disinyalir banyak menghasilkan trader-trader sukses. Kunci suksesnya berada pada kesederhanaannya. Semakin menarik karena model breakout ini ada banyak variasinya, mulai dari horizontal (seperti fractal, T3B, darvas box, fibonacci), diagonal (seperti trendline, pola), dinamis (seperti MA, O, H, L, C, VWAP), dan sebagainya.

Breakout merupakan kondisi dimana harga berhasil menembus support / resisten yang ditandai. Contoh : saham A memiliki support di 450 dan resisten di 520. Jika harga turun lebih rendah dari 450, maka disebut breakout support. Sebaliknya, jika harga naik lebih tinggi dari 520, maka disebut breakout resisten. Sengaja saya jelaskan ini lebih dahulu agar sobat mengetahui bahwa pemahaman saya tentang breakout itu sama seperti trader-trader lainnya. Saya tak punya definisi lain soal breakout.

Dunia Saham, Sebuah Panorama

Dunia Saham, Sebuah Panorama
Dunia saham itu seperti apa? Sebenarnya dunia saham itu tak jauh berbeda dengan dunia bisnis lainnya. Hanya saja saham merupakan instrumen finansial yang bisa diperjual belikan, maka ia disebut bisnis finansial. Sedangkan di bisnis riil, yang diperjual belikan itu produknya yang bukan instrumen finansial. Seberapa penting saham ini buat perusahaan? Apakah naik turun harganya mempengaruhi kinerja perusahaan?

Sekarang ini banyak perusahaan yang berupaya go public. Pembiayaan dari bursa saham diyakini jauh lebih efektif dan efisien ketimbang mengajukan pinjaman ke bank. Lagipula kekuatan modal investor bisa mencapai 10x lipat dari bank. Semakin banyak perusahaan yang terdaftar di bursa, maka semakin besar kapitalisasi bursa tersebut, yang berdampak semakin banyak pula modal yang berputar. Perusahaan hanya perlu menunjukkan kinerja terbaik agar investor tertarik buat menanam modal di situ.

Sampai di sini, mulai kerasa dunia saham itu agak sedikit berbeda, bukan? Walaupun secara konsep tak jauh berbeda dengan dunia bisnis lainnya. Saya akan ceritakan sedikit tentang ini.

Candlestick, Seni Membaca Grafik Saham

Candlestick, Seni Membaca Grafik Saham
Saya mewanti-wanti buat mereka yang baru terjun ke saham, janganlah terburu-buru buat mempelajari candlestick. Analisis candlestick memang terlihat menarik buat siapapun, tak terkecuali pemula, tapi sebenarnya ia merupakan seni analisis teknikal yang advanced. Bisa dimengerti bahwa godaan buat mempelajari seni teknikal yang satu ini sangatlah besar. Bukan apa-apa, setiap harinya kita selalu dihadapkan dengan grafik candlestick, sebagai grafik khas saham atau forex. (Grafik bar juga lazim digunakan, tapi kalah populer jika dibandingkan candlestick.) Tentunya sedikit banyak kita ingin tahu apa yang terjadi dengan saham tersebut jika sudah muncul Unique Three River Bottom, misalnya.

Bagi saya, candlestick menyumbang lebih dari 30% buat pemahaman analisis teknikal. Saat membangun sistem, filosofi di balik candlestick benar-benar sangat membantu saya. Hati-hati, jika candlestick digunakan langsung buat trading, maka akurasinya hanya 5%. Jika kurang memahami filosofinya, maka kita tidak akan paham apa yang hendak disampaikan oleh candlestick tersebut.

Pengalaman Menggunakan Amibroker

Pengalaman Menggunakan Amibroker
Pertama kali mengenal Amibroker itu di tahun 2008. Ada seorang teman yang berbaik hati membagi materi workshop sahamnya yang berbasis Amibroker kepada saya. Kebiasaan jelek saya, tiap kali berkenalan dengan sesuatu yang baru, saya selalu bersikap defensif. Tidak bisa langsung percaya atas keunggulan Amibroker dibandingkan produk yang lain. Lagipula, kebetulan saya tak punya referensi apapun soal keunggulan produk yang satu dengan yang lain.

Hari-hari selanjutnya, jadilah saya rutin mengutak-atik Amibroker. Programnya ringan dan sangat user friendly, namun tampilan grafiknya terlalu sederhana. Saya membayangkan software seperti ini bisa menampilkan grafik candlestick 3D yang keren. (Hehe..) Juga, kendati disediakan banyak indikator-indikator teknikal, di Amibroker tidak banyak disediakan built-in Explorer. Ini berbeda dengan Metastock yang justru sudah menyediakan banyak built-in Explorer di dalamnya