Powered by Blogger.
Showing posts with label Ekonomi. Show all posts
Showing posts with label Ekonomi. Show all posts

Ekonom Dadakan, Trader Dadakan, Dan Paradoks Bursa Saham

Ekonom Dadakan, Trader Dadakan, Dan Paradoks Bursa Saham
Andai rahasia bursa itu semata-mata berada pada laporan keuangan, maka para akuntan pastinya menjadi investor terkaya di dunia. Andai rahasia bursa itu semata-mata berada pada software, maka para programmer tentunya menjadi orang-orang terkaya di dunia. Andai rahasia bursa itu berada pada berita-berita yang tengah terjadi, maka para jurnalis tentunya menjadi trader-trader paling beruntung di dunia. Siklus normal bursa saham dari mulai periode bullish hingga bearish membuat pelaku pasar mau tidak mau harus memahami situasi dan kondisi ekonomi yang melatarbelakangi siklus tersebut. Semua punya tujuan yang sama. Sama-sama ingin mengetahui rahasia asli dari bursa saham.

Saat ini rupiah masih bertengger di Rp14150 terhadap dollar, dan mendadak banyak orang yang menjadi pakar ekonomi. Seolah-olah memahami, seolah-olah mengetahui duduk persoalannya. Ekonom dadakan ini dengan mudahnya melemparkan tuduhan kepada pemerintah, seolah-olah rupiah adalah satu-satunya mata uang di dunia yang melemah terhadap dollar. Jika sebuah analisis tidak adil dalam mengolah data, maka analisis itu dengan mudah sekali dipatahkan.

Jangankan di Indonesia, yang jelas-jelas warga negara AS sendiri pun bisa jadi tak suka dollarnya menguat. Bisa saja kita membahas soal ini sampai berpuluh-puluh artikel, tapi kita mesti tahu bahwa pasar saham bisa meresponnya dengan sangat berbeda sekali. Segala analisis ekonomi itu akan kembali mentah jika dihadapkan dengan pasar saham. Ia merupakan paradoks dan ilmu ekonomi bukanlah satu-satunya cara buat memahami itu semua.

2016, Menantikan Bangunnya Raksasa Tidur

2016, Menantikan Bangunnya Raksasa Tidur
Pada Januari 2016 silam, seorang teman bertanya pada saya tentang bagaimana masa depan pasar saham ini. IHSG sedang bergerak di fase koreksi minor dengan target yang belum diketahui. Dollar masih bertengger di Rp13800-an. Pertumbuhan ekonomi dalam negeri yang semula ditargetkan 5,4% ternyata meleset dan harus puas di 4,7%. Walaupun meleset, nilai ini ternyata masih jauh lebih baik ketimbang pertumbuhan ekonomi global yang hanya 2%. Fed rate yang semula diperkirakan tak berani dinaikkan ternyata malah naik menjadi 0.25% membuat BI ketar-ketir antara mempertahankan SBI di level yang tetap 7,5% buat mengimbangi Fed rate atau justru menurunkannya buat memacu pertumbuhan ekonomi di dalam negeri. Menurunkan SBI di saat dollar sedang menguat bukanlah ide yang bagus. Maka penurunan SBI hanya bagus saat dollar diprediksi akan melemah. Apakah BI berani memprediksi begitu? Kelihatannya tak ada yang berani memprediksi dollar akan melemah, tak terkecuali BI. Teman saya itu membaca berita bahwa Soros bilang akan terjadi resesi ekonomi akibat kondisi ekonomi China yang awut-awutan dan devaluasi mata uang Yuan.

Antara Jokowi, Dollar dan Siklus Ekonomi - Bagian 2

Siklus Pasar vs Siklus Ekonomi dan Rotasi Sektoral

Kalau kedua grafik sebelumnya digabung menjadi satu, maka hasilnya kira-kira akan menjadi seperti gambar di atas.

Tahun 2015 merupakan tahun dimana pasar sangat sulit diprediksi. Berdasarkan diagram siklus ekonomi, saat harga komoditas rata-rata sudah cukup rendah, maka diasumsikan siklus ekonomi sedang berada di tahap Kontraksi Awal (Early Contraction). Tapi cobalah perhatikan IHSG pada rentang waktu Oktober 2014 s/d April 2015. Kita bisa melihat IHSG sedang giat-giatnya menanjak di saat harga komoditas sedang anjlok. Lantas, bagaimana caranya kita bisa memahami bahwa itu di fase Kontraksi Awal? Sulit, karena secara logika Kontraksi Awal itu merupakan pergerakan turun sebelum rebound kuat. Lha, saat itu IHSG sedang bull rally kok, sehingga fase Kontraksi Awal kurang tepat buat kondisi saat itu. Itulah sebabnya jadi sangat sulit diprediksi. Lagipula tampaknya Middle Expansion lebih cocok disematkan karena saat itu untuk mencapai pertumbuhan laba yang tinggi itu sudah sangat sulit. Harga saham cenderung kemahalan. Ini hanya menarik buat ditradingkan, tapi tak begitu menarik buat diinvestasikan.

Antara Jokowi, Dollar dan Siklus Ekonomi - Bagian 1

Psikologi Siklus Pasar

Sekitar bulan Oktober 2015 lalu, para pelaku pasar banyak yang merasa sangat pesimis akan masa depan pasar saham. IHSG sudah terkoreksi -27% sejak April 2015. Tak ayal banyak hujatan dan makian diarahkan pada pemerintahan yang baru, Jokowi-JK, yang dianggap gagal dalam menjaga situasi ekonomi yang kondusif, bahkan kekisruhan politik dianggap sebagai biang kerok terpuruknya IHSG. (Baca juga : Politikus yang bermain saham). Dollar sudah menyentuh Rp14700, dan sekonyong-konyong bermunculan prediksi bahwa dollar akan menembus Rp15000, bahkan mungkin ke Rp25000. Model prediksi dadakan seperti ini sudah seperti ritual rutin pelaku pasar. Jika mayoritas pesimis, maka IHSG akan ditawar ke harga yang lebih rendah, sambil memprediksi dollar, plus menyalahkan pemerintah. Kenapa menyalahkan pemerintah? Sederhana saja, supaya dianggap cerdas. Jika mayoritas optimis, maka IHSG akan ditawar ke harga yang lebih tinggi.