Powered by Blogger.
Showing posts with label Politik. Show all posts
Showing posts with label Politik. Show all posts

Pasar Saham Sebagai Miniatur Mentalitas Politikus, Mafia,dan Pahlawan

Pasar Saham Sebagai Miniatur Mentalitas Politikus, Mafia,dan Pahlawan
Saya tidak begitu memahami politik. Itu kata kunci utama yang harus dicatat. Ketika saya memutuskan untuk menggeluti dunia saham sekitar akhir tahun 2008 (awal bull market), saya sama sekali tidak punya gambaran apapun tentang pemerintahan, politik, dan sebagainya, karena fokus saya semata-mata pada sukses trading dan investasi. Pemikiran saya sangat sederhana saat itu : rahasia trading tentunya terletak dari kemahiran membaca grafik dan menganalisa laporan keuangan. Sayangnya setelah menjalani selama 5 tahun, saya baru menyadari bahwa ini tak sesederhana yang diperkirakan semula. Pasar saham menjadi sangat sulit terbaca karena sarat dengan yang namanya POLITIK.

Analisis Top Down dan Bottom Up

Analisa Top Down dan Bottom Up
Ada lebih dari 492 saham di BEI, kira-kira mana yang akan kita pilih sebagai portofolio? Pastinya kita selalu ingin memilih yang terbaik. Nah, yang terbaik itu biasanya memiliki 2 ciri yaitu berfundamental bagus dan berteknikal bagus. Namun, sebelum sampai ke soal fundamental-teknikal, lebih dulu ada metode analisis yang lazim diamalkan oleh pelaku pasar yaitu analisis top down dan bottom up.

Analisis Top Down (Atas ke Bawah)
Yaitu analisis dari makro ke mikro. Situasi ekonomi global dan domestik lebih dulu dinilai sebelum menentukan sektor apa yang bakalan memiliki prospek lebih cerah ketimbang sektor lainnya. Contoh : saat China sedang getol-getolnya memborong batubara, maka harga batubara terkerek naik. Pelaku pasar langsung melirik saham-saham sektor ini sebagai incaran, mengecek fundamental dan teknikalnya, dan sebagainya.

Analisis Bottom Up (Bawah ke Atas)
Yaitu analisis dari mikro ke makro. Lebih dulu mengecek kondisi fundamental dan teknikal, lalu mempertimbangkan pengaruh inflasi, suku bunga, permintaan pasar, dan sebagainya yang diperkirakan punya pengaruh langsung terhadap kinerja perusahaan.

Antara Jokowi, Dollar dan Siklus Ekonomi - Bagian 2

Siklus Pasar vs Siklus Ekonomi dan Rotasi Sektoral

Kalau kedua grafik sebelumnya digabung menjadi satu, maka hasilnya kira-kira akan menjadi seperti gambar di atas.

Tahun 2015 merupakan tahun dimana pasar sangat sulit diprediksi. Berdasarkan diagram siklus ekonomi, saat harga komoditas rata-rata sudah cukup rendah, maka diasumsikan siklus ekonomi sedang berada di tahap Kontraksi Awal (Early Contraction). Tapi cobalah perhatikan IHSG pada rentang waktu Oktober 2014 s/d April 2015. Kita bisa melihat IHSG sedang giat-giatnya menanjak di saat harga komoditas sedang anjlok. Lantas, bagaimana caranya kita bisa memahami bahwa itu di fase Kontraksi Awal? Sulit, karena secara logika Kontraksi Awal itu merupakan pergerakan turun sebelum rebound kuat. Lha, saat itu IHSG sedang bull rally kok, sehingga fase Kontraksi Awal kurang tepat buat kondisi saat itu. Itulah sebabnya jadi sangat sulit diprediksi. Lagipula tampaknya Middle Expansion lebih cocok disematkan karena saat itu untuk mencapai pertumbuhan laba yang tinggi itu sudah sangat sulit. Harga saham cenderung kemahalan. Ini hanya menarik buat ditradingkan, tapi tak begitu menarik buat diinvestasikan.

Antara Jokowi, Dollar dan Siklus Ekonomi - Bagian 1

Psikologi Siklus Pasar

Sekitar bulan Oktober 2015 lalu, para pelaku pasar banyak yang merasa sangat pesimis akan masa depan pasar saham. IHSG sudah terkoreksi -27% sejak April 2015. Tak ayal banyak hujatan dan makian diarahkan pada pemerintahan yang baru, Jokowi-JK, yang dianggap gagal dalam menjaga situasi ekonomi yang kondusif, bahkan kekisruhan politik dianggap sebagai biang kerok terpuruknya IHSG. (Baca juga : Politikus yang bermain saham). Dollar sudah menyentuh Rp14700, dan sekonyong-konyong bermunculan prediksi bahwa dollar akan menembus Rp15000, bahkan mungkin ke Rp25000. Model prediksi dadakan seperti ini sudah seperti ritual rutin pelaku pasar. Jika mayoritas pesimis, maka IHSG akan ditawar ke harga yang lebih rendah, sambil memprediksi dollar, plus menyalahkan pemerintah. Kenapa menyalahkan pemerintah? Sederhana saja, supaya dianggap cerdas. Jika mayoritas optimis, maka IHSG akan ditawar ke harga yang lebih tinggi.

Politikus Yang Bermain Saham

Politikus Yang Bermain Saham
Tahun 2014 merupakan tahun pemilu. Tanggal 09 April 2014 dilangsungkan pemilu legislatif dan 09 Juli 2014 dilangsungkan pemilu presiden dan wakil presiden. Naiknya suhu politik mulai terasa ketika PDI-P mengusung Jokowi sebagai capres sejak pertengahan Maret 2014 dan harus berhadapan dengan kubu Gerindra yang mengusung Prabowo. Hari dimana pengumuman itu dilakukan, tepatnya 14 Maret 2014 IHSG rally dengan perkasa dan mencatatkan kenaikan +3,2%. Sampai ini hari kejadian itu dikenal sebagai Jokowi Effect. Sejak itu berbagai dinamika yang terjadi di bursa saham di tahun 2014 selalu dikait-kaitkan dengan suhu politk ini.