Powered by Blogger.
Showing posts with label FNBS. Show all posts
Showing posts with label FNBS. Show all posts

Mencermati Aktivitas Aksi Beli dan Jual Asing - Bagian 2

Mencermati Aktivitas Aksi Beli dan Jual Asing
Buat yang belum membaca bagian 1 dari tulisan ini, silahkan klik link ini.

Kebetulan saya membaca sebuah komentar seorang user di sebuah forum yang menulis kira-kira seperti ini, "Saham XXXX turun tapi tidak didukung dengan aksi jual oleh asing, sehingga ada potensi rebound." Dengan kata lain, ia menggunakan analisa aksi jual beli oleh asing untuk memprediksi rebound atau tidaknya saham. Maka di sini saya katakan bahwa itu adalah pemikiran yang keliru! Tampaknya banyak yang kurang paham duduk persoalan aksi jual beli asing ini, cara dan tujuan mengamatinya.

PEFINDO Menurunkan Rating ADHI

JAKARTA - Pefindo has revised the outlook for the corporate rating of PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) to “negative” from “stable”. The negative outlook was assigned to anticipate weaker-than-projected capital structure and cash flow protection measures resulting from pressure on the Company’s profitability margins. The margins pressure is expected to be brought about by significant costs increases and tepid revenue growth, as indicated by operating costs that increased significantly (up by around 24.0% year on year/YoY) while revenue contracted by around 5.0% YoY in the first semester of 2014 (1H2014). The negative revenue growth in 1H2014 was mainly brought about by the continued underperformance of its Engineering, Procurement, and Construction (EPC) business. (05 September 2014)

Mencermati Aktivitas Aksi Beli dan Jual Asing

Mencermati Aktivitas Aksi Beli dan Jual Asing
Saya menulis ini untuk menjelaskan sedikit alasan saya selalu memposting tabel FNBS (Foreign Net Buy and Sell). Diakui atau tidak, pergerakan saham di BEI memang tidak luput dari aktivitas investor (atau trader?) asing di belakangnya. Dari 100% uang yang beredar beredar, sebesar 92% dimiliki oleh institusi, sedangkan 2,6% milik perorangan, dan selebihnya milik Lain-lain. Dari 92% ini, maka 40% milik asing, 37,5% milik bank, 18,2% milik asuransi dan dana pensiun, dan 4,3% milik reksadana. Dengan menyadari hal ini, tidak aneh rasanya kalau sering sekali keputusan beli dan jual ritel banyak dipengaruhi oleh ada tidaknya dominasi asing di situ.