Saya tidak begitu memahami politik. Itu kata kunci utama yang harus dicatat. Ketika saya memutuskan untuk menggeluti dunia saham sekitar akhir tahun 2008 (awal bull market), saya sama sekali tidak punya gambaran apapun tentang pemerintahan, politik, dan sebagainya, karena fokus saya semata-mata pada sukses trading dan investasi. Pemikiran saya sangat sederhana saat itu : rahasia trading tentunya terletak dari kemahiran membaca grafik dan menganalisa laporan keuangan. Sayangnya setelah menjalani selama 5 tahun, saya baru menyadari bahwa ini tak sesederhana yang diperkirakan semula. Pasar saham menjadi sangat sulit terbaca karena sarat dengan yang namanya POLITIK.
Showing posts with label Pasar Saham. Show all posts
Showing posts with label Pasar Saham. Show all posts
Home » Posts filed under Pasar Saham
Pasar Irrational Saat Darah Tumpah Ke Jalan
"The markets can stay irrational longer than you can stay solvent." John Maynard Keynes
Aneh memang kalau melihat harga saham turun terus melampaui valuasi fundamental, 'valuasi' teknikal, valuasi makro, sehingga kita pastinya sangat yakin kalau harga sudah sangat murah saat itu. Tapi buat memborong banyak, alih-alih berani, yang muncul justru rasa takut kalau-kalau harga masih akan turun lebih dalam. Kalau sudah begini, mau pake jurus valuasi apapun, mau pake analisa teknikal apapun, tetap saja hasilnya jadi meragukan dan serba salah. Itulah tujuan dari pasar irrational.
Sell In May and Go Away, Strategi Investasi?
Sell in May and Go Away merupakan salah satu strategi investasi saham yang didasarkan pada teori bahwa periode dari November ke April memiliki pertumbuhan saham yang di atas rata-rata ketimbang bulan-bulan yang lain. Kerap juga disebut sebagai indikator Halloween. Nampaknya alasan kuat di balik strategi tersebut semata-mata alasan probabilitas, dimana potensi untuk mendapatkan profit pada rentang November ke April itu lebih besar ketimbang Mei ke Oktober. Secara kebetulan, rata-rata titik terendah IHSG biasanya berada di bulan September-Oktober, sehingga rally bisa dimulai di bulan November atau sesudahnya.
Kalau sudah berbicara tentang rentang waktu, kita tak lagi berbicara soal mitos atau fakta, melainkan probabilitas. Dengan gambaran strategi yang demikian, kita bisa memahami betapa orang-orang di luar sana memburu strategi investasi hingga membahasnya ke rentang bulan-bulan tertentu. Sell In May and Go Away jelas merupakan saran untuk melepaskan saham di bulan Mei dan masuk kembali di bulan November nanti. Kita akan bahas sedikit soal ini.
Kalau sudah berbicara tentang rentang waktu, kita tak lagi berbicara soal mitos atau fakta, melainkan probabilitas. Dengan gambaran strategi yang demikian, kita bisa memahami betapa orang-orang di luar sana memburu strategi investasi hingga membahasnya ke rentang bulan-bulan tertentu. Sell In May and Go Away jelas merupakan saran untuk melepaskan saham di bulan Mei dan masuk kembali di bulan November nanti. Kita akan bahas sedikit soal ini.
Dunia Saham, Sebuah Panorama
![]() |
Sekarang ini banyak perusahaan yang berupaya go public. Pembiayaan dari bursa saham diyakini jauh lebih efektif dan efisien ketimbang mengajukan pinjaman ke bank. Lagipula kekuatan modal investor bisa mencapai 10x lipat dari bank. Semakin banyak perusahaan yang terdaftar di bursa, maka semakin besar kapitalisasi bursa tersebut, yang berdampak semakin banyak pula modal yang berputar. Perusahaan hanya perlu menunjukkan kinerja terbaik agar investor tertarik buat menanam modal di situ.
Sampai di sini, mulai kerasa dunia saham itu agak sedikit berbeda, bukan? Walaupun secara konsep tak jauh berbeda dengan dunia bisnis lainnya. Saya akan ceritakan sedikit tentang ini.
Ekonom Dadakan, Trader Dadakan, Dan Paradoks Bursa Saham
Andai rahasia bursa itu semata-mata berada pada laporan keuangan, maka para akuntan pastinya menjadi investor terkaya di dunia. Andai rahasia bursa itu semata-mata berada pada software, maka para programmer tentunya menjadi orang-orang terkaya di dunia. Andai rahasia bursa itu berada pada berita-berita yang tengah terjadi, maka para jurnalis tentunya menjadi trader-trader paling beruntung di dunia. Siklus normal bursa saham dari mulai periode bullish hingga bearish membuat pelaku pasar mau tidak mau harus memahami situasi dan kondisi ekonomi yang melatarbelakangi siklus tersebut. Semua punya tujuan yang sama. Sama-sama ingin mengetahui rahasia asli dari bursa saham.
Saat ini rupiah masih bertengger di Rp14150 terhadap dollar, dan mendadak banyak orang yang menjadi pakar ekonomi. Seolah-olah memahami, seolah-olah mengetahui duduk persoalannya. Ekonom dadakan ini dengan mudahnya melemparkan tuduhan kepada pemerintah, seolah-olah rupiah adalah satu-satunya mata uang di dunia yang melemah terhadap dollar. Jika sebuah analisis tidak adil dalam mengolah data, maka analisis itu dengan mudah sekali dipatahkan.
Jangankan di Indonesia, yang jelas-jelas warga negara AS sendiri pun bisa jadi tak suka dollarnya menguat. Bisa saja kita membahas soal ini sampai berpuluh-puluh artikel, tapi kita mesti tahu bahwa pasar saham bisa meresponnya dengan sangat berbeda sekali. Segala analisis ekonomi itu akan kembali mentah jika dihadapkan dengan pasar saham. Ia merupakan paradoks dan ilmu ekonomi bukanlah satu-satunya cara buat memahami itu semua.
Saat ini rupiah masih bertengger di Rp14150 terhadap dollar, dan mendadak banyak orang yang menjadi pakar ekonomi. Seolah-olah memahami, seolah-olah mengetahui duduk persoalannya. Ekonom dadakan ini dengan mudahnya melemparkan tuduhan kepada pemerintah, seolah-olah rupiah adalah satu-satunya mata uang di dunia yang melemah terhadap dollar. Jika sebuah analisis tidak adil dalam mengolah data, maka analisis itu dengan mudah sekali dipatahkan.
Jangankan di Indonesia, yang jelas-jelas warga negara AS sendiri pun bisa jadi tak suka dollarnya menguat. Bisa saja kita membahas soal ini sampai berpuluh-puluh artikel, tapi kita mesti tahu bahwa pasar saham bisa meresponnya dengan sangat berbeda sekali. Segala analisis ekonomi itu akan kembali mentah jika dihadapkan dengan pasar saham. Ia merupakan paradoks dan ilmu ekonomi bukanlah satu-satunya cara buat memahami itu semua.
Level Psikologis, Apa Yang Hendak Disampaikan?
Saat mengulas soal prakiraan IHSG, analis selalu menggunakan istilah 'level psikologis' dalam menyampaikan level support dan resisten. Berbeda dengan saat mengulas saham, dimana analis lebih nyaman menggunakan istilah target (teknikal) atau harga wajar (fundamental), bukan target psikologis atau harga psikologis. Awal sebabnya karena IHSG dianggap sebagai indeks psikologis pasar. Kalau naik, artinya optimis, sehingga pasar bullish. Kalau turun, artinya pesimis, sehingga pasar bearish. Support itu level pesimis, resisten itu level optimis. Dan level IHSG di berapa pun akan disebut sebagai level psikologis.
Sedari awal, trader diyakinkan bahwa psikologis memegang peranan penting dalam pergerakan harga di pasar. Rasa takut dan tamak menjadi motor penggerak, sekaligus jawaban terhadap biang kerok naik turunnya harga. Selamanya psikologis mengandung makna relatif, mudah berubah-ubah, dan mustahil absolut.
Kalau situasi bagus, maka targetnya akan bagus. Begitu juga sebaliknya. Maka level psikologis itu merupakan nilai yang relatif, belum pasti, dan sangat tergantung dengan kondisi nantinya. Ya, merupakan prakiraan semata-mata, dan karena itulah tidak bisa disalahkan, tapi bukan berarti bisa dibenarkan. Kita akan ulas soal yang kelihatan sepele ini, padahal tidak.
Sedari awal, trader diyakinkan bahwa psikologis memegang peranan penting dalam pergerakan harga di pasar. Rasa takut dan tamak menjadi motor penggerak, sekaligus jawaban terhadap biang kerok naik turunnya harga. Selamanya psikologis mengandung makna relatif, mudah berubah-ubah, dan mustahil absolut.
Kalau situasi bagus, maka targetnya akan bagus. Begitu juga sebaliknya. Maka level psikologis itu merupakan nilai yang relatif, belum pasti, dan sangat tergantung dengan kondisi nantinya. Ya, merupakan prakiraan semata-mata, dan karena itulah tidak bisa disalahkan, tapi bukan berarti bisa dibenarkan. Kita akan ulas soal yang kelihatan sepele ini, padahal tidak.
Siapakah Si Mr. Market?
Mungkin banyak dari kita yang merasa bahwa pasar selalu memantau gerak-gerik kita. Tiap kali mengambil posisi beli, maka tiap kali itu pula harga beringsut turun, bahkan tak jarang malah diguyur lebih dalam. Begitu juga ketika mengambil posisi jual, maka harga justru naik lebih kencang. Celakanya, sekalipun sahamnya sudah berganti-ganti, perlakuan yang kita rasakan pun masih tetap sama, tak peduli itu saham berkapitalisasi besar / kecil, likuditas besar/kecil. Seolah-olah setiap saham itu ada setan penunggunya yang siap menerkam siapa saja yang coba-coba mengganggunya.
Kita berfikir bahwa keberadaan kita ini tak diinginkan oleh pasar. Kita juga berfikir mungkin segala aktivitas di bursa saham ini hanya buat mengelabui dan membodohi kita saja. Si Mr. Market berfoya-foya di atas penderitaan kita yang bisa dibilang selalu saja salah posisi, baik itu beli maupun jual. Tak hanya yang bermodal besar saja yang merasakan seperti itu, yang jelas-jelas trader bermodal kecil pun merasakan hal yang sama. Apakah pasar sebegitu arogannya sehingga sedikit saja kita ambil barangnya, lantas dia semena-mena melakukan kontra posisi terhadap kita? Untuk menjawabnya, kita mesti lebih dulu mengenali siapa Mr. Market sebenarnya.
Kita berfikir bahwa keberadaan kita ini tak diinginkan oleh pasar. Kita juga berfikir mungkin segala aktivitas di bursa saham ini hanya buat mengelabui dan membodohi kita saja. Si Mr. Market berfoya-foya di atas penderitaan kita yang bisa dibilang selalu saja salah posisi, baik itu beli maupun jual. Tak hanya yang bermodal besar saja yang merasakan seperti itu, yang jelas-jelas trader bermodal kecil pun merasakan hal yang sama. Apakah pasar sebegitu arogannya sehingga sedikit saja kita ambil barangnya, lantas dia semena-mena melakukan kontra posisi terhadap kita? Untuk menjawabnya, kita mesti lebih dulu mengenali siapa Mr. Market sebenarnya.
Dunia Saham : Siapa Yang Membuka Kotak Pandora?
Mengetahui logika naik turunnya harga saham tidak serta merta dikuti dengan membaiknya performa trading. Sekalipun kita tahu bahwa posisi pemain besar di sebuah saham sangat menentukan apakah saham tersebut akan dibawa naik atau turun, namun kita tak punya perangkat untuk mengetahui itu semua. Biasanya trader melakukan pendekatan lain, yaitu dengan cara mengkalkukasi posisi pembeli dan penjual berdasarkan kode sekuritas saja. Hasilnya, jauh panggang dari api, malah kalau tidak hati-hati, bisa terjebak sendiri.
Analogi yang paling cocok untuk model analisis seperti ini adalah permainan bridge. Para pemain dituntut untuk jeli agar bisa menebak kartu apa yang sedang dipegang lawan. Dengan begitu, maka kartu apapun yang muncul bisa dibedakan apakah itu sekedar gertakan atau bukan. Adu strategi ini terus berlangsung hingga ditemukan pemenangnya. Di bursa saham, lebih kurang berlaku juga hal yang demikian. Hanya saja, hasil akhirnya bakalan sedikit mengherankan. Saya akan jelaskan soal ini.
Analogi yang paling cocok untuk model analisis seperti ini adalah permainan bridge. Para pemain dituntut untuk jeli agar bisa menebak kartu apa yang sedang dipegang lawan. Dengan begitu, maka kartu apapun yang muncul bisa dibedakan apakah itu sekedar gertakan atau bukan. Adu strategi ini terus berlangsung hingga ditemukan pemenangnya. Di bursa saham, lebih kurang berlaku juga hal yang demikian. Hanya saja, hasil akhirnya bakalan sedikit mengherankan. Saya akan jelaskan soal ini.
Penyebab Harga Saham Naik Dan Turun
Selamat siang, sobat Saham Ceria. Saya baru sempat menulis setelah beberapa lama vakum. Padahal banyak hal yang bisa ditulis dan diceritakan. Mudah-mudahan sobat masih setia mengikuti blog saya yang tak seberapa ini. (Hehe..) Mungkin ada yang bertanya, sebagai seorang trader, kenapa saya memilih blog gratisan? Kenapa tidak sewa hosting, beli domain, dan sebagainya? Saya terinspirasi dari Mbak Fitri di situs htpp://analisa-hargawajar-saham.blogspot.com. Juga Pak Parahita di https://parahita.wordpress.com, dan lain-lain, yang nyaman saja menggunakan situs-situs gratisan. Saya pun begitu. Saya tidak ingin tulisan-tulisan di blog ini menghilang hanya karena saya lupa bayar hosting, misalnya. Jadi, saya berharap, suatu ketika kalau saya tak lagi menulis, atau mungkin saya sudah di antah berantah, tulisan saya ini bisa terus ada di sini dan dinikmati hingga ke anak cucu. Lagipula, kalau memang niatnya untuk berbagi cerita, saya lebih nyaman dengan situs gratisan. Tapi kalau niatnya untuk berbisnis, barulah akan saya pertimbangkan menggunakan situs berbayar.
Segala pergerakan harga di pasar saham itu selalu ada penyebabnya. Mencari penyebab harga naik atau turun semata-mata untuk menemukan cara mengantisipasinya. Tanpa mengetahui penyebabnya lebih dahulu, lantas apa yang mau diantisipasi? Pertanyaan sederhana ini memaksa trader untuk mencari jawaban ke dalam logika yang rada kompleks.
Segala pergerakan harga di pasar saham itu selalu ada penyebabnya. Mencari penyebab harga naik atau turun semata-mata untuk menemukan cara mengantisipasinya. Tanpa mengetahui penyebabnya lebih dahulu, lantas apa yang mau diantisipasi? Pertanyaan sederhana ini memaksa trader untuk mencari jawaban ke dalam logika yang rada kompleks.
Pesan Hikmat Dari Seorang Sahabat
Lima tahun yang lalu, seorang teman saya mengatakan pada saya bahwa saya membuat trading menjadi sangat sulit. Ia mengatakan itu setelah melihat tabel yang saya susun yang berisikan banyak sekali indikator. Alih-alih memuji, ia justru mengkritik saya. Saya memang sedang getol-getolnya menyusun metode analisis yang komplit, namun berakhir pada analisis yang rumit luar biasa, mulai dari menghitung HH-LL hingga mengelompokkannya ke dalam zona-zona dan menampilkannya ke dalam tabel, semata-mata demi mendapatkan momentum terbaik. Hasilnya? Gagal.
Saat itu saya berkeyakinan bahwa trading itu memang sulit dan jangan sesekali dianggap mudah. Maka lakukanlah analisis sulit buat menjawab persoalan yang sulit di trading , begitu pikir saya. Idealisme trading saya makin menjadi-jadi, bahkan mungkin saya sudah melangkah terlalu jauh dengan melakukan over analysis. (Note : Over analysis / analisis berlebihan itu seperti apabila ab = bc, maka b = c hanya jika a > b. Dan jika a < b, maka lihat dulu apakah jarak dari a ke b dekat atau jauh. Apabila dekat, maka pertimbangkan b mungkin sama dengan c, tapi mungkin juga tidak. Jika jauh, b sudah pasti tidak sama dengan c.). "Kamu membuat trading itu menjadi sangat sulit" mungkin ada benarnya. Over analysis saya itu hanya berakhir pada kebuntuan juga.
Saat itu saya berkeyakinan bahwa trading itu memang sulit dan jangan sesekali dianggap mudah. Maka lakukanlah analisis sulit buat menjawab persoalan yang sulit di trading , begitu pikir saya. Idealisme trading saya makin menjadi-jadi, bahkan mungkin saya sudah melangkah terlalu jauh dengan melakukan over analysis. (Note : Over analysis / analisis berlebihan itu seperti apabila ab = bc, maka b = c hanya jika a > b. Dan jika a < b, maka lihat dulu apakah jarak dari a ke b dekat atau jauh. Apabila dekat, maka pertimbangkan b mungkin sama dengan c, tapi mungkin juga tidak. Jika jauh, b sudah pasti tidak sama dengan c.). "Kamu membuat trading itu menjadi sangat sulit" mungkin ada benarnya. Over analysis saya itu hanya berakhir pada kebuntuan juga.
Trik Di Pasar Saham, Apa Yang Kamu Cari?
Trik merupakan cara sederhana untuk meraih profit dengan cara memanfaatkan celah (bug) dari sebuah sistem. Kita tentu yakin bahwa di dalam sebuah sistem yang paling hebat sekalipun, pasti akan selalu ada celah di situ. Dan jika kita berhasil mengenali celah tersebut, maka terbuka peluang untuk meraih profit dengan cara yang mudah. Lebih disukai jika celah tersebut belum diketahui oleh banyak orang. Adakah celah semacam itu di bursa saham?
Pergerakan pasar sering kali tak terduga. Analis harus berjuang lebih keras untuk menemukan solusi demi mengantisipasi itu. Lebih disukai solusi yang mudah dan sederhana. Solusi semacam itu disebut sebagai trik. Beragam metode bermunculan. Alhasil ada begitu banyak trik. Lebih kurang trik-trik tersebut membahas seputar membaca candlestick lebih detil, menggunakan oscillator dengan tepat, menarik garis trend yang lebih baik, dan sebagainya. Semuanya itu sudah sangat lazim dibahas oleh para teknikalis. Kita nyaris tak melihat ilmu baru apapun di situ. Ada juga yang memberikan trik soal manajemen uang, manajemen resiko, dan lain-lain. Beberapa memberikan trik soal momentum, seperti waktu terbaik membeli sekitar jam 13.30 s/d 15.00, setiap tanggal 18-22 setiap bulannya, tidak aman memegang saham di hari Jum'at, yang kesemuanya itu berdasarkan penilaian subjektif yang sangat diragukan kebenarannya. Saya sendiri pernah mencoba melakukan pendekatan analisis terhadap pemilihan jam, hari, hingga tanggal, tapi itu semua tak menjawab apapun. Pasar berhasil melampaui segala prediksi yang berbau-bau waktu seperti itu. Salah-salah malah terjebak ke dalam mitos.
Pergerakan pasar sering kali tak terduga. Analis harus berjuang lebih keras untuk menemukan solusi demi mengantisipasi itu. Lebih disukai solusi yang mudah dan sederhana. Solusi semacam itu disebut sebagai trik. Beragam metode bermunculan. Alhasil ada begitu banyak trik. Lebih kurang trik-trik tersebut membahas seputar membaca candlestick lebih detil, menggunakan oscillator dengan tepat, menarik garis trend yang lebih baik, dan sebagainya. Semuanya itu sudah sangat lazim dibahas oleh para teknikalis. Kita nyaris tak melihat ilmu baru apapun di situ. Ada juga yang memberikan trik soal manajemen uang, manajemen resiko, dan lain-lain. Beberapa memberikan trik soal momentum, seperti waktu terbaik membeli sekitar jam 13.30 s/d 15.00, setiap tanggal 18-22 setiap bulannya, tidak aman memegang saham di hari Jum'at, yang kesemuanya itu berdasarkan penilaian subjektif yang sangat diragukan kebenarannya. Saya sendiri pernah mencoba melakukan pendekatan analisis terhadap pemilihan jam, hari, hingga tanggal, tapi itu semua tak menjawab apapun. Pasar berhasil melampaui segala prediksi yang berbau-bau waktu seperti itu. Salah-salah malah terjebak ke dalam mitos.
Tambang Duit Yang Bernama Bursa Saham
Pasar saham tidaklah sesederhana tempat berjual beli sayuran, ayam, atau alat-alat kantor. Pasar saham juga tidak sesederhana tempat lelang dengan peserta terbatas. Di sini kita tidak membeli barang untuk dipamerkan, melainkan untuk diinvestasikan. Harga tidak menjadi soal, melainkan nilai. Memborong dengan jumlah fantastis bukan dimaksudkan untuk menyombongkan diri, melainkan karena yakin bahwa itu pantas dilakukan. Modal bukanlah masalah di sini, melainkan profit. Setiap orang bisa memulai dengan modal yang paling kecil ataupun yang paling besar. Namun untuk mendapatkan profit, itu benar-benar sebuah persoalan lain.
Dengan tingkat kompetisi yang sedemikian tingginya, pasar saham jelas menjadi ajang adu kecerdasan, adu metode, adu sistem, adu analisis, adu data, adu nyali, dan sebagainya. Ada yang sangat cerdas dalam menilai nilai instrinsik perusahaan. Ada yang sangat piawai dalam menghitung support/resisten. Ada yang sangat lihai berburu informasi demi momentum. Ada yang tak bisa keduanya, tapi sangat jeli dalam menilai tingkat supplai dan demand sebuah saham. Saya akan jelaskan sedikit pada yang terakhir ini.
Dengan tingkat kompetisi yang sedemikian tingginya, pasar saham jelas menjadi ajang adu kecerdasan, adu metode, adu sistem, adu analisis, adu data, adu nyali, dan sebagainya. Ada yang sangat cerdas dalam menilai nilai instrinsik perusahaan. Ada yang sangat piawai dalam menghitung support/resisten. Ada yang sangat lihai berburu informasi demi momentum. Ada yang tak bisa keduanya, tapi sangat jeli dalam menilai tingkat supplai dan demand sebuah saham. Saya akan jelaskan sedikit pada yang terakhir ini.
Analisis Top Down dan Bottom Up
Ada lebih dari 492 saham di BEI, kira-kira mana yang akan kita pilih sebagai portofolio? Pastinya kita selalu ingin memilih yang terbaik. Nah, yang terbaik itu biasanya memiliki 2 ciri yaitu berfundamental bagus dan berteknikal bagus. Namun, sebelum sampai ke soal fundamental-teknikal, lebih dulu ada metode analisis yang lazim diamalkan oleh pelaku pasar yaitu analisis top down dan bottom up.
Analisis Top Down (Atas ke Bawah)
Yaitu analisis dari makro ke mikro. Situasi ekonomi global dan domestik lebih dulu dinilai sebelum menentukan sektor apa yang bakalan memiliki prospek lebih cerah ketimbang sektor lainnya. Contoh : saat China sedang getol-getolnya memborong batubara, maka harga batubara terkerek naik. Pelaku pasar langsung melirik saham-saham sektor ini sebagai incaran, mengecek fundamental dan teknikalnya, dan sebagainya.
Analisis Bottom Up (Bawah ke Atas)
Yaitu analisis dari mikro ke makro. Lebih dulu mengecek kondisi fundamental dan teknikal, lalu mempertimbangkan pengaruh inflasi, suku bunga, permintaan pasar, dan sebagainya yang diperkirakan punya pengaruh langsung terhadap kinerja perusahaan.
Keahlian, Pendidikan, Dan Ego
Di Bursa Saham, orang yang cerdas pun bisa terkecoh dan masuk perangkap, seperti halnya orang-orang yang tolol. Dari apa yang telah saya lihat, rupanya faktor tinggi rendahnya pendidikan tidak berpengaruh terhadap sukses atau gagalnya orang untuk meraup laba besar di lantai bursa. Makin cerdas seseorang, maka makin yakin dia bahwa dia tahu segalanya. Akibatnya, makin banyak pula dari mereka yang kena batunya. Sebagian dari mereka kemudian menyadari bahwa sesungguhnya mereka belum banyak tahu tentang bursa saham, tapi sebagian mereka tidak dan tetap konsisten terhadap ketololannya itu. Rata-rata orang yang sukses di bursa saham justru merupakan orang-orang yang kalem dan tidak berego besar, dan jumlah mereka sangat sedikit.
Bursa punya caranya sendiri untuk menghancurkan semua rasa kebanggaan diri yang berlebihan itu hingga tidak ada lagi yang tersisa. Kita pun mungkin pernah atau bahkan sering mengalaminya, dimana saat kepercayaan diri berlebihan justru harus hancur berkeping-keping akibat salah prediksi.
Bursa punya caranya sendiri untuk menghancurkan semua rasa kebanggaan diri yang berlebihan itu hingga tidak ada lagi yang tersisa. Kita pun mungkin pernah atau bahkan sering mengalaminya, dimana saat kepercayaan diri berlebihan justru harus hancur berkeping-keping akibat salah prediksi.
Tape Reading, Menghadapi Jurus Double Standard - Bagian 2
Pertanyaannya, seberapa besar tingkat keberhasilan trading dari TR ini? Sebelum saya menjawab ini, saya akan lanjutkan illustrasi dari bagian 1 kemarin. Setelah beberapa menit berlalu, posisi bid offer berubah menjadi seperti di bawah ini :
| Lot | Bid | Offer | Lot |
| 2354 | 1265 | 1270 | 2333 |
| 245 | 1260 | 1275 | 1851 |
| 154 | 1255 | 1280 | 2876 |
| 300 | 1250 | 1285 | 1501 |
| 1581 | 1245 | 1290 | 285 |
| 589 | 1240 | 1295 | 784 |
| 5223 | 9630 |
Jreng!! Ternyata ada bandar gila yang dengan gagah berani menerobos ganjalan offer tebal 1265. Pesan yang mau disampaikan tentunya harga akan dibawa naik dengan alasan yang kita tak pernah tahu pasti. Apakah ia benar-benar akan naik? Ya belum tentu. Masih banyak rentetetan tarian yang harus dilewati sebelum melihat bahwa harga benar-benar akan naik atau turun. Biasanya jemari trader dengan otomatis akan mencari siapa bandar gila itu, F atau D, dan dari sekuritas mana, apakah top buyer atau bukan, berapa yang sudah diakumulasikannya selama 3 hari, 7 hari, sebulan, dan seterusnya. Jika masih ragu-ragu juga, maka kita akan buru-buru membuka chart untuk memeriksa kembali analisa teknikalnya. Dan saya bisa menuliskan semua langkah-langkah TR ini di luar kepala sampai jari keriting, tapi saya yakin sebanyak apapun saya tuliskan soal TR ini, tetap tidak akan menyentuh permasalahan yang sebenarnya dan selalu menyisakan keragu-raguan yang besar, termasuk pada diri saya sendiri. Kenapa begitu? Karena yang terjadi sebenarnya adalah antara pola bid offer buat harga yang mau naik itu bisa persis sama dengan yang mau turun. Inilah yang disebut jurus Double Standard dari pasar dan ketika trader berhadapan dengan situasi seperti ini, maka satu-satunya yang bisa menyelamatkannya cuma nasib baik (hoki / keberuntungan), karena umumnya trader akan gagal di situ.
Tape Reading, Menghadapi Jurus Double Standard - Bagian 1
Tape Reading adalah seni membaca pergerakan saham menggunakan live trade melibatkan tak hanya harga, tapi juga jumlah order dari bid / offer per ticknya, total bid / offernya (5, 10, 20 baris dan sebagainya), kecepatan order, plus sekuritas mana yang melakukan order tersebut, tak lupa menganalisa eksekusi oleh Foreign (F) dan Domestic (D). Dengan cara ini diharapkan trader bisa mengenali waktu yang tepat untuk membeli atau menjual. Buat mereka yang baru terjun ke dunia saham, maka hal menarik pertama yang akan ditemui adalah tape reading ini - selanjutnya akan saya singkat TR saja. Sebegitu menariknya TR ini hingga trader menyebutnya sebagai iklan berjalan, karena fungsinya sudah mirip sekali seperti tayangan iklan di televisi yang sedang asik ditonton yang bisa menarik pembeli atau penjual hanya dengan melihat kecepatan eksekusi yang tampil di layar kaca.
Mengeset Masa Tunggu Yang Tak Terbatas
Keputusan trading tidak hanya soal beli dan jual, tapi juga tahan dan tunggu. Beli dan jual bisa dilakukan dalam waktu yang singkat, tapi tahan dan tunggu membutuhkan waktu yang lebih lama. Pada dasarnya tahan dan tunggu itu punya dasar konsep yang sama yaitu sama-sama menunggu. Bedanya, pada posisi tahan, trader menunggu buat jual, sedangkan pada posisi tunggu, trader menunggu buat beli. Karena penjelasan nantinya merupakan kombinasi antara keduanya, maka saya satukan saja sebagai Tunggu.
Kenapa Banyak Orang Yang Takut Saat Indeks Saham Naik Semakin Tinggi?
Bullish dan Bearish itu seperti 2 cuaca yang berbeda secara ekstrim satu sama lain. Bullish itu musim semi, sedangkan Bearish itu musim gugur. Ada juga yang mengibaratkan seperti 2 anak kembar yang sifatnya bertolak belakang satu sama lain. Masing-masing kondisi ini menawarkan peluang profit yang berbeda-beda pula. Dalam kondisi bullish, saham-saham berkapitalisasi besar mendapat ruang untuk bergerak karena likuiditas pasar yang sedang tinggi. Sedangkan dalam kondisi bearish, saham-saham berkapitalisasi kecil terbang bagai kapas, naik dengan ringan, dan turun pun dengan ringan. Kalaulah memang bullish itu diibaratkan musim semi dan bearish itu musim gugur, secara logika mestinya pelaku pasar bersuka-cita ketika pasar memasuki fase bullish, kan? Tapi ternyata tidak begitu. Sering sekali, bahkan kalau boleh dibilang hampir selalu, pasar merasa khawatir ketika indeks saham naik semakin tinggi. Kenapa banyak orang yang takut saat indeks saham naik semakin tinggi? Ini bukanlah ketakutan tanpa alasan. Kita akan bahas bersama-sama.
Bagaimana Harga Saham Terbentuk?
Ini pertanyaan saya waktu mulai mempelajari dunia pasar modal di awal tahun 2003 lalu. Tujuan saya mempertanyakan ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi harga saham, sehingga nantinya bisa diketahui apakah sebuah saham naik atau turun. Tapi akhirnya saya mengerti bahwa ternyata itu merupakan 2 hal yang berbeda. Kita mungkin bisa mengetahui bagaimana harga saham terbentuk, tapi belum tentu kita mengetahui alasan sebuah saham naik atau turun. Postingan ini akan terdengar sangat teknis nantinya, tapi siapa tahu berguna buat mereka yang penasaran bagaimana cara kerja pasar ini sebenarnya.
Contoh, ada rencana aksi korporasi untuk merger dan akuisisi yang biasanya direspon positif oleh pasar, padahal itu masih sebatas wacana. Valuasi saham masih sama karena menggunakan nilai dari laporan keuangan yang sama, belum diupdate apalagi berubah. Apakah akuisisi tersebut akan merubah valuasi saham tersebut? Bisa iya, bisa tidak. Kita harus menunggu LK berikutnya untuk mengetahuinya. Pertanyaannya, bagaimana harga saham terbentuk berdasarkan aksi korporasi tersebut? Apakah ada satu mekanisme yang mengatur itu, yang dengan otomatis menaikkan harga saham, kendatipun acuan valuasinya masih tetap sama? Katakanlah investor menilai prospek perusahaan itu ke depannya, tapi tetap saja tidak, atau setidaknya belum, merubah valuasi apapun sebelum perusahaan tersebut benar-benar membuktikan kinerjanya.
Contoh, ada rencana aksi korporasi untuk merger dan akuisisi yang biasanya direspon positif oleh pasar, padahal itu masih sebatas wacana. Valuasi saham masih sama karena menggunakan nilai dari laporan keuangan yang sama, belum diupdate apalagi berubah. Apakah akuisisi tersebut akan merubah valuasi saham tersebut? Bisa iya, bisa tidak. Kita harus menunggu LK berikutnya untuk mengetahuinya. Pertanyaannya, bagaimana harga saham terbentuk berdasarkan aksi korporasi tersebut? Apakah ada satu mekanisme yang mengatur itu, yang dengan otomatis menaikkan harga saham, kendatipun acuan valuasinya masih tetap sama? Katakanlah investor menilai prospek perusahaan itu ke depannya, tapi tetap saja tidak, atau setidaknya belum, merubah valuasi apapun sebelum perusahaan tersebut benar-benar membuktikan kinerjanya.
Saham Menarik vs Saham Tidak Menarik
Memilih saham itu persis seperti memilih pakaian yang mau dipake. Tergantung mau dipake buat kemana, acara apa, jam berapa, musim apa, trendnya apa, dan sebagainya. Dengan mengumpulkan informasi-informasi tersebut, barulah lihat apakah ada pakaian yang memenuhi syarat untuk itu. Yang memenuhi syarat itulah pakaian yang menarik. Begitu pula di saham. Saham yang menarik adalah saham yang menarik minat investor untuk membelinya. Investor memilihnya berdasarkan kriteria yang ia inginkan. Kebalikannya adalah saham yang tidak menarik. Karena daya tarik sahamnya ini merupakan penilaian yang sangat subjektif, maka kita akan coba bahas apa saja kriteria saham menarik atau tidak menarik ini.




















