Powered by Blogger.
Showing posts with label Investasi. Show all posts
Showing posts with label Investasi. Show all posts

Berburu Informasi Valid, Dimana?

Berburu Informasi Valid, Dimana?
Sekitar tahun 2003 silam, saya mengikuti pelatihan di Jakarta, dan saya sempatkan diri buat berkunjung ke Bursa Efek Jakarta, hanya untuk melihat BEJ itu seperti apa. Gedung dengan menara tinggi itu terlihat sangat megah, berdiri kokoh, seolah-olah gembira menyambut siapapun yang ingin mendalami dunia finansial. Saya naik ke lantai atas lewat lift (tapi saya sudah lupa lantai berapa). Sesampainya di lantai tersebut, saya lihat ada beberapa ruangan. Lewat jendela kaca yang sangat besar, saya bisa melihat ke bawah. Di situ terlihat lantai trading bursa dengan monitor besar terpampang di dindingnya berisikan pergerakan indeks dan saham. (Oh ya sudah lama sekali tak menginjakkan kaki di sana. Saya yakin sudah banyak sekali perubahan di BEJ yang sekarang bernama BEI.)

Di situ ada ruangan informasi seperti perpustakaan. Saya masuk dan bilang bahwa saya ingin bertanya-tanya soal investasi saham. Pegawainya meminta saya menunggu sebentar sambil menyilahkan saya duduk. Lalu datanglah seorang pria separuh baya. Dari sambutannya ia tampak sangat senang melihat saya yang masih muda begitu antusias investasi di saham. Karena kebanyakan anak muda yang dikenalnya terlalu fokus menjadi pegawai, mengejar gaji besar, dan sebagainya.

Oh ya, sebelumnya saya sudah mempersiapkan diri dengan materi-materi saham seadanya. Jangan biarkan diri kita kosong. Kalau ingin menggali ilmu dari seseorang, sedikit banyak kamu harus sudah kenal dengan ilmu yang hendak digali itu. Hingga tiba di wacana seputar informasi saham. Waktu itu saya berkeyakinan agar bisa berinvestasi dengan sukses, maka harus menggunakan informasi yang valid. Lalu si bapak sambil tertawa bertanya balik ke saya, "Yang dikatakan informasi yang valid itu seperti apa? Dan carinya dimana?" Saya terdiam. Saat itu saya kurang paham arah pertanyaannya dan kenapa ia sangat konsen soal itu. Ternyata memang ada sebab musababnya.

Anti Teknikalis, Terlalu Idealis atau Terlalu Pesimis?

Anti Teknikalis, Terlalu Idealis atau Terlalu Pesimis?
Kita meyakini bahwa pergerakan harga saham tak lepas dari pengaruh fundamental emiten yang bersangkutan. Kinerja yang bagus akan dihargai bagus oleh pasar, dan sebaliknya. Begitupun tak jarang terjadi anomali antara fundamental dengan harga sahamnya yang biasa terjadi pada saham gorengan, tapi semakin cerdas pelaku pasar, hal-hal semacam itu akan terkikis dengan sendirinya. Dengan kata lain, tiap kali kita melihat adanya pergerakan yang signifikan terhadap harga saham, hal pertama yang terlintas di otak kita adalah fundamental. Maka antisipasi terhadap fundamental yang paling lazim adalah mengecek laporan keuangan dan mencari informasi / berita / rumor yang berhubungan dengan masa depan perusahaan. Pada titik ini analisa teknikal terlihat hanya sebagai data pendukung saja, karena diasumsikan awal sebab naik turunnya harga tidak dari sana. Kalau awal sebab tak berasal dari sana, lantas buat apa menganalisis teknikal? Tak heran jika buat para penganut fundamental, belajar teknikal itu cuma omong kosong. Lihatlah Warren Buffet, lihatlah Peter Lynch, lihatlah Charlie Munger. Mereka tak ada yang menguasai TA tapi bisa sangat sukses di dunia saham. Apakah hanya penganut fundamental saja yang berfikir seperti itu? Bagi mereka yang sudah bertahun-tahun mempelajari TA pun, mungkin akan berfikir yang sama bahwa mempelajari TA itu hanya sia-sia belaka. Tulisan ini mungkin layak buat kamu simak.

Prinsip-Prinsip Dasar Investasi - Bagian 6

Prinsip-Prinsip Dasar Investasi - Bagian 6
Likuiditas

Salah satu yang sering terlupakan dalam menilai suatu investasi adalah likuiditas. Buat yang belum paham apa itu likuiditas, bisa baca di Sesuatu Yang Disebut Likuiditas. Semakin likuid sebuah investasi, maka semakin menarik. Kenapa tingkat likuiditas ini menjadi penting untuk dipertimbangkan? Karena di dunia ini banyak kondisi-kondisi sosial politik baik yang sifatnya domestik maupun global yang tak bisa diprediksi. Harga sewaktu-waktu bisa ambruk tanpa pemberitahuan lebih dulu. Pasar bisa bertahan bergerak secara irrational ketimbang rational dalam jangka waktu yang cukup lama. Di sinilah pentingnya likuiditas itu. Semakin likuid sebuah instrumen investasi, maka semakin mudah menjual instrumen tersebut. Ini penting buat penyelamatan aset kalau-kalau harganya terancam menurun akibat tekanan global.

Prinsip-Prinsip Dasar Investasi - Bagian 7 (Selesai)

Prinsip-Prinsip Dasar Investasi - Bagian 7 (Selesai)
Teori Portofolio

Portofolio adalah kumpulan investasi yang dimiliki oleh seseorang atau institusi. Konsep dasar portofolio ini adalah memininalisir risiko kerugian investasi dan mengoptimalkan hasil. Maka metode yang digunakan adalah memecah modal yang ada untuk dimasukkan ke dalam berbagai instrumen. Misalnya saham 40%, obligasi 35%, dan sisanya reksadana. Atau saham 20%, obligasi 60%, emas 10%, dollar 10%. Persentase masing-masing investasi ini berbeda-beda pada masing-masing orang karena tergantung kemampuan seseorang memenej risiko investasi tersebut, sebagaimana tujuan awal dari penyusunan portofolio ini. Don't put all your eggs in one basket. Dengan demikian, jika salah satu dari pilihan investasimu gagal (merugi), maka masih ada investasi di instrumen lain yang mungkin bisa menutupi kerugian tersebut. Benjamin Graham selalu merekomendasikan untuk berinvestasi di saham sekaligus obligasi, tapi tidak terlalu merekomendasikan emas.

Prinsip-Prinsip Dasar Investasi - Bagian 5

Prinsip-Prinsip Dasar Investasi - Bagian 5
Jangka Waktu Pengembalian (Payback Period)

yaitu seberapa cepat sebuah investasi akan balik modal (return on investment). Semakin cepat, semakin baik. Contoh : kamu ditawari 2 buah investasi. Yang satu di bidang properti, sedang yang satunya lagi di tambak udang. Katakanlah modal untuk properti sebesar Rp2 milyar dengan rate of return (ROR) 17% per tahun. Sedangkan modal untuk tambak udang sebesar Rp500 juta dan ROR 15% per tahun. Investasi manakah yang bakal kamu pilih dinilai dari jangka waktu pengembaliannya?

Untuk properti, jangka waktu pengembaliannya adalah 5 tahun 8 bulan (100% / 17%), dimana memberikan hasil Rp340 juta / tahun. Untuk tambak udang, jangka waktu pengembaliannya 6 tahun 7 bulan, dimana memberikan hasil Rp75 juta / tahun. Di atas kertas, maka bisa dinilai bahwa investasi properti lebih baik. Namun secara praktek, banyak hal-hal lain yang kudu diperhatikan.

Prinsip-Prinsip Dasar Investasi - Bagian 4

Prinsip-Prinsip Dasar Investasi - Bagian 4
Tingkat Inflasi

Inflasi berkaitan dengan erat dengan nilai (valuasi) sebuah instrumen investasi, entah itu saham ataupun obligasi, bahkan berkaitan erat dengan nilai dari mata uang itu sendiri. Ia ditandai dengan meningkatnya harga barang-barang yang terutama sekali di bahan pokok. Semakin tinggi tingkat inflasi, maka semakin rendah nilai saham, obligasi, dan mata uang, karena tingkat pengembalian menjadi lebih rendah. Misalnya, sebuah perusahaan memproduksi sepatu seharga Rp30.000 ,- per pasang. Kalau inflasi terjadi, maka perusahaan terpaksa menaikkan harga jual sepatu menjadi Rp35.000,- Kenaikan harga ini akan membuat pembeli harus merogoh kocek lebih banyak untuk mendapatkan sepasang sepatu yang sama. Dengan sendirinya jumlah pembeli akan menurun yang berakibat pada menurunnya pendapatan perusahaan sepatu tersebut. Jika pendapatan menurun, laba pun ikut menurun, sehingga harga sahamnya pun ikut turun.

Perubahan nilai ini bersifat sulit ditebak. Kajian analisis soal dampak inflasi merupakan prediksi dari pembahasan yang mendalam. Misalnya, jika hari ini harga beras Rp12.000,- per kg, maka berapakah harga beras 7 bulan lagi? Tidak ada yang tahu. Tapi bisa dicari tahu dengan cara mencari data kecukupan cadangan beras, beban import (termasuk di dalamnya kurs rupiah terhadap dollar), beban transportasi (termasuk di dalamnya harga BBM), ada tidaknya subsidi pertanian, kemungkinan operasi pasar untuk antisipasi, dan sebagainya. Semakin akurat kamu memprediksi perubahan nilai tersebut, maka semakin akurat pula kamu memprediksi berapa nilai yang pantas dibayarkan untuk sebuah instrumen investasi.

Prinsip-Prinsip Dasar Investasi - Bagian 3

Prinsip-Prinsip Dasar Investasi - Bagian 3
Risiko Investasi

Tak ada investasi yang tak mengenal risiko. Atau jelasnya, tak ada investasi dengan risiko 0%. Konsep dasarnya adalah semakin tinggi risiko sebuah investasi, maka semakin tinggi pula keuntungan yang bisa diperoleh nantinya. Seiring dengan meningkatnya kemampuan analisis dan pengetahuan di bidang pasar modal, maka konsep ini bergeser menjadi 'Dengan risiko sekecil-kecilnya untuk meraih keuntungan yang sebesar-besarnya', karena memang sejatinya antara risiko dan keuntungan itu seperti 2 sisi koin. Jika yang satu menghadap ke atas, maka yang satunya pasti menghadap ke bawah. Begitupun, walaupun risiko bisa diperkecil, tapi tak pula bisa dijadikan nol. Ketahuilah, sekecil apapun risiko tersebut bisa menjadi besar bagi mereka yang tak memahami. Maka, sebelum kamu terjun ke dunia pasar modal, kamu kudu harus tahu benar-benar risiko apa yang akan kamu hadapi nanti.

Risiko dalam dunia investasi biasanya dibedakan menjadi 2, yaitu risiko potensial dan risiko non-potensial. Risiko potensial adalah risiko yang jelas-jelas bakal kamu alami yang berkaitan dengan krugian berbentuk fisik / materi apabila investasi tersebut gagal. Misalnya, kamu membuka toko, maka risiko potensialnya adalah rugi, bangkrut, terbakar, dan sebagainya. Intinya adalah kamu harus mengeluarkan tambahan uang berkaitan dengan risiko tersebut. Di saham, risiko potensialnya adalah capital loss dan tidak mendapatkan dividen. Hanya 2 saja? Ya hanya 2. Tapi potensi capital loss ini bisa menggerus harta kekayaanmu dalam waktu semalam. Pastikan kamu tahu betul apa yang sedang kamu kerjakan agar tak menderita capital loss yang sedemikian parah.

Prinsip-Prinsip Dasar Investasi - Bagian 2

Tingkat Pengembalian Hasil

Tingkat Pengembalian Hasil

Setiap bentuk investasi yang baik selalu memberikan hasil atau keuntungan. Biasanya dinyatakan dalam hitungan persen per tahun. Lebih lazim disebut dengan tingkat pengembalian hasil atau rate of return / ROR. Biasa juga disebut dengan Return of Investment (ROI). Tapi ROR ini bukan IRR (Internal Rate of Return) karena itu merupakan 2 hal yang berbeda. Cara perhitungannya cukup sederhana : ( hasil yang diperoleh / modal awal ) x 100%. Misalnya kamu mendepostikan uangmu sebesar Rp10 juta selama setahun. Pada akhir tahun tersebut ternyata uangmu telah bertambah menjadi Rp11 juta. Maka itu artinya ROR deposito sebesar 10% (Rp1 juta). Hasil ini diperoleh dari bunga deposito.

Kebetulan saya pernah berinvestasi di sukuk ijarah dengan tingkat bagi hasil sebesar 12% per tahun, dimana hasilnya dibayarkan setiap bulannya. Di saham, saya pernah menikmati pembagian dividen dari INCO dan UNVR (saya tak ingat berapa persentasenya). Jadi, lain instrumennya, lain pula sumber ROR-nya. Namun cara perhitungan ROR-nya tetap sama. Di sini dibutuhkan kejelianmu untuk memilih instrumen investasi dengan ROR tertinggi. Grafik ROR diharapkan itu seperti yang terlihat di gambar atas. Naik seiring waktu, karena adanya kegiatanya re-investasi dari profit yang dihasilkan, sehingga ROR-nya akan semakin meningkat dari tahun ke tahun. Tentang ROR ini, rata-rata orang sangat menyukai investasi di bidang properti dengan alasan ROR tinggi dan lebih terjamin, padahal jika ditelaah benar-benar tidak begitu adanya. Saham masih menempati instrumen investasi dengan ROR tertinggi.

Prinsip-Prinsip Dasar Investasi - Bagian 1

Prinsip-Prinsip Dasar Investasi - Bagian 1
Walaupun dalam pengertian harfiahnya investasi itu dimaknai sebagai penanaman modal (yang sangat lazim dipahami oleh pasar riil), namun dalam praktek pasar finansial, investasi itu tak lebih dari sebuah instrumen. Ada banyak pilihan instrumen investasi ini yaitu tabungan, deposito, obligasi, sukuk, reksadana, dan saham. Dari instrumen ini, ada beberapa yang langsung terhubung dengan perusahaan yang bersangkutan, yaitu obligasi, sukuk, dan saham, dimana dana yang diperoleh dari penerbitan instrumen-instrumen ini digunakan oleh perusahaan yang bersangkutan untuk kemajuan usahanya.

Di pasar modal ada lebih dari 400 macam saham yang diperjual-belikan. Perusahan penerbit saham itu disebut emiten, dan setelah perusahaannya terdaftar di BEI, maka dengan sendirinya ia menjadi perusahaan terbuka (Tbk / go public), karena sahamnya kini bebas diperjual-belikan oleh investor publik. Di artikel Saham Menarik vs Saham Tidak Menarik, saya menuliskan ciri-ciri saham yang disukai oleh investor. Jadi tak perlu saya jelaskan lagi saham seperti apa yang layak diperhatikan. Di sini saya hendak menjelaskan apa yang menjadi prinsip-prinsip dasar seorang investor, bahkan sebelum muncul pemikiran tentang profit-loss dari bisnis ini.

Melihat Tarian Pasar Dan Ikut Menari

Melihat Tarian Pasar Dan Ikut Menari
Gerakan harga saham itu cuma 2, yaitu naik dan turun. Sekalipun dalam kondisi flat, pergerakannya tetap naik-turun, tapi dalam rentang yang sempit dan terbatas. Fluktuasi semacam ini sudah menjadi tontonan harian bagi full time trader. Tapi alangkah sulitnya jika harus memahami semua fluktuasi tersebut. Sebagai seorang trader, apakah kita harus menghitung berapa target support dan resisten dengan menggunakan timeframe per 5 menit, 1 menit, atau bahkan tiap tick? Beda timeframe, beda targetnya dan beda pula sinyalnya. Apakah menari bersama pasar itu berarti harus memantau per menit dan mengikuti semua fluktuasi hariannya? Hmm.... tulisan ini mungkin akan menarik buat kamu simak.

Cara Menghasilkan Profit Konsisten - Bagian 4

Memahami indikator-indikator makroekonomi

Memahami indikator-indikator makroekonomi

Hal-hal seperti tingkat inflasi, tingkat suku bunga, pertumbuhan PDB per tahun, kurs, prediksi pertumbuhan ekonomi ke depannya, dan sebagainya kudu harus diketahui. Ini penting untuk mengetahui kapan harus ikut trend dan kapan harus counter trend. Juga untuk mempertajam insting trader karena tidak selalu yang ingin diketahui itu terbaca dari grafik ataupun aksi pasar. Dengan mengumpulkan segala kemungkinan dalam satu analisis, kita bisa melihat gambaran yang lebih luas tentang kondisi pasar yang sebenarnya. Cara menafsirkan indikator-indikator makro ini pun berbeda-beda pula bagi tiap orang. Contoh yang paling mudah adalah saat kita melihat nilai tukar rupiah terhadap dollar, maka penafsiran kita akan beragam satu sama lain. Ada yang bilang rupiah akan tambah hancur, tapi ada pula yang bilang justru dollar lah yang bakalan terpuruk. Itu baru rupiah. Belum lagi soal Fed rate, inflasi, GDP, dan sebagainya.

Cara Menghasilkan Profit Konsisten - Bagian 3

Jebakan teknikal

Jebakan teknikal

Dibandingkan fundamental, jebakan teknikal ini jauh lebih banyak. Alasan utamanya adalah karena analisa teknikal menggunakan hanya 5 macam data yaitu Open, High, Low, Close, dan Volume. Dan sudah menjadi hukum alam, semakin sedikit data yang digunakan, maka semakin banyak model analisa yang dihasilkan. Kelima data ini sukses melahirkan ratusan macam pola candlestik, ratusan macam pola grafik, puluhan model breakout mulai dari yang sukses s/d yang gagal, ratusan (atau bahkan ribuan) buah indikator teknikal termasuk kelebihan dan kekurangannya, puluhan macam pilihan target support dan resisten, dan sebagainya. Dan di antara banyak macam pilihan tersebut, kamu harus bisa memilih 1 model analisa yang paling cocok untukmu. Mungkin kamu baru akan menemukannya setelah 2.... hmm bukan, tapi 5... oh bukan juga... minimal 7 tahun di dunia saham. Sayangnya lamanya waktu yang dihabiskan bukan jaminan bahwa kamu akan benar-benar menemukannya. Ada banyak trader di luar sana yang sudah puluhan tahun di bursa saham tapi tak kunjung menemukan model analisa teknikal yang cocok. Jadi tak usahlah disebutkan apa saja jebakan teknikal ini, karena ada banyak sekali. Bahkan bisa dibilang dalam setiap data itu ada jebakannya masing-masing. Ada trader yang hanya fokus ke Close, ada juga yang ikut melibatkan harga tertinggi dan terendah. Ada juga yang selalu memperhatikan lokasi gap. Ada juga yang selalu menandai setiap puncak dan lembah harga dalam sebuah trend. Saya bisa katakan dalam setiap metode analisa teknikal, terdapat minimal 10 macam jebakan. Maksimalnya saya tidak tahu, mungkin 25, 30, atau lebih, ya bisa saja, tergantung akurasi dari analisanya. Semakin akurat analisanya, semakin sedikit jebakannya.

Cara Menghasilkan Profit Konsisten - Bagian 2

Mengenali jebakan-jebakan saham
Analisa fundamental bukanlah satu-satunya analisa yang bisa menghasilkan profit konsisten. Tidak hanya analisa fundamental yang bisa menghitung target harga. Analisa teknikal pun bisa. Di teknikal tidak dikenal istilah valuasi, melainkan support dan resisten. Itulah targetnya. Namun dibandingkan fundamental, hitungan target harga teknikal biasanya lebih pendek, kecuali ada indikasi kelanjutan harga atau continuation. Soal tingkat subjektif atau objektifnya, itu tergantung tehnik analisa yang digunakan. Baiklah. Kita blak-blakan saja. Semua pelaku pasar bisa mencari profit dari saham, tapi belum tentu bisa menghasilkan profit konsisten. Dengan demikian mestinya tak banyak cara yang dilakukan, unik, lain daripada yang lain, untuk bisa melakukan itu. Coba fikirkanlah sendiri. Saya tak bisa menjelaskan dengan menggunakan indikator ataupun metode ini dan itu, karena saya bukanlah orang yang tepat untuk menjelaskan itu semua. Begitupun saya coba untuk menjabarkan beberapa hal yang menjadi inspirasi saya dan mungkin juga bisa menjadi inspirasi buat kamu dalam menghasilkan profit konsisten. "Observe the crowd, and do the opposite."

Mengenali jebakan-jebakan saham

Kamu harus tahu dan mengerti benar-benar apa alasanmu memilih sebuah saham, membelinya, menyimpannya, lalu menjualnya. Ketika pasar bergerak melawan posisimu, kemungkinannnya hanya ada salah satu di antara 2 berikut ini yaitu pasar yang benar dan kamu yang salah; atau pasar yang salah dan kamu yang benar. Salah satu pasti akan dan selalu terjadi. Problem di dunia saham ini hanya ada 2 yaitu terlalu cepat dan terlalu lambat. Terlalu cepat membeli, harga malah turun. Terlalu cepat menjual, harga malah naik. Terlalu lambat membeli, harga malah keburu naik terus. Terlalu lama menjual, harga keburu turun terus.

Cara Menghasilkan Profit Konsisten - Bagian 1

Walter Schloss and Warren Buffet

"I always knew I was going to be rich. I don't think I ever doubted it for a minute."
Warren Buffett

Tahun 1941 saat masih berumur 11 tahun, Warren Buffet membeli saham pertamanya. Ia membeli 6 lembar saham preferen Cities Service seharga $38 per lembar (3 lembar untuk dirinya, 3 lembar untuk saudara perempuannya, Doris). Setelah dibeli, harga saham tersebut turun ke $27, tapi kemudian rebound ke $40. Di harga segitu Warren dan Doris menjual saham mereka. Tapi tak berapa lama, saham itu pun meroket hingga tembus $200 per saham. Andai mereka masih memegang saham tersebut, tentunya mereka bisa menikmati profit yang fantastis. Tapi rejeki di depan mata itu terlewatkan begitu saja karena ketidaktahuan.

Tahun 1943 Warren mengatakan pada seorang temannya bahwa dia akan menjadi jutawan saat ia berumur 30 tahun nanti. Kalau tidak, dia akan melompat dari gedung tertinggi di Omaha. Overoptimis, ya bisa jadi, kalau tak mau dibilang sombong. Tapi tentunya seorang Warren Buffet punya alasan yang logis saat itu dan prediksi yang benar-benar bagus. Saat berusia 25 tahun, ia telah memiliki kekayaan bersih senilai $200.000. Ia menjadi jutawan ketika berumur sekitar 31 tahun, persis seperti prediksinya itu. Pertanyaannya, kapan seorang WB mengetahui bahwa ia akan kaya raya nantinya? Jawabnya saat kekayaan bersihnya mencapai $10.000. Usianya saat itu sekitar 21 tahun. Itulah saat dimana lahirnya kutipan di atas "Saya selalu tahu saya akan menjadi kaya. Saya tak terfikir saya pernah meragukannya barang semenitpun."

Safety Precaution Dalam Trading Saham

Safety Precaution Deddy Corbuzier
Deddy Corbuzier, seorang mentalist asal Indonesia, pernah menyampaikan nasehat pada peserta di acara The Next Mentalist yang digelar di Trans7, bahwa safety precaution di permainan apapun harus dipersiapkan. Nasehat itu ia berikan setelah ia merasa sangat kecewa dengan penampilan Ardi Miller, yang tangannya tertembus paku yang ditembakkan dari nail gun saat melakukan aksi sulap di atas panggung. Tampaknya rencana awal adalah menembakkan paku ke tangan seorang sukarelawan, Marisa. Dan jika aksi tersebut berhasil, tentu akan jadi prestasi gemilang buat Ardi. Tapi entah kenapa rencana berubah dan ia menembakkan paku itu ke tangannya sendiri... membawa petaka buat dirinya sendiri.

Deddy menanyakan alasan gagalnya aksi tersebut ke Ardi. Ardi menjawab, bahwa sebenarnya tidak ada trik apapun di situ. Ia hanya harus menghafal dimana slot paku yang kosong, tapi celakanya ia lupa, sehingga saat ia menembakkan paku tersebut ke tangannya, itu benar-benar aksi untung-untungan. Dan tangannya pun tertembus paku.

Saham-Saham Fundamental, Trading atau Investing?

Trading atau Investing?
Yang disebut sebagai saham-saham fundamental itu adalah saham-saham yang membukukan kinerja yang tumbuh, stabil, dan punya manajemen yang bisa dipercaya. Saham-saham tipe seperti ini biasanya terkoreksi tajam HANYA ketika ada badai krisis. Selain itu, saham ini cenderung defensif dan bergerak naik seolah tak mempedulikan situasi ekonomi yang sedang pasang surut. Gelombang kecil tidak bakalan terlalu mempengaruhinya. Ya selain krisis, hampir tak ada yang bisa menghalangi pergerakannya. Pertanyaannya, apakah saham-saham seperti ini hanya untuk investing, atau bisa juga untuk trading? Oh, sudah pasti lebih pantas buat investing ketimbang trading. Begitukah? Saya akan ulas menurut perspektif saya.

Membuat Watchlist Dengan FT.com

Artikel ini merupakan lanjutan dari artikel sebelumnya "Membuat Stock Screener Dengan FT.com". Membuat watchlist ini rada tricky, karena itu saya coba tuliskan di sini, sebagai pengingat buat saya dan juga buat mereka yang belum begitu familiar dengan FT.com.

Langkah 1 : Masuk ke situs FT.com dan pilih tab Portfolio.

Membuat Watchlist Dengan FT.com - 1

Membuat Stock Screener Dengan FT.com

Financial Times
Membuat stock screener berdasarkan teknikal saham tentunya sudah banyak dilakukan. Software seperti ChartNexus, Metastock hingga Amibroker menawarkan fitur-fitur stock screener built-in s/d bikinan sendiri. Tapi bagaimana caranya men-screening berdasarkan analisa fundamental? Untuk memuat analisa fundamental satu per satu saham sudah pasti bukan pekerjaan yang ringan. Belum lagi beban mental, karena walaupun puluhan saham yang dianalisis tentunya yang dipilih hanya 3-4 saja. Karena itu kita butuh alat bantu supaya pekerjaan ini bisa dilakukan dengan cara yang lebih praktis.

Anti Fundamentalis, Terlalu Ceroboh Atau Terlalu Gegabah?

Whoever is careless with the truth in small matters cannot be trusted with important matters
Saya kebetulan pernah blogwalking ke sebuah blog milik seorang trader. Pure trader, yang kelihatannya sangat muak dengan pembahasan soal fundamental. Ia mendapati bahwa seorang fundamentalist selalu terlihat pintar, detail, tapi dengan kualitas profit yang biasa-biasa saja. Bahkan mungkin profitnya tak sebanding dengan masa tunggunya yang tergolong lama itu. Ia menyebut dirinya sebagai swing trader. Menurut pendapatnya, selama kita main di bluechips atau second linier, maka itu sudah ada menghitung valuasinya. Jadi tidak usah repot-repot melakukan hal yang sudah dilakukan oleh lembaga yang memang digaji atau dibayar buat mengerjakan itu. Tebakan saya, ia merujuk ke PEFINDO. Baiklah, sebelum membahas lebih lanjut, kata pembuka dari saya adalah : Mereka yang tidak bisa melakukan analisa fundamental, tapi menyebut dirinya sebagai swing trader, maka itu adalah omong kosong. Selanjutnya saya akan coba jelaskan secara mudah dan sederhana.

Hidup Dari Dividen, Menjaga Rahasia Tetap Di Bawah Meja

Menjaga Rahasia
Kalau disuruh pilih, mau profit dari capital gain atau dividen, kira-kira kamu pilih yang mana? Biasanya lebih memilih capital gain ketimbang dividen. Tapi kita sadari mendapatkan capital gain itu tidak gampang. Harus aktif trading. Eiitt.. tunggu dulu. Siapa juga yang menghubung-hubungkan antara capital gain dengan trading. Dalam banyak pendapat trader yang saya baca, ada kesan bahwa capital gain itu buat trader, dividen itu buat investor.