Powered by Blogger.
Showing posts with label Financial Freedom. Show all posts
Showing posts with label Financial Freedom. Show all posts

Prinsip-Prinsip Dasar Investasi - Bagian 6

Prinsip-Prinsip Dasar Investasi - Bagian 6
Likuiditas

Salah satu yang sering terlupakan dalam menilai suatu investasi adalah likuiditas. Buat yang belum paham apa itu likuiditas, bisa baca di Sesuatu Yang Disebut Likuiditas. Semakin likuid sebuah investasi, maka semakin menarik. Kenapa tingkat likuiditas ini menjadi penting untuk dipertimbangkan? Karena di dunia ini banyak kondisi-kondisi sosial politik baik yang sifatnya domestik maupun global yang tak bisa diprediksi. Harga sewaktu-waktu bisa ambruk tanpa pemberitahuan lebih dulu. Pasar bisa bertahan bergerak secara irrational ketimbang rational dalam jangka waktu yang cukup lama. Di sinilah pentingnya likuiditas itu. Semakin likuid sebuah instrumen investasi, maka semakin mudah menjual instrumen tersebut. Ini penting buat penyelamatan aset kalau-kalau harganya terancam menurun akibat tekanan global.

Prinsip-Prinsip Dasar Investasi - Bagian 7 (Selesai)

Prinsip-Prinsip Dasar Investasi - Bagian 7 (Selesai)
Teori Portofolio

Portofolio adalah kumpulan investasi yang dimiliki oleh seseorang atau institusi. Konsep dasar portofolio ini adalah memininalisir risiko kerugian investasi dan mengoptimalkan hasil. Maka metode yang digunakan adalah memecah modal yang ada untuk dimasukkan ke dalam berbagai instrumen. Misalnya saham 40%, obligasi 35%, dan sisanya reksadana. Atau saham 20%, obligasi 60%, emas 10%, dollar 10%. Persentase masing-masing investasi ini berbeda-beda pada masing-masing orang karena tergantung kemampuan seseorang memenej risiko investasi tersebut, sebagaimana tujuan awal dari penyusunan portofolio ini. Don't put all your eggs in one basket. Dengan demikian, jika salah satu dari pilihan investasimu gagal (merugi), maka masih ada investasi di instrumen lain yang mungkin bisa menutupi kerugian tersebut. Benjamin Graham selalu merekomendasikan untuk berinvestasi di saham sekaligus obligasi, tapi tidak terlalu merekomendasikan emas.

Prinsip-Prinsip Dasar Investasi - Bagian 5

Prinsip-Prinsip Dasar Investasi - Bagian 5
Jangka Waktu Pengembalian (Payback Period)

yaitu seberapa cepat sebuah investasi akan balik modal (return on investment). Semakin cepat, semakin baik. Contoh : kamu ditawari 2 buah investasi. Yang satu di bidang properti, sedang yang satunya lagi di tambak udang. Katakanlah modal untuk properti sebesar Rp2 milyar dengan rate of return (ROR) 17% per tahun. Sedangkan modal untuk tambak udang sebesar Rp500 juta dan ROR 15% per tahun. Investasi manakah yang bakal kamu pilih dinilai dari jangka waktu pengembaliannya?

Untuk properti, jangka waktu pengembaliannya adalah 5 tahun 8 bulan (100% / 17%), dimana memberikan hasil Rp340 juta / tahun. Untuk tambak udang, jangka waktu pengembaliannya 6 tahun 7 bulan, dimana memberikan hasil Rp75 juta / tahun. Di atas kertas, maka bisa dinilai bahwa investasi properti lebih baik. Namun secara praktek, banyak hal-hal lain yang kudu diperhatikan.

Prinsip-Prinsip Dasar Investasi - Bagian 4

Prinsip-Prinsip Dasar Investasi - Bagian 4
Tingkat Inflasi

Inflasi berkaitan dengan erat dengan nilai (valuasi) sebuah instrumen investasi, entah itu saham ataupun obligasi, bahkan berkaitan erat dengan nilai dari mata uang itu sendiri. Ia ditandai dengan meningkatnya harga barang-barang yang terutama sekali di bahan pokok. Semakin tinggi tingkat inflasi, maka semakin rendah nilai saham, obligasi, dan mata uang, karena tingkat pengembalian menjadi lebih rendah. Misalnya, sebuah perusahaan memproduksi sepatu seharga Rp30.000 ,- per pasang. Kalau inflasi terjadi, maka perusahaan terpaksa menaikkan harga jual sepatu menjadi Rp35.000,- Kenaikan harga ini akan membuat pembeli harus merogoh kocek lebih banyak untuk mendapatkan sepasang sepatu yang sama. Dengan sendirinya jumlah pembeli akan menurun yang berakibat pada menurunnya pendapatan perusahaan sepatu tersebut. Jika pendapatan menurun, laba pun ikut menurun, sehingga harga sahamnya pun ikut turun.

Perubahan nilai ini bersifat sulit ditebak. Kajian analisis soal dampak inflasi merupakan prediksi dari pembahasan yang mendalam. Misalnya, jika hari ini harga beras Rp12.000,- per kg, maka berapakah harga beras 7 bulan lagi? Tidak ada yang tahu. Tapi bisa dicari tahu dengan cara mencari data kecukupan cadangan beras, beban import (termasuk di dalamnya kurs rupiah terhadap dollar), beban transportasi (termasuk di dalamnya harga BBM), ada tidaknya subsidi pertanian, kemungkinan operasi pasar untuk antisipasi, dan sebagainya. Semakin akurat kamu memprediksi perubahan nilai tersebut, maka semakin akurat pula kamu memprediksi berapa nilai yang pantas dibayarkan untuk sebuah instrumen investasi.

Prinsip-Prinsip Dasar Investasi - Bagian 3

Prinsip-Prinsip Dasar Investasi - Bagian 3
Risiko Investasi

Tak ada investasi yang tak mengenal risiko. Atau jelasnya, tak ada investasi dengan risiko 0%. Konsep dasarnya adalah semakin tinggi risiko sebuah investasi, maka semakin tinggi pula keuntungan yang bisa diperoleh nantinya. Seiring dengan meningkatnya kemampuan analisis dan pengetahuan di bidang pasar modal, maka konsep ini bergeser menjadi 'Dengan risiko sekecil-kecilnya untuk meraih keuntungan yang sebesar-besarnya', karena memang sejatinya antara risiko dan keuntungan itu seperti 2 sisi koin. Jika yang satu menghadap ke atas, maka yang satunya pasti menghadap ke bawah. Begitupun, walaupun risiko bisa diperkecil, tapi tak pula bisa dijadikan nol. Ketahuilah, sekecil apapun risiko tersebut bisa menjadi besar bagi mereka yang tak memahami. Maka, sebelum kamu terjun ke dunia pasar modal, kamu kudu harus tahu benar-benar risiko apa yang akan kamu hadapi nanti.

Risiko dalam dunia investasi biasanya dibedakan menjadi 2, yaitu risiko potensial dan risiko non-potensial. Risiko potensial adalah risiko yang jelas-jelas bakal kamu alami yang berkaitan dengan krugian berbentuk fisik / materi apabila investasi tersebut gagal. Misalnya, kamu membuka toko, maka risiko potensialnya adalah rugi, bangkrut, terbakar, dan sebagainya. Intinya adalah kamu harus mengeluarkan tambahan uang berkaitan dengan risiko tersebut. Di saham, risiko potensialnya adalah capital loss dan tidak mendapatkan dividen. Hanya 2 saja? Ya hanya 2. Tapi potensi capital loss ini bisa menggerus harta kekayaanmu dalam waktu semalam. Pastikan kamu tahu betul apa yang sedang kamu kerjakan agar tak menderita capital loss yang sedemikian parah.

Prinsip-Prinsip Dasar Investasi - Bagian 2

Tingkat Pengembalian Hasil

Tingkat Pengembalian Hasil

Setiap bentuk investasi yang baik selalu memberikan hasil atau keuntungan. Biasanya dinyatakan dalam hitungan persen per tahun. Lebih lazim disebut dengan tingkat pengembalian hasil atau rate of return / ROR. Biasa juga disebut dengan Return of Investment (ROI). Tapi ROR ini bukan IRR (Internal Rate of Return) karena itu merupakan 2 hal yang berbeda. Cara perhitungannya cukup sederhana : ( hasil yang diperoleh / modal awal ) x 100%. Misalnya kamu mendepostikan uangmu sebesar Rp10 juta selama setahun. Pada akhir tahun tersebut ternyata uangmu telah bertambah menjadi Rp11 juta. Maka itu artinya ROR deposito sebesar 10% (Rp1 juta). Hasil ini diperoleh dari bunga deposito.

Kebetulan saya pernah berinvestasi di sukuk ijarah dengan tingkat bagi hasil sebesar 12% per tahun, dimana hasilnya dibayarkan setiap bulannya. Di saham, saya pernah menikmati pembagian dividen dari INCO dan UNVR (saya tak ingat berapa persentasenya). Jadi, lain instrumennya, lain pula sumber ROR-nya. Namun cara perhitungan ROR-nya tetap sama. Di sini dibutuhkan kejelianmu untuk memilih instrumen investasi dengan ROR tertinggi. Grafik ROR diharapkan itu seperti yang terlihat di gambar atas. Naik seiring waktu, karena adanya kegiatanya re-investasi dari profit yang dihasilkan, sehingga ROR-nya akan semakin meningkat dari tahun ke tahun. Tentang ROR ini, rata-rata orang sangat menyukai investasi di bidang properti dengan alasan ROR tinggi dan lebih terjamin, padahal jika ditelaah benar-benar tidak begitu adanya. Saham masih menempati instrumen investasi dengan ROR tertinggi.

Prinsip-Prinsip Dasar Investasi - Bagian 1

Prinsip-Prinsip Dasar Investasi - Bagian 1
Walaupun dalam pengertian harfiahnya investasi itu dimaknai sebagai penanaman modal (yang sangat lazim dipahami oleh pasar riil), namun dalam praktek pasar finansial, investasi itu tak lebih dari sebuah instrumen. Ada banyak pilihan instrumen investasi ini yaitu tabungan, deposito, obligasi, sukuk, reksadana, dan saham. Dari instrumen ini, ada beberapa yang langsung terhubung dengan perusahaan yang bersangkutan, yaitu obligasi, sukuk, dan saham, dimana dana yang diperoleh dari penerbitan instrumen-instrumen ini digunakan oleh perusahaan yang bersangkutan untuk kemajuan usahanya.

Di pasar modal ada lebih dari 400 macam saham yang diperjual-belikan. Perusahan penerbit saham itu disebut emiten, dan setelah perusahaannya terdaftar di BEI, maka dengan sendirinya ia menjadi perusahaan terbuka (Tbk / go public), karena sahamnya kini bebas diperjual-belikan oleh investor publik. Di artikel Saham Menarik vs Saham Tidak Menarik, saya menuliskan ciri-ciri saham yang disukai oleh investor. Jadi tak perlu saya jelaskan lagi saham seperti apa yang layak diperhatikan. Di sini saya hendak menjelaskan apa yang menjadi prinsip-prinsip dasar seorang investor, bahkan sebelum muncul pemikiran tentang profit-loss dari bisnis ini.

Financial Freedom, Kursi Yang Diletakkan Di Atas Kepala - Bagian 4 (Selesai)

Financial Freedom, Kursi Yang Diletakkan Di Atas Kepala - Bagian 4
Lanjutan Financial Freedom.

3. Bebas dari hutang.

Ciri ketiga dari bebas finansial adalah bebas dari hutang. Hutang itu merupakan jerat atau perangkap finansial. Terbebas dari hutang merupakan pintu awal menuju bebas finansial. Yang membiarkan dirinya terjerat hutang lagi dan lagi, maka itu pasti belum bebas secara finansial.

Bebas dari hutang adalah awal tumbuhnya kekayaan. Dalam ilmu akuntansi dijelaskan bahwa kekayaan = aset - hutang. Semakin banyak hutang, maka semakin berkuranglah kekayaan, walaupun asetnya banyak. Berbeda jika bisa terbebas dari hutang, sehingga kekayaan = aset. Ini yang dituju.

Financial Freedom, Kursi Yang Diletakkan Di Atas Kepala - Bagian 3

Lanjutan Financial Freedom.

2. Hatinya tidak pernah sangkut ke uang. Karena ketika usahanya hancur, ia dengan mudah membangunnya kembali.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas radiyallahu anhuma bahwa Rasulullah SAW menasehati seseorang dan bersabda:”Gunakanlah olehmu lima kesempatan sebelum datang lima kesempitan: masa mudamu sebelum masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa fakirmu, masa kosongmu sebelum masa sibukmu, dan masa hidupmu sebelum datang masa matimu.”
(HR Hakim dalam Al-Mustadrak).

Manusia berusaha di muka bumi ini memang serba salah. Nanti kalau terlalu larut mencari nafkah, maka ibadahnya ketinggalan. Sebaliknya, asik mengejar ibadah, kerjaannya jadi lambat. Umumnya memang akan ada yang dominan salah satu. Padahal kalau mengejar duniawi, mestinya ukhrawinya tidak dilupakan. Begitu juga sebaliknya. Lantas bagaimana caranya supaya bisa mendapatkan itu?

Financial Freedom, Kursi Yang Diletakkan Di Atas Kepala - Bagian 2

Financial Freedom, Kursi Yang Diletakkan Di Atas Kepala - Bagian 2a
Dalam artikel sebelumnya, saya tuliskan bahwa ciri bebas finansial itu nanti ada 3 yaitu :
  1. Lebih banyak waktu yang dihabiskan untuk keluarga ketimbang pekerjaan
  2. Hatinya tidak pernah sangkut ke uang. Karena ketika usahanya hancur, ia dengan mudah membangunnya kembali.
  3. Bebas dari hutang
Orang yang kaya belum tentu bebas secara finansial. Tapi orang yang bebas secara finansial sudah pasti orang kaya, walaupun dia memilih untuk hidup sederhana. Maka ingatlah selalu bahwa konsep bebas finansial itu bukan uang, tapi waktu.

Financial Freedom, Kursi Yang Diletakkan Di Atas Kepala - Bagian 1

Ini cerita tahun 2003 silam. Saya sedang menunggu abang saya di lobi hotel Peninsula, Jakarta, yang saat itu sedang mengikuti acara seminar marketing dari Pak Tung Desem Waringin. Tiba-tiba datang seorang laki-laki sambil menyandang tas menawarkan saya sebuah produk Royal Jelly melalui sistem MLM. Produk kesehatan yang mengandung madu ini memang punya banyak sekali khasiatnya. Tapi bukan itu yang jadi perhatian saya. Saya cuma tertarik pada saat ia menjelaskan keinginannya untuk mencapai bebas finansial (financial freedom). Dan ia merasa yakin bahwa MLM inilah cara untuk mencapai cita-citanya itu. Saya paham ia menceritakan itu semua untuk memotivasi saya bergabung dengannya. Ia sendiri mengaku bahwa ia sebenarnya seorang lulusan sarjana tehnik yang akhirnya memilih profesi itu sebagai langkah untuk menuju bebas finansial. Sebagai tambahan informasi, saya tidak anti MLM karena saya pun bergabung dengan MLM. Tapi untuk satu alasan, saya tidak begitu yakin MLM menjadi jalan menuju bebas finansial.