Powered by Blogger.
Showing posts with label Psikologi. Show all posts
Showing posts with label Psikologi. Show all posts

Jalan Tikus Para IQ Moderat, Jalan Sang Petarung

Jalan Tikus Para IQ Moderat, Jalan Sang Petarung
"Apa bedanya orang pintar dengan orang bodoh?" Orang pintar biasanya dipahami sebagai orang yang memiliki IQ lebih tinggi, berkebalikan dengan orang bodoh. IQ sendiri merupakan standard penilaian terhadap kecerdasan manusia. Sekitar 2/3 populasi manusia berada pada IQ 85-115. Jika kamu punya IQ 130, maka bisa dikatakan kecerdasanmu di atas rata-rata. Namun, dalam prakteknya penilaian atas IQ hanya sebagai perangkat diagnostik saja. Jika ditemukan IQ di bawah 80, maka kudu cari tahu apa penyebab gangguan berfikirnya. Kecerdasan itu sendiri tak cukup diukur sebatas IQ saja. Kita butuh lebih dari sekedar IQ.

Bursa saham tak sekedar pertemuan antara si pembeli dengan si penjual, tapi juga pertemuan antara si jenius dengan si jenius yang lain. Banyak di antaranya terlahir dengan IQ yang tinggi, bakat alami mengelola keuangan yang diperoleh dari ayah/ibunya, memiliki guru-guru teknikal yang mumpuni, dan tentunya sebuah grup kecil yang selalu meluangkan waktu untuk membahas fundamental saham dan lainnya. Saya dan kamu hanya seperti orang-orang kecil yang mencoba menantang mereka di pasar saham dengan kemampuan terbaik yang kita punya, dengan IQ moderat, tanpa perangkat yang canggih, tanpa informasi yang lengkap, tanpa modal yang besar. Akui saja, banyak di antara kita yang belajar tanpa guru, kan? Lantas, bagaimana cara kita memenangkan pertarungan ini? Ada jalan tikusnya.

Menangkap Pisau Jatuh


Menangkap Pisau Jatuh
Naik turunnya harga saham akan selalu terjadi saban hari, baik itu disebabkan faktor makroekonomi, maupun faktor mikroekonomi dari saham itu sendiri. Dalam banyak kondisi, kita sulit mengetahui apa penyebab sebuah saham turun tajam. Biasanya informasi akan menyusul setelah kejadian. Aksi guyuran masif yang mengeroyok sebuah saham membuatnya babak belur dan terpuruk ke level-level fantastis. Katakanlah -15%, atau -25%. Sedemikian hebohnya aksi guyuran ini hingga menarik minat para swing trader yang hobinya menangkap pisau jatuh seperti ini. Seberapa penting ini dilakukan?

Pasar Saham Sebagai Miniatur Mentalitas Politikus, Mafia,dan Pahlawan

Pasar Saham Sebagai Miniatur Mentalitas Politikus, Mafia,dan Pahlawan
Saya tidak begitu memahami politik. Itu kata kunci utama yang harus dicatat. Ketika saya memutuskan untuk menggeluti dunia saham sekitar akhir tahun 2008 (awal bull market), saya sama sekali tidak punya gambaran apapun tentang pemerintahan, politik, dan sebagainya, karena fokus saya semata-mata pada sukses trading dan investasi. Pemikiran saya sangat sederhana saat itu : rahasia trading tentunya terletak dari kemahiran membaca grafik dan menganalisa laporan keuangan. Sayangnya setelah menjalani selama 5 tahun, saya baru menyadari bahwa ini tak sesederhana yang diperkirakan semula. Pasar saham menjadi sangat sulit terbaca karena sarat dengan yang namanya POLITIK.

10 Orang Yang Tak Sadar Sedang Menggenggam Intan

Dia Yang Tak Sadar Sedang Menggenggam Intan
Orang Indonesia masih banyak yang mengalami sindrom inferior complex, yang merasa dirinya lebih inferior ketimbang bangsa lain. Tak cukup sampai di situ, mental priyayi yang sudah berpuluh-puluh tahun menggerogoti bangsa ini membuat orang Indonesia lebih suka mencari kerja gajian ketimbang berfikir buat wiraswasta atau membuka lapangan pekerjaan. Maka, tiap kali ada pembahasan soal investasi, apalagi mendengar istilah saham, yang terbayang di benaknya adalah itu merupakan profesinya orang-orang kaya, tanpa dia tahu bahwa gembel sekalipun bisa berinvestasi di saham asalkan mengerti caranya.

Ya ini memang soal cara. Tak ada satu pun investor atau trader yang berani mengklaim bahwa cara A yang benar, atau cara B yang lebih keren, dan sebagainya. Setiap orang memang membanggakan caranya masing-masing, tapi tak ada yang klaim cara mana yang paling benar. Jadi, sekalipun kamu merupakan pendatang baru di dunia saham, tak akan ada yang berani menyindir soal kebodohanmu di pasar saham, karena semua orang berpotensi buat menjadi sangat bodoh di sini, bersamaan dengan berpotensi buat menjadi sangat pintar.

Di sini saya ingin menggarisbawahi bahwa di luar sana ada orang-orang yang sebenarnya sangat potensial buat sukses di bursa saham, namun ia tak menyadari itu. Saya menyebutnya sebagai orang yang tak sadar sedang menggenggam intan.

Level Psikologis, Apa Yang Hendak Disampaikan?

Level Psikologis, Apa Yang Hendak Disampaikan?
Saat mengulas soal prakiraan IHSG, analis selalu menggunakan istilah 'level psikologis' dalam menyampaikan level support dan resisten. Berbeda dengan saat mengulas saham, dimana analis lebih nyaman menggunakan istilah target (teknikal) atau harga wajar (fundamental), bukan target psikologis atau harga psikologis. Awal sebabnya karena IHSG dianggap sebagai indeks psikologis pasar. Kalau naik, artinya optimis, sehingga pasar bullish. Kalau turun, artinya pesimis, sehingga pasar bearish. Support itu level pesimis, resisten itu level optimis. Dan level IHSG di berapa pun akan disebut sebagai level psikologis.

Sedari awal, trader diyakinkan bahwa psikologis memegang peranan penting dalam pergerakan harga di pasar. Rasa takut dan tamak menjadi motor penggerak, sekaligus jawaban terhadap biang kerok naik turunnya harga. Selamanya psikologis mengandung makna relatif, mudah berubah-ubah, dan mustahil absolut.

Kalau situasi bagus, maka targetnya akan bagus. Begitu juga sebaliknya. Maka level psikologis itu merupakan nilai yang relatif, belum pasti, dan sangat tergantung dengan kondisi nantinya. Ya, merupakan prakiraan semata-mata, dan karena itulah tidak bisa disalahkan, tapi bukan berarti bisa dibenarkan. Kita akan ulas soal yang kelihatan sepele ini, padahal tidak.

Kalau Bukan Karena Sabar, Saya Akan Sulit Memahami Value Investing

Kalau Bukan Karena Sabar, Saya Akan Sulit Memahami Value Investing
Penulis : Zulbiadi Latief
Email : zulbiadi@gmail.com, akunternet@gmail.com
Blog : https://analis.co.id/


Bicara value investing pasti semua sudah tahu seperti apa gaya investasinya. Ya, value investing selalu melihat bagaimana valuasi dan nilai intrinsik dari saham yang akan dijadikan sebagai ladang investasinya. Beda halnya dengan growth investing dimana mereka lebih fokus pada pertumbuhan dari emiten, entah itu sahamnya mahal atau tidak, tidak menjadi soal bagi growth investor. Sekalipun demikian, growth investing –kata Warren Buffett – juga merupakan bagian dalam analisis seorang value investor. Ya, karena pertumbuhan dari suatu emiten juga menjadi dasar perhitungan dalam nilai intrinsik sebuah saham.

Di atas adalah gambaran umumnya soal value investing yang merupakan aliran investasi saham yang saya pilih saat ini. Sekarang, saya mau sedikit cerita soal bagaimana berlaku sabar dalam menjalani strategi trading ini, yang kata orang banyak kita bisa kaya sambil tidur dengan menerapkan strategi value investing.

Tumbangnya Si Provokator Akibat Langkahnya Sendiri

Tumbangnya Si Provokator Akibat Langkahnya Sendiri
Pasar sudah mengetahui arah lanjutan, trader tidak. Maka dalam rentang waktu yang sempit, pergerakan harga seperti permainan pingpong saja. Lalu muncullah si provokator dengan massa yang besar untuk memberikan perlawanan semata-mata hanya ingin mengetes kekuatan pasar. Ia membombardirnya dengan modal yang besar dengan alasan bahwa itulah satu-satunya cara untuk bisa memaksa pasar bergerak sesuai keinginannya. Tapi pergerakan yang besar seperti itu justru akan mengaktifkan sinyal tertentu di pasar. Selalu ada pihak yang berlawanan dengan kekuatan modal yang besar juga, bahkan mungkin jauh lebih besar. Sayangnya ini bukan soal siapa yang punya modal paling kuat, melainkan siapa yang punya otak lebih encer. Masing-masing pihak harusnya mengerti bahwa pasar itu tak bisa dipaksa. Ia bukan milik sekelompok bandar, bukan milik sekelompok sekuritas, bukan milik asing, bukan milik siapa-siapa. Ia adalah milik bersama. Maka pergerakan sebesar apapun akan berakhir pada probabilitas 50 : 50. Berharap saja bahwa level harga yang berlangsung itu bukan perangkap. Kalau ternyata itu adalah perangkap, maka pasar bisa melakukan hal yang tak terduga, berbalik arah, menyapu bersih, dan meninggalkan trader dalam penyesalan yang mendalam.

Melek Situasi, Jangan Tertawa Terlalu Dini

Melek Situasi, Jangan Tertawa Terlalu Dini
Pergerakan harga saham itu seperti jaring-jaring dengan letak lubang yang abstrak. Di satu waktu lubangnya menganga lebar, di waktu yang lain rapat luar biasa. Di satu waktu posisinya bisa sangat rendah, di waktu lain posisinya bisa sangat tinggi. Memprediksi pergerakan harga saham merupakan keasikan sekaligus kesengsaraan. Bagaimana tidak, sekali waktu prediksinya bisa akurat, tapi waktu yang lain prediksinya bisa meleset parah. Mereka yang belum sepenuhnya memahami situasi seperti ini punya kebiasaan yang lebih kurang sama, yaitu sama-sama gembira yang amat sangat saat prediksinya kebetulan kena. Ya tentu saja, siapa sih yang tidak? Tapi yang membedakannya, kegembiraan itu membuatnya merasa puas dan mencoba mengulanginya lagi. Dan apa yang terjadi? Ia mencoba menebak letak lubang sebuah jaring-jaring dengan cara yang persis sama dan.... boom! Meleset!!

Totalitas Di Saham : Menunggu Kabar Dari Langit

Totalitas Di Saham : Menunggu Kabar Dari Langit
Dari awal terjun ke profesi pasar modal, saya sudah menyadari bahwa profesi ini sebenarnya sangat berat. Namun, karena rasa ketertarikan yang amat besar (tentu saja, pasar modal memang punya daya pikat yang kuat), maka saya berusaha sekuat tenaga untuk menepis asumsi bahwa profesi ini berat. Dan saya ternyata tak sendiri. Dari banyak tulisan-tulisan yang pernah saya baca di buku, blog, forum, jarang sekali yang berani terang-terangan mengatakan bahwa profesi ini berat. Rata-rata dengan pongahnya mengklaim bahwa itu semua bisa dicapai dengan cara yang mudah dan sederhana. Lantas apa yang terjadi? Ada banyak omong kosong yang terjawab. Sekali waktu prediksinya memang benar, tapi sekali waktu prediksinya meleset parah. Dan ketakutan akan profesi ini berat, bahkan benar-benar berat, semakin nyata. Saya akan jelaskan alasannya.

Si Pemain Ngotot Yang Sibuk Menggertak

Pola Bunuh Diri Si Pemain Ngotot
Naik turunnya harga saham itu tidak gampang. Ada yang terus menghalang-halangi agar harga tidak naik dengan cara mengganjal offer lagi dan lagi. Sebaliknya ada juga yang mengganjal bid terus-terusan agar harga tidak turun. Kedua aksi itu berakhir pada harga yang tak kemana-mana pada hari itu, meninggalkan kebingungan pada pelaku pasar tanpa pernah tahu mau kemana harga keesokannya. Aksi semacam itu disebut sebagai gertakan (bluffing), tapi buat apa menggertak? Jika saya hanya memegang 10 lot saham AALI, apakah saya pantas digertak? Muka gile. Sama seperti gambar di samping ini, sudahlah kecil, ditekan pula. Ini butuh penjelasan yang rada panjang.

Over The Limit, Butuh Lebih Dari Sekedar Motivasi

Over The Limit, Butuh Lebih Dari Sekedar Motivasi
Agar bisa berhasil di pasar saham, dibutuhkan lebih dari sekedar motivasi demi menemukan sistem yang tepat dan cara eksekusi yang tepat pula. Dan untuk menemukan sistem semacam itu, mau tidak mau kamu harus jatuh bangun, terjengkang, terkapar, terluka parah, lalu bangkit lagi, tersungkur lagi, bangkit lagi, dan seterusnya, tapi sering kali yang terjadi hari demi hari performa trading malah makin parah dari sebelumnya, berkali-kali, berulang-ulang, hingga emosi memuncak karena merasa dibodohi pasar. Kegagalan sememangnya menjadi isyarat atas 2 tanda, yaitu pertama, kamu harus mundur atau kedua, kamu tetap ngotot maju dengan resiko yang tak sedikit. Sebelum kamu memutuskan untuk mundur, tidak ada salahnya lebih dulu kamu membaca beberapa kalimat motivasi berikut ini.

Menentukan Pilihan, Antara Teknikal Dan Fundamental

Menentukan Pilihan, Antara Teknikal Dan Fundamental
Mana yang lebih penting, analisa teknikal atau analisa fundamental? Jawaban yang sering kita dengar adalah sama pentingnya. Tapi kalau didesak lagi, kira-kira kamu akan menjawab yang mana? Apakah analisa teknikal lebih penting ketimbang analisa fundamental, atau justru sebaliknya? Saya tak bisa memilih satu di antara dua, maka saya memutuskan untuk menjalani keduanya secara acak. Ya kita tak bisa memberikan penilaian bahwa analisa yang satu lebih penting ketimbang analisa yang lain. Sama pentingnya. Kalau soal mana analisa yang paling bagus, pada kenyataannya analisa mana saja asalkan benar-benar dikuasai dengan benar, maka akan memberikan hasil yang bagus. Jadi ini bukan soal mana yang penting atau tidak penting, bagus atau tidak bagus, tapi soal analisa mana yang paling bisa kamu kuasai dengan benar-benar baik. (Baca juga : Fundamental atau Teknikal?.)

Memahami Ilusi : Belajar Dari Sebuah Gambar

Memahami Ilusi : Belajar Dari Sebuah Gambar
Sejarah menuliskan bahwa mata sangat mudah tertipu oleh gambar yang sederhana. Pada tahun 350SM, Aristoteles mencatat bahwa indera kita bisa dipercaya, tetap mereka dengan mudah pula tertipu. Ini seperti melihat objek yang diam, tapi tampak bergerak, melihat objek yang besar, padahal kecil, melihat objek bergerak ke kiri, padahal ke kanan, melihat objek yang bergerak naik, padahal turun, dan sebagainya. Dalam memahami ilusi, hal yang paling mendasar adalah kenal betul dengan objek yang dimaksud dan dari sudut pandang mana kita melihatnya, karena ketika kita berhadapan dengan ilusi, kebenaran itu menjadi sesuatu yang relatif, tidak lagi mutlak. Dan saat kebenaran relatif itu dihadapkan pada pasar, maka tak banyak pilihan yang tersisa selain hancur berkeping-keping di dalamnya. Hal semacam itulah yang ingin diantisipasi. Tulisan ini mungkin menarik buat kamu simak. (Baca juga : Tape Reading, Menghadapi Jurus Double Standard.)

Kisah Ayam Kalkun

Kisah Ayam Kalkun
Kisah ini dituturkan oleh Fred C. Kelly, pengarang buku Why You Win or Lose, yang menggambarkan bagaimana para investor maupun trader konvensional mengambil keputusan jualnya. Sepintas kisah di bawah ini menyindir tentang keputusan seorang pelaku pasar yang terlalu lama memegang saham, namun dari pengamatan saya sendiri kisah ini punya 2 makna yang berbeda satu sama lain. Akan saya jelaskan di bawahnya.

Ada seorang pria tua yang sedang berusaha menangkap ayam-ayam kalkun liar. Pak Tua itu membawa alat perangkap, yaitu sebuah alat yang terdiri dari kotak besar dengan tutupan pintu yang bergantung di bagian atasnya. Pintu itu dibiarkannya terbuka dengan alat penyangga yang diikat dengan benang dan dapat ditarik dari jarak 30 meter jauhnya. Jagung ditebarkan untuk menjebak si kalkun. Makin dekat ke pintu jebakan, makin banyak jagung yang ditebarkan. Paling banyak ada di dalam kotak itu. Jika sudah cukup banyak kalkun yang masuk perangkap, Pak Tua itu akan menarik benangnya sehingga penyangga jatuh dan pintu pun tertutup. Sekali pintu tertutup, dia tidak dapat membukanya kembali tanpa menaiki kotak tersebut. Menurut Pak Tua, saat yang paling tepat untuk menarik benang dan menutup pintu jebakan adalah ketika kalkun-kalkun yang terperangkap di dalamnya sudah cukup banyak (maksimal).

Mencermati Komentar Si Pandir

Mencermati Komentar Si Pandir
Kita mungkin pernah mengalami sulitnya membahas sesuatu dengan si pandir. Sebutan pandir ini bukan saja karena ia memberikan alasan yang bodoh, tapi juga menolak untuk dicerahkan. Ini seperti orang-orang yang mengkritik Pemerintah atas bencana asap, tapi tak pernah mengkritik perusahaan pembakar hutan yang menyebabkan bencana asap tersebut. Mereka mengutuk Pemerintah yang lamban menanggulangi asap, tapi tak pernah mengutuk mereka yang telah dengan sengaja membakar lahan. Dan mereka terus mengkritik tanpa pernah tahu bahwa penanggulangan asap terus berlangsung. Dengan suasana politik seperti sekarang ini, sangat mudah menemukan tipikal manusia pandir ini. Saya mendefinisikannya sebagai orang-orang yang selalu memberikan alasan yang sembarangan dan sering berakhir pada hasil analisa yang melenceng jauh dari sasaran.

Fenomena pandir ini banyak bermunculan ketika IHSG turun tajam akibat terpengaruh oleh penguatan dollar. Si pandir tentu akan menyalahkan pemerintah yang tidak becus menjaga nilai tukar rupiah tanpa ia tahu bahwa seberapa banyakpun BI mengintervensi tidak akan membuat rupiah menguat. Bertahan iya, tapi menguat tidak. Ini siklus yang harus dilewati, tapi tentunya si pandir tidak pernah mengkaji ke sana. Ia memberikan contoh solusi ini dan itu, tanpa ia menyadari solusi yang diberikannya itupun ternyata lebih konyol lagi. Saya tidak tahu apa persisnya yang dikejar si pandir ini, selain menghasut orang lain. Ada banyak sekali pandir di luar sana, dan merekalah menjadi salah satu alasan saya mengambil kesimpulan bahwa IHSG sudah di bottom dan saham-saham di IHSG tengah diakumulasi. Dan alhamdulillah, saya bisa mengecap manisnya profit dari AALI, SMGR, dan PTPP.

Mengeset Masa Tunggu Yang Tak Terbatas

Masa Tunggu
Keputusan trading tidak hanya soal beli dan jual, tapi juga tahan dan tunggu. Beli dan jual bisa dilakukan dalam waktu yang singkat, tapi tahan dan tunggu membutuhkan waktu yang lebih lama. Pada dasarnya tahan dan tunggu itu punya dasar konsep yang sama yaitu sama-sama menunggu. Bedanya, pada posisi tahan, trader menunggu buat jual, sedangkan pada posisi tunggu, trader menunggu buat beli. Karena penjelasan nantinya merupakan kombinasi antara keduanya, maka saya satukan saja sebagai Tunggu.

10 SIfat Orang Yang Sebaiknya Menjauh Dari Dunia Saham

10 SIfat Orang Yang Sebaiknya Menjauh Dari Dunia Saham
Siapa saja boleh masuk ke dunia saham. Semakin banyak yang ikut, maka semakin banyak modal berputar, dan semakin besar likuiditasnya, sehingga kesempatan untuk meraih keuntungan pun semakin terbuka lebar. Uang, uang, dan uang memang menjadi darah di bisnis ini. Tidak seperti bisnis riil lain, saham yang merupakan bisnis keuangan tidak berbentuk bangunan, toko, mobil, dan sebagainya, melainkan lembaran-lembaran yang mencatat tentang kepemilikan seseorang di sebuah perusahaan. Sekarang ini pencatatan tersebut dilakukan tanpa warkat (scriptless) dan diawasi dengan ketat oleh KSEI. Prosesnya lebih cepat, lebih akurat, dan lebih aman.

Banyaknya uang beredar di dunia saham ini tentu akan menggoda siapa saja untuk ikut serta. Tipikal orang awam selalu menyukai mana-mana saja bisnis yang berpotensi memberikan keuntungan yang sebesar-besarnya dan kerugian yang sekecil-kecilnya. Pasar modal merupakan tempat dimana hal itu sangat bisa dilakukan. Tapi sayangnya dunia saham ini kurang ramah bagi pendatang baru. Ups.. tak cuma bagi pendatang baru, tapi juga bagi penghuni lama yang memiliki 10 sifat sbb :

Banyak Pungguk Merindukan Bulan

Pungguk Merindukan Bulan
Ada satu kebiasaan unik yang selalu dijumpai di pasar saham. Ketika indeks turun dan harga anjlok tajam, maka mendadak muncul rekomendasi-rekomendasi dadakan yang mengatakan "Kalau ASII turun ke 5000, ambil saja. Ga usah pake mikir." Atau "Kalau LSIP turun ke 900, isi porto 100% LSIP deh." Atau "Kalau SMGR 9000, bakalan borong sebanyak-banyaknya. Kalau perlu, jual tanah dan rumah, belikan semua ke SMGR." Rekomendasi-rekomendasi itu muncul pada pertengahan tahun 2014 dimana IHSG ambruk -6% dari 5262 ke 4900. Level-level tersebut merupakan level-level support terendah saham-saham tersebut sebelum rebound pada awal tahun 2014 lalu. Jadi memang penilaiannya sangat teknikal sekali. Ini memang bukan cara yang salah dalam menyikapi saham yang turun, tapi tak bisa dibilang benar karena dengan melakukan cara itu, samalah kita seperti pungguk yang merindukan bulan, yang menunggu bulan turun untuk menyapanya.

Segala Cerita Tentang PER

Segala Cerita Tentang PER
Seandainya ada rating buat menilai ratio fundamental mana yang menempati urutan teratas yang paling sering digunakan oleh investor, mungkin jawabannya adalah PER. PER atau Price Earning Ratio adalah rasio harga saham dengan laba bersihnya. Selain PER, ada juga PBV (Price to Book Value), PSR (Price to Sales Ratio), dan sebagainya. Ratio-ratio seperti ini cukup familiar digunakan, karena merupakan pembanding harga pasar dengan kondisi fundamentalnya. Berbeda dengan ROE (Return On Equity), DER (Debt Earning Ratio), NPM (Net Profit Margin) yang merupakan rasio fundamental dengan fundamental juga tanpa melibatkan harga yang tengah terjadi pasar sama sekali. Pertanyaan selanjutnya, lantas PER ini digunakan buat apa? Inilah segala cerita tentang PER.

Safety Precaution Dalam Trading Saham

Safety Precaution Deddy Corbuzier
Deddy Corbuzier, seorang mentalist asal Indonesia, pernah menyampaikan nasehat pada peserta di acara The Next Mentalist yang digelar di Trans7, bahwa safety precaution di permainan apapun harus dipersiapkan. Nasehat itu ia berikan setelah ia merasa sangat kecewa dengan penampilan Ardi Miller, yang tangannya tertembus paku yang ditembakkan dari nail gun saat melakukan aksi sulap di atas panggung. Tampaknya rencana awal adalah menembakkan paku ke tangan seorang sukarelawan, Marisa. Dan jika aksi tersebut berhasil, tentu akan jadi prestasi gemilang buat Ardi. Tapi entah kenapa rencana berubah dan ia menembakkan paku itu ke tangannya sendiri... membawa petaka buat dirinya sendiri.

Deddy menanyakan alasan gagalnya aksi tersebut ke Ardi. Ardi menjawab, bahwa sebenarnya tidak ada trik apapun di situ. Ia hanya harus menghafal dimana slot paku yang kosong, tapi celakanya ia lupa, sehingga saat ia menembakkan paku tersebut ke tangannya, itu benar-benar aksi untung-untungan. Dan tangannya pun tertembus paku.