Kita berfikir bahwa keberadaan kita ini tak diinginkan oleh pasar. Kita juga berfikir mungkin segala aktivitas di bursa saham ini hanya buat mengelabui dan membodohi kita saja. Si Mr. Market berfoya-foya di atas penderitaan kita yang bisa dibilang selalu saja salah posisi, baik itu beli maupun jual. Tak hanya yang bermodal besar saja yang merasakan seperti itu, yang jelas-jelas trader bermodal kecil pun merasakan hal yang sama. Apakah pasar sebegitu arogannya sehingga sedikit saja kita ambil barangnya, lantas dia semena-mena melakukan kontra posisi terhadap kita? Untuk menjawabnya, kita mesti lebih dulu mengenali siapa Mr. Market sebenarnya.
Home » Posts filed under Bandar
Siapakah Si Mr. Market?
Kita berfikir bahwa keberadaan kita ini tak diinginkan oleh pasar. Kita juga berfikir mungkin segala aktivitas di bursa saham ini hanya buat mengelabui dan membodohi kita saja. Si Mr. Market berfoya-foya di atas penderitaan kita yang bisa dibilang selalu saja salah posisi, baik itu beli maupun jual. Tak hanya yang bermodal besar saja yang merasakan seperti itu, yang jelas-jelas trader bermodal kecil pun merasakan hal yang sama. Apakah pasar sebegitu arogannya sehingga sedikit saja kita ambil barangnya, lantas dia semena-mena melakukan kontra posisi terhadap kita? Untuk menjawabnya, kita mesti lebih dulu mengenali siapa Mr. Market sebenarnya.
Bagaimana HFT Mengetahui Support dan Resisten?

Bid-offer akan tersusun otomatis sedemikian rupa hingga membentuk pola-pola tertentu. Sebut saja pola bull defensif dan bear defensif. Bull defensif buat mengganjal bid saat harga turun, sedangkan bear defensif buat mengganjal offer saat harga naik. Kebalikannya adalah bull attack dan bear attack. Bull attack buat mengganjal bid saat harga naik, sedangkan bear attack buat mengganjal offer saat harga turun. Kita semua pasti sering melihat pola-pola semacam ini. Yang menjadi pertanyaannya adalah apakah ganjalan-ganjalan itu mencerminkan posisi support-resisten yang sebenarnya? Mari kita ulas bersama-sama.
Membedah HFT, Konsep Trading Ala Robot
Di luar 2 konsep ini, ada satu konsep lagi yang lebih menitikberatkan pada pengambilan kesempatan (sekecil apapun itu), lalu memilih saham dengan probabilitas terbaik, dan membatasi resiko lewat manipulasi antrian bid-offer. Tehnik ini disebut HFT (High Frequency Trading). Bisa juga disebut HST (High Speed Trading).
Trik Di Pasar Saham, Apa Yang Kamu Cari?
Pergerakan pasar sering kali tak terduga. Analis harus berjuang lebih keras untuk menemukan solusi demi mengantisipasi itu. Lebih disukai solusi yang mudah dan sederhana. Solusi semacam itu disebut sebagai trik. Beragam metode bermunculan. Alhasil ada begitu banyak trik. Lebih kurang trik-trik tersebut membahas seputar membaca candlestick lebih detil, menggunakan oscillator dengan tepat, menarik garis trend yang lebih baik, dan sebagainya. Semuanya itu sudah sangat lazim dibahas oleh para teknikalis. Kita nyaris tak melihat ilmu baru apapun di situ. Ada juga yang memberikan trik soal manajemen uang, manajemen resiko, dan lain-lain. Beberapa memberikan trik soal momentum, seperti waktu terbaik membeli sekitar jam 13.30 s/d 15.00, setiap tanggal 18-22 setiap bulannya, tidak aman memegang saham di hari Jum'at, yang kesemuanya itu berdasarkan penilaian subjektif yang sangat diragukan kebenarannya. Saya sendiri pernah mencoba melakukan pendekatan analisis terhadap pemilihan jam, hari, hingga tanggal, tapi itu semua tak menjawab apapun. Pasar berhasil melampaui segala prediksi yang berbau-bau waktu seperti itu. Salah-salah malah terjebak ke dalam mitos.
Si Pemain Ngotot Yang Sibuk Menggertak
Konsep Lain Dari Akumulasi Dan Distribusi - Bagian 2
Gambar di atas merupakan pengembangan dari gambar sebelumnya di Bagian 1 yang lalu. Terlihat lebih lengkap dengan garis warna-warni menandai fase yang sedang berlangsung. Gambar ini saya peroleh dari www.readtheticker.com. Jika pada gambar bagian 1 hanya ada 4 fase (accumulation, distribution, mark up, mark down), maka di sini ada 6 fase karena ada 2 fase tambahan yaitu re-accumulation dan re-distribution.
Garis warna biru menandai daya beli yang besar dan daya jual yang lemah. Hampir semua pelaku pasar meyakini konsep bahwa fase akumulasi merupakan fase dimana pembeli yang dominan, namun dalam kenyataannya tidak begitu. Penjual bisa jadi lebih dominan, hanya saja entah kenapa harga tak lagi turun lebih jauh. Yang seperti ini sering sekali saya temukan secara kebetulan. Posisi bid offernya pun terbilang fantastis, kalau tak mau dibilang sinting. Betapa tidak, bid bisa langsing hanya berkisar ribuan lot, tapi offer bisa luar biasa tebal berkisar puluhan sampai ratusan ribu lot. Naluri trader pastinya akan berbisik dalam hati, "Habislah saham yang satu ini. Bakalan hancur." Anehnya harga tak kunjung turun. Selanjutnya sekonyong-konyong ada investor gila yang memborong offer, mengganjal bid dengan puluhan ribu lot, persis seperti seekor macan yang akan melawan kawanan gajah. Berhasil? Iya berhasil. Barisan offer tersebut mendadak tipis, bak asap tebal kena tiup angin kencang.
Konsep Lain Dari Akumulasi Dan Distribusi - Bagian 1
Ragam Cara Buat Si Pecundang Pelanggar Aturan
Memahami Ilusi : Belajar Dari Sebuah Gambar
Breakout Bid - Offer, Melihat Cahaya Tanpa Tahu Arah
Di artikel ini saya menuliskan sbb :
Breakout offer tebal, lalu harga naik 3 tick. Esoknya harga malah turun sedikit di bawah harga offer tebal kemaren. Apakah itu penurunan yang sementara sebelum naik lebih tinggi? Ini akan membuatmu berfikir bahwa bandar yang melakukan breakout offer kemaren tentunya tidak akan membiarkan harga turun begitu saja karena ia bisa nyangkut. Tapi yang terjadi harga bisa lanjut turun dan meninggalkanmu dalam keheranan tanpa pernah tahu apa yang terjadi pada bandar yang kamu bilang nyangkut itu.
Tape Reading, Menghadapi Jurus Double Standard - Bagian 2
Pertanyaannya, seberapa besar tingkat keberhasilan trading dari TR ini? Sebelum saya menjawab ini, saya akan lanjutkan illustrasi dari bagian 1 kemarin. Setelah beberapa menit berlalu, posisi bid offer berubah menjadi seperti di bawah ini :
| Lot | Bid | Offer | Lot |
| 2354 | 1265 | 1270 | 2333 |
| 245 | 1260 | 1275 | 1851 |
| 154 | 1255 | 1280 | 2876 |
| 300 | 1250 | 1285 | 1501 |
| 1581 | 1245 | 1290 | 285 |
| 589 | 1240 | 1295 | 784 |
| 5223 | 9630 |
Jreng!! Ternyata ada bandar gila yang dengan gagah berani menerobos ganjalan offer tebal 1265. Pesan yang mau disampaikan tentunya harga akan dibawa naik dengan alasan yang kita tak pernah tahu pasti. Apakah ia benar-benar akan naik? Ya belum tentu. Masih banyak rentetetan tarian yang harus dilewati sebelum melihat bahwa harga benar-benar akan naik atau turun. Biasanya jemari trader dengan otomatis akan mencari siapa bandar gila itu, F atau D, dan dari sekuritas mana, apakah top buyer atau bukan, berapa yang sudah diakumulasikannya selama 3 hari, 7 hari, sebulan, dan seterusnya. Jika masih ragu-ragu juga, maka kita akan buru-buru membuka chart untuk memeriksa kembali analisa teknikalnya. Dan saya bisa menuliskan semua langkah-langkah TR ini di luar kepala sampai jari keriting, tapi saya yakin sebanyak apapun saya tuliskan soal TR ini, tetap tidak akan menyentuh permasalahan yang sebenarnya dan selalu menyisakan keragu-raguan yang besar, termasuk pada diri saya sendiri. Kenapa begitu? Karena yang terjadi sebenarnya adalah antara pola bid offer buat harga yang mau naik itu bisa persis sama dengan yang mau turun. Inilah yang disebut jurus Double Standard dari pasar dan ketika trader berhadapan dengan situasi seperti ini, maka satu-satunya yang bisa menyelamatkannya cuma nasib baik (hoki / keberuntungan), karena umumnya trader akan gagal di situ.
Tape Reading, Menghadapi Jurus Double Standard - Bagian 1
Bagaimana Harga Saham Terbentuk?
Contoh, ada rencana aksi korporasi untuk merger dan akuisisi yang biasanya direspon positif oleh pasar, padahal itu masih sebatas wacana. Valuasi saham masih sama karena menggunakan nilai dari laporan keuangan yang sama, belum diupdate apalagi berubah. Apakah akuisisi tersebut akan merubah valuasi saham tersebut? Bisa iya, bisa tidak. Kita harus menunggu LK berikutnya untuk mengetahuinya. Pertanyaannya, bagaimana harga saham terbentuk berdasarkan aksi korporasi tersebut? Apakah ada satu mekanisme yang mengatur itu, yang dengan otomatis menaikkan harga saham, kendatipun acuan valuasinya masih tetap sama? Katakanlah investor menilai prospek perusahaan itu ke depannya, tapi tetap saja tidak, atau setidaknya belum, merubah valuasi apapun sebelum perusahaan tersebut benar-benar membuktikan kinerjanya.
Transaksi Repo : Ketika Kodok Memutuskan Tinggal Di Dalam Ember - Bagian 2
Lanjutan dari Transaksi Repo : Ketika Kodok Memutuskan Tinggal Di Dalam Ember - Bagian 1
Berapa profit yang diperoleh jika aksi ini berhasil?
Profit yang diperoleh : (Rp3200 - Rp800) x 24,5 juta = Rp58.800.000.000,-
Net profit ini digunakan untuk membayar repo plus bunga yang jatuh tempo :
Rp58.800.000.000 - Rp27.855.520.000 = Rp30.944.480.000,-
Inilah profit di atas kertas. Tapi apakah cukup sampai di situ saja? Tentu saja tidak. Setelah menebus repo, maka emiten LBAY kembali memiliki 53,9 juta lembar sahamnya, utuh, tanpa kurang satu lembar pun. Harga sekarang sudah Rp3200 atau naik 300% dari harga awal setahun lalu. Apa saham ini mau disimpan? Bisa ya bisa tidak. Tapi biasanya saham ini akan dijual bertahap. Kita asumsikan ada 5 tahap dengan jumlah lembar saham yang sama dimana setiap tahapan itu punya batasan Auto Reject kiri sebesar 24.9%. Maka urutannya akan jadi sbb :
Transaksi Repo : Ketika Kodok Memutuskan Tinggal Di Dalam Ember - Bagian 1
Mencermati Lemparan Air Ke Dalam Ember
Saya dan Bandar. Bandar dan Kita. Saya, Bandar, dan Kamu. -- Bagian 2
Melanjutkan tulisan soal perbandaran ini, tinggal satu bahasan lagi yaitu saya, bandar, dan kamu. Sekarang coba jawab satu pertanyaan sederhana. Apa alasan kamu memilih dan membeli sebuah saham? Alasan yang muncul antara lain sbb :
- Hasil LK-nya bagus. Laba naik; atau
- Laba turun, tapi historis fundamentalnya bagus dengan pertumbuhan yang tinggi. Jadi kalau harga turun, ini kesempatan buat beli. #penuh_percaya_diri; atau
- Teknikal bagus. Ada potensi upside ke bla bla bla; atau
Saya dan Bandar. Bandar dan Kita. Saya, Bandar, dan Kamu. -- Bagian 1
Judulnya rada puitis, ya? Soalnya saya menuliskannya dengan penuh perasaan. Oke tak usah pedulikan judulnya. Saya akan bahas perbandaran dari sudut pandang saya sepanjang yang saya ketahui.















