Powered by Blogger.
Showing posts with label Bandar. Show all posts
Showing posts with label Bandar. Show all posts

Siapakah Si Mr. Market?

Siapakah Si Mr. Market?
Mungkin banyak dari kita yang merasa bahwa pasar selalu memantau gerak-gerik kita. Tiap kali mengambil posisi beli, maka tiap kali itu pula harga beringsut turun, bahkan tak jarang malah diguyur lebih dalam. Begitu juga ketika mengambil posisi jual, maka harga justru naik lebih kencang. Celakanya, sekalipun sahamnya sudah berganti-ganti, perlakuan yang kita rasakan pun masih tetap sama, tak peduli itu saham berkapitalisasi besar / kecil, likuditas besar/kecil. Seolah-olah setiap saham itu ada setan penunggunya yang siap menerkam siapa saja yang coba-coba mengganggunya.

Kita berfikir bahwa keberadaan kita ini tak diinginkan oleh pasar. Kita juga berfikir mungkin segala aktivitas di bursa saham ini hanya buat mengelabui dan membodohi kita saja. Si Mr. Market berfoya-foya di atas penderitaan kita yang bisa dibilang selalu saja salah posisi, baik itu beli maupun jual. Tak hanya yang bermodal besar saja yang merasakan seperti itu, yang jelas-jelas trader bermodal kecil pun merasakan hal yang sama. Apakah pasar sebegitu arogannya sehingga sedikit saja kita ambil barangnya, lantas dia semena-mena melakukan kontra posisi terhadap kita? Untuk menjawabnya, kita mesti lebih dulu mengenali siapa Mr. Market sebenarnya.

Bagaimana HFT Mengetahui Support dan Resisten?

Bagaimana HFT Mengetahui Support dan Resisten?
HFT punya kemampuan untuk memanipulasi antrian bid-offer. Memanipulasi di sini semata-mata buat mengecohkan analisis lawan terhadap kekuatan bid dan offer. Jika harga hendak naik, maka yang pertama kali dilakukan justru mengguyur buat menilai kekuatan bid, dan sebaliknya. Nah, kalau hanya sekedar guyuran, maka pergerakan itu akan mudah diantisipasi oleh HFT lain. Namun, ceritanya akan beda kalau guyuran tersebut didukung dengan ganjalan besar di offer karena hal itu bisa diartikan sebagai dukungan penuh terhadap beruang. Kita tidak akan pernah tahu apakah ganjalan tersebut hanya menggertak atau benar-benar sebuah bear power. Sampai di sini kita dipaksa berfikir di luar kotak.

Bid-offer akan tersusun otomatis sedemikian rupa hingga membentuk pola-pola tertentu. Sebut saja pola bull defensif dan bear defensif. Bull defensif buat mengganjal bid saat harga turun, sedangkan bear defensif buat mengganjal offer saat harga naik. Kebalikannya adalah bull attack dan bear attack. Bull attack buat mengganjal bid saat harga naik, sedangkan bear attack buat mengganjal offer saat harga turun. Kita semua pasti sering melihat pola-pola semacam ini. Yang menjadi pertanyaannya adalah apakah ganjalan-ganjalan itu mencerminkan posisi support-resisten yang sebenarnya? Mari kita ulas bersama-sama.

Membedah HFT, Konsep Trading Ala Robot

Membedah HFT, Konsep Trading Ala Robot
Trading itu tentang probabilitas, kesempatan, dan resiko. Fundamentalis biasanya sangat ketat dalam membatasi resiko lebih dulu, barulah menilai probabilitas (yaitu dalam hal ini menghitung nilai saham), untuk selanjutnya menunggu kesempatan paling tepat untuk masuk (yaitu saat harga saham sudah undervalued). Berbeda dengan teknikalis yang biasanya lebih dulu fokus dalam menilai probabilitas (yaitu mana saham yang berpeluang naik, mana yang tidak), menemukan kesempatan terbaik saat di trading harian (yaitu dengan menilai indikator, support-resisten, trigger, dan sebagainya), lalu membatasi resiko lewat manajemen uang.

Di luar 2 konsep ini, ada satu konsep lagi yang lebih menitikberatkan pada pengambilan kesempatan (sekecil apapun itu), lalu memilih saham dengan probabilitas terbaik, dan membatasi resiko lewat manipulasi antrian bid-offer. Tehnik ini disebut HFT (High Frequency Trading). Bisa juga disebut HST (High Speed Trading).

Trik Di Pasar Saham, Apa Yang Kamu Cari?

Trik Di Pasar Saham, Apa Yang Kamu Cari?
Trik merupakan cara sederhana untuk meraih profit dengan cara memanfaatkan celah (bug) dari sebuah sistem. Kita tentu yakin bahwa di dalam sebuah sistem yang paling hebat sekalipun, pasti akan selalu ada celah di situ. Dan jika kita berhasil mengenali celah tersebut, maka terbuka peluang untuk meraih profit dengan cara yang mudah. Lebih disukai jika celah tersebut belum diketahui oleh banyak orang. Adakah celah semacam itu di bursa saham?

Pergerakan pasar sering kali tak terduga. Analis harus berjuang lebih keras untuk menemukan solusi demi mengantisipasi itu. Lebih disukai solusi yang mudah dan sederhana. Solusi semacam itu disebut sebagai trik. Beragam metode bermunculan. Alhasil ada begitu banyak trik. Lebih kurang trik-trik tersebut membahas seputar membaca candlestick lebih detil, menggunakan oscillator dengan tepat, menarik garis trend yang lebih baik, dan sebagainya. Semuanya itu sudah sangat lazim dibahas oleh para teknikalis. Kita nyaris tak melihat ilmu baru apapun di situ. Ada juga yang memberikan trik soal manajemen uang, manajemen resiko, dan lain-lain. Beberapa memberikan trik soal momentum, seperti waktu terbaik membeli sekitar jam 13.30 s/d 15.00, setiap tanggal 18-22 setiap bulannya, tidak aman memegang saham di hari Jum'at, yang kesemuanya itu berdasarkan penilaian subjektif yang sangat diragukan kebenarannya. Saya sendiri pernah mencoba melakukan pendekatan analisis terhadap pemilihan jam, hari, hingga tanggal, tapi itu semua tak menjawab apapun. Pasar berhasil melampaui segala prediksi yang berbau-bau waktu seperti itu. Salah-salah malah terjebak ke dalam mitos.

Si Pemain Ngotot Yang Sibuk Menggertak

Pola Bunuh Diri Si Pemain Ngotot
Naik turunnya harga saham itu tidak gampang. Ada yang terus menghalang-halangi agar harga tidak naik dengan cara mengganjal offer lagi dan lagi. Sebaliknya ada juga yang mengganjal bid terus-terusan agar harga tidak turun. Kedua aksi itu berakhir pada harga yang tak kemana-mana pada hari itu, meninggalkan kebingungan pada pelaku pasar tanpa pernah tahu mau kemana harga keesokannya. Aksi semacam itu disebut sebagai gertakan (bluffing), tapi buat apa menggertak? Jika saya hanya memegang 10 lot saham AALI, apakah saya pantas digertak? Muka gile. Sama seperti gambar di samping ini, sudahlah kecil, ditekan pula. Ini butuh penjelasan yang rada panjang.

Konsep Lain Dari Akumulasi Dan Distribusi - Bagian 2

Konsep Lain Dari Akumulasi Dan Distribusi - Bagian 2

Gambar di atas merupakan pengembangan dari gambar sebelumnya di Bagian 1 yang lalu. Terlihat lebih lengkap dengan garis warna-warni menandai fase yang sedang berlangsung. Gambar ini saya peroleh dari www.readtheticker.com. Jika pada gambar bagian 1 hanya ada 4 fase (accumulation, distribution, mark up, mark down), maka di sini ada 6 fase karena ada 2 fase tambahan yaitu re-accumulation dan re-distribution.

Garis warna biru menandai daya beli yang besar dan daya jual yang lemah. Hampir semua pelaku pasar meyakini konsep bahwa fase akumulasi merupakan fase dimana pembeli yang dominan, namun dalam kenyataannya tidak begitu. Penjual bisa jadi lebih dominan, hanya saja entah kenapa harga tak lagi turun lebih jauh. Yang seperti ini sering sekali saya temukan secara kebetulan. Posisi bid offernya pun terbilang fantastis, kalau tak mau dibilang sinting. Betapa tidak, bid bisa langsing hanya berkisar ribuan lot, tapi offer bisa luar biasa tebal berkisar puluhan sampai ratusan ribu lot. Naluri trader pastinya akan berbisik dalam hati, "Habislah saham yang satu ini. Bakalan hancur." Anehnya harga tak kunjung turun. Selanjutnya sekonyong-konyong ada investor gila yang memborong offer, mengganjal bid dengan puluhan ribu lot, persis seperti seekor macan yang akan melawan kawanan gajah. Berhasil? Iya berhasil. Barisan offer tersebut mendadak tipis, bak asap tebal kena tiup angin kencang.

Konsep Lain Dari Akumulasi Dan Distribusi - Bagian 1

Konsep Lain Dari Akumulasi Dan Distribusi - Bagian 1
Konsep akumulasi-distribusi termasuk salah satu konsep dasar investasi / trading yang harus dipahami oleh setiap pelaku pasar, selain support-resisten, trend, jangka waktu, manajemen uang, dan sebagainya. Akumulasi dimaknai sebagai aksi mengumpulkan saham sebanyak yang sanggup pada saat harga dinilai masih murah / rendah. Distribusi dimaknai sebagai aksi menjual saham sebanyak yang sanggup pada saat harga dinilai sudah mahal / tinggi. Jika sebuah saham dikatakan sedang diakumulasi, maka asumsi yang pertama kali muncul adalah saham itu akan segera dibawa naik. Sebaliknya, distribusi diasumsikan saham akan segera dibawa turun. Konsep ini lebih enak buat diucapkan ketimbang dikerjakan, karena memang dalam prakteknya tak semudah yang disangkakan sebelumnya.

Ragam Cara Buat Si Pecundang Pelanggar Aturan

Ragam Cara Buat Si Pecundang Pelanggar Aturan
Dalam setiap bisnis atau usaha akan selalu ada pihak-pihak yang mencoba untuk berbuat curang demi mendapatkan keuntungan besar dalam waktu singkat. Namanya pun curang, maka sudah pasti melanggar aturan dan kode etik. Terlepas apakah aksi curang tersebut akan berbuah manis atau pahit, yang namanya curang tetaplah curang. Saya menyebutnya si pecundang pelanggar aturan karena orang-orang seperti ini biasanya sudah kehabisan akal buat meraup keuntungan dengan cara bersih di bursa saham. Pecundang selalu beralasan bahwa berbuat curang merupakan satu-satunya cara agar bisa memetik keuntungan dari pasar yang mana alasan tersebut hanya masuk keranjang sampah.

Memahami Ilusi : Belajar Dari Sebuah Gambar

Memahami Ilusi : Belajar Dari Sebuah Gambar
Sejarah menuliskan bahwa mata sangat mudah tertipu oleh gambar yang sederhana. Pada tahun 350SM, Aristoteles mencatat bahwa indera kita bisa dipercaya, tetap mereka dengan mudah pula tertipu. Ini seperti melihat objek yang diam, tapi tampak bergerak, melihat objek yang besar, padahal kecil, melihat objek bergerak ke kiri, padahal ke kanan, melihat objek yang bergerak naik, padahal turun, dan sebagainya. Dalam memahami ilusi, hal yang paling mendasar adalah kenal betul dengan objek yang dimaksud dan dari sudut pandang mana kita melihatnya, karena ketika kita berhadapan dengan ilusi, kebenaran itu menjadi sesuatu yang relatif, tidak lagi mutlak. Dan saat kebenaran relatif itu dihadapkan pada pasar, maka tak banyak pilihan yang tersisa selain hancur berkeping-keping di dalamnya. Hal semacam itulah yang ingin diantisipasi. Tulisan ini mungkin menarik buat kamu simak. (Baca juga : Tape Reading, Menghadapi Jurus Double Standard.)

Breakout Bid - Offer, Melihat Cahaya Tanpa Tahu Arah

Breakout Bid - Offer, Melihat Cahaya Tanpa Tahu Arah
Ini merupakan kelanjutan dari Tape Reading yang saya postingkan beberapa waktu lalu. Sebenarnya banyak sekali bahasan yang bisa diulas dari topik TR ini. Hal-hal yang berkaitan dengan membaca pergerakan harga, eksekusi order yang masif dan cepat, posisi dan pola volume yang terbentuk, tak ketinggalan manuver-manuver puluhan sekuritas yang ikut di dalamnya, plus antrian bid-offer yang mengherankan, pastinya akan memancing rasa penasaran trader untuk mendalaminya lebih lanjut.

Di artikel ini saya menuliskan sbb :
Breakout offer tebal, lalu harga naik 3 tick. Esoknya harga malah turun sedikit di bawah harga offer tebal kemaren. Apakah itu penurunan yang sementara sebelum naik lebih tinggi? Ini akan membuatmu berfikir bahwa bandar yang melakukan breakout offer kemaren tentunya tidak akan membiarkan harga turun begitu saja karena ia bisa nyangkut. Tapi yang terjadi harga bisa lanjut turun dan meninggalkanmu dalam keheranan tanpa pernah tahu apa yang terjadi pada bandar yang kamu bilang nyangkut itu.

Tape Reading, Menghadapi Jurus Double Standard - Bagian 2

Tape Reading, Menghadapi Jurus Double Standard - Bagian 2

Pertanyaannya, seberapa besar tingkat keberhasilan trading dari TR ini? Sebelum saya menjawab ini, saya akan lanjutkan illustrasi dari bagian 1 kemarin. Setelah beberapa menit berlalu, posisi bid offer berubah menjadi seperti di bawah ini :

LotBidOfferLot
2354126512702333
245126012751851
154125512802876
300125012851501
158112451290285
58912401295784
52239630

Jreng!! Ternyata ada bandar gila yang dengan gagah berani menerobos ganjalan offer tebal 1265. Pesan yang mau disampaikan tentunya harga akan dibawa naik dengan alasan yang kita tak pernah tahu pasti. Apakah ia benar-benar akan naik? Ya belum tentu. Masih banyak rentetetan tarian yang harus dilewati sebelum melihat bahwa harga benar-benar akan naik atau turun. Biasanya jemari trader dengan otomatis akan mencari siapa bandar gila itu, F atau D, dan dari sekuritas mana, apakah top buyer atau bukan, berapa yang sudah diakumulasikannya selama 3 hari, 7 hari, sebulan, dan seterusnya. Jika masih ragu-ragu juga, maka kita akan buru-buru membuka chart untuk memeriksa kembali analisa teknikalnya. Dan saya bisa menuliskan semua langkah-langkah TR ini di luar kepala sampai jari keriting, tapi saya yakin sebanyak apapun saya tuliskan soal TR ini, tetap tidak akan menyentuh permasalahan yang sebenarnya dan selalu menyisakan keragu-raguan yang besar, termasuk pada diri saya sendiri. Kenapa begitu? Karena yang terjadi sebenarnya adalah antara pola bid offer buat harga yang mau naik itu bisa persis sama dengan yang mau turun. Inilah yang disebut jurus Double Standard dari pasar dan ketika trader berhadapan dengan situasi seperti ini, maka satu-satunya yang bisa menyelamatkannya cuma nasib baik (hoki / keberuntungan), karena umumnya trader akan gagal di situ.

Tape Reading, Menghadapi Jurus Double Standard - Bagian 1

Tape Reading, Menghadapi Jurus Double Standard - Bagian 1
Tape Reading adalah seni membaca pergerakan saham menggunakan live trade melibatkan tak hanya harga, tapi juga jumlah order dari bid / offer per ticknya, total bid / offernya (5, 10, 20 baris dan sebagainya), kecepatan order, plus sekuritas mana yang melakukan order tersebut, tak lupa menganalisa eksekusi oleh Foreign (F) dan Domestic (D). Dengan cara ini diharapkan trader bisa mengenali waktu yang tepat untuk membeli atau menjual. Buat mereka yang baru terjun ke dunia saham, maka hal menarik pertama yang akan ditemui adalah tape reading ini - selanjutnya akan saya singkat TR saja. Sebegitu menariknya TR ini hingga trader menyebutnya sebagai iklan berjalan, karena fungsinya sudah mirip sekali seperti tayangan iklan di televisi yang sedang asik ditonton yang bisa menarik pembeli atau penjual hanya dengan melihat kecepatan eksekusi yang tampil di layar kaca.

Bagaimana Harga Saham Terbentuk?

Bagaimana Harga Saham Terbentuk?
Ini pertanyaan saya waktu mulai mempelajari dunia pasar modal di awal tahun 2003 lalu. Tujuan saya mempertanyakan ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi harga saham, sehingga nantinya bisa diketahui apakah sebuah saham naik atau turun. Tapi akhirnya saya mengerti bahwa ternyata itu merupakan 2 hal yang berbeda. Kita mungkin bisa mengetahui bagaimana harga saham terbentuk, tapi belum tentu kita mengetahui alasan sebuah saham naik atau turun. Postingan ini akan terdengar sangat teknis nantinya, tapi siapa tahu berguna buat mereka yang penasaran bagaimana cara kerja pasar ini sebenarnya.

Contoh, ada rencana aksi korporasi untuk merger dan akuisisi yang biasanya direspon positif oleh pasar, padahal itu masih sebatas wacana. Valuasi saham masih sama karena menggunakan nilai dari laporan keuangan yang sama, belum diupdate apalagi berubah. Apakah akuisisi tersebut akan merubah valuasi saham tersebut? Bisa iya, bisa tidak. Kita harus menunggu LK berikutnya untuk mengetahuinya. Pertanyaannya, bagaimana harga saham terbentuk berdasarkan aksi korporasi tersebut? Apakah ada satu mekanisme yang mengatur itu, yang dengan otomatis menaikkan harga saham, kendatipun acuan valuasinya masih tetap sama? Katakanlah investor menilai prospek perusahaan itu ke depannya, tapi tetap saja tidak, atau setidaknya belum, merubah valuasi apapun sebelum perusahaan tersebut benar-benar membuktikan kinerjanya.

Transaksi Repo : Ketika Kodok Memutuskan Tinggal Di Dalam Ember - Bagian 2

Lanjutan dari Transaksi Repo : Ketika Kodok Memutuskan Tinggal Di Dalam Ember - Bagian 1

Berapa profit yang diperoleh jika aksi ini berhasil?
Profit yang diperoleh : (Rp3200 - Rp800) x 24,5 juta = Rp58.800.000.000,-

Net profit ini digunakan untuk membayar repo plus bunga yang jatuh tempo :
Rp58.800.000.000 - Rp27.855.520.000 = Rp30.944.480.000,-

Inilah profit di atas kertas. Tapi apakah cukup sampai di situ saja? Tentu saja tidak. Setelah menebus repo, maka emiten LBAY kembali memiliki 53,9 juta lembar sahamnya, utuh, tanpa kurang satu lembar pun. Harga sekarang sudah Rp3200 atau naik 300% dari harga awal setahun lalu. Apa saham ini mau disimpan? Bisa ya bisa tidak. Tapi biasanya saham ini akan dijual bertahap. Kita asumsikan ada 5 tahap dengan jumlah lembar saham yang sama dimana setiap tahapan itu punya batasan Auto Reject kiri sebesar 24.9%. Maka urutannya akan jadi sbb :

Transaksi Repo : Ketika Kodok Memutuskan Tinggal Di Dalam Ember - Bagian 1

Pembahasan soal repo ini sudah banyak dimuat di banyak blog dan media online. Kebetulan soal repo ini sangat rame dibahas tahun 2008 silam (baca di sini) dan menjadi topik panas ketika itu dimana harga saham berguguran yang diduga akibat gagal bayar repo. Saya hanya catatkan beberapa kata-kata kunci penting soal transaksi repo ini.

Mencermati Lemparan Air Ke Dalam Ember

Mencermati Lemparan Air Ke Dalam Ember
Apa jadinya kalau mengisi air dengan cara melemparkan air ke dalam ember yang sedang berjejer? Ada yang tertumpah, itu sudah pasti. Ada juga yang tertampung, tapi mau sehebat apapun tehnik yang digunakan, kalau sudah namanya 'melempar air', maka sudah pasti akan ada yang tumpah. Awalnya postingan ini mau saya kasi judul 'Tim Basket di Saham', tapi saya pikir analoginya masih kurang pas. Ini bukan lagi tim bola basket, tapi tim 'bola' air. Buat yang masih bingung dengan judul ini, saya akan jelaskan.

Saya dan Bandar. Bandar dan Kita. Saya, Bandar, dan Kamu. -- Bagian 2

Melanjutkan tulisan soal perbandaran ini, tinggal satu bahasan lagi yaitu saya, bandar, dan kamu. Sekarang coba jawab satu pertanyaan sederhana. Apa alasan kamu memilih dan membeli sebuah saham? Alasan yang muncul antara lain sbb :

  1. Hasil LK-nya bagus. Laba naik; atau
  2. Laba turun, tapi historis fundamentalnya bagus dengan pertumbuhan yang tinggi. Jadi kalau harga turun, ini kesempatan buat beli. #penuh_percaya_diri; atau
  3. Teknikal bagus. Ada potensi upside ke bla bla bla; atau

Saya dan Bandar. Bandar dan Kita. Saya, Bandar, dan Kamu. -- Bagian 1

Judulnya rada puitis, ya? Soalnya saya menuliskannya dengan penuh perasaan. Oke tak usah pedulikan judulnya. Saya akan bahas perbandaran dari sudut pandang saya sepanjang yang saya ketahui.

Saya dan Bandar. Bandar dan Kita. Saya, Bandar, dan Kamu. -- Bagian 1
Kalau menyebut istilah bandar, konotasi yang muncul kok negatif ya? Ya karena bandar identik dengan mafia, yaitu sekelompok orang yang berusaha menguasai dan memanipulasi sebuah bisnis tertentu dengan cara-cara yang kotor. Beragam cara dilakukan atau tepatnya menghalalkan segala cara, mulai dari mengintimidasi hingga membunuh rivalnya. (Sori, rada berlebihan karena saya sedang membayangkan bandar narkoba.)