Powered by Blogger.

Panic Selling, Apa Yang Harus Dilakukan?

Posted by Saham Ceria

Panic Selling, Apa Yang Harus Dilakukan?
Selamat sore semua. Setelah sekian lama vakum tidak menulis, alhamdulillah saya bisa kembali menulis. Semoga sobat trader makin cerdas, makin canggih, dan makin jeli dalam menangkap momentum-momentum pasar. Terlalu banyak yang terjadi di situasi kehidupan saya, sehingga terpaksa rehat cukup lama. Beberapa waktu lalu ada kejadian yang nampaknya cukup menarik buat dibahas tentang kondisi pasar tanggal 28 Januari 2026, dimana IHSG jeblok -7,35%. Sekalipun saya rajin memantau kondisi pasar, saya juga tidak tahu penyebab rontoknya IHSG saat itu. Apakah harus kita tahu apa penyebabnya? Kalaulah penyebabnya memang murni masalah bencana alam, ekonomi, dan geopolitik, ya tentu kita wajib tahu. Selain daripada itu, saya yakin para pelaku pasar baru tahu penyebab rontoknya IHSG setelah mencari info soal MSCI. Tak usahlah saya membahas lagi apa dan kenapa, karena memang sudah banyak situs berita yang membahas itu. Tak kurang juga banyak pawang saham turun gunung buat membahas detil permasalahan. Tapi yang kita semua tahu pasti adalah semua informasi itu selalu datang terlambat. (Baca juga : Berharap Pada Informasi Yang Selalu Datang Terlambat). Tak ada wanti-wanti soal MSCI ini sebelumnya kan? Namun, coba kita ulik sedikit soal petanda sebelum semua ini terjadi.

Tanggal 27 Januari 2026 lalu saya mengosongkan portofolio saya TANPA saya pernah tahu akan kejadian esok hari. Oalah... tanggal 28 Januari 2026, terjadi panic selling gila-gilaan. Apakah itu kebetulan semata-mata? Saya mungkin cukup beruntung bisa lolos dari amukan pasar. Portofolio saya sebelumnya ada di saham INCO dan NCKL, dan sudah saya lepas semua di tanggal 23 Januari 2026. Selanjutnya tanggal 26 Januari 2026, saya menunggu INCO dan NCKL terkoreksi, tapi hari itu malah dua saham itu rally ke puncak. Alhasil saya menonton saja kedua saham tersebut rally. Lalu saya cek teknikal HRTA, WIFI dan NICL. Ketiga saham ini sudah lebih dulu koreksi. Saya sempat colak colek HRTA dan WIFI, namun semua saham itu saya lepas pada hari yang sama. Alasannya ya lagi-lagi posisi teknikal yang menurut saya kurang pas.  

Nah, di sini mungkin sobat sudah bisa menebak alasan saya mengosongkan portofolio. Pertama, disiplin pada trading plan saya. Konsep saya, kalau harga sudah menyentuh resisten, maka dia akan turun mencari supportnya. Begitu juga sebaliknya. Tantangan terberatnya adalah menemukan target Support Resisten yang akurat. Karena tanpa ini, kita sulit melakukan penilaian secara teknikal. Kedua, saya memperhatikan ada posisi kurang mengenakkan pada pola pergerakan harga saham, terutama pada saham-saham yang sedang booming. Harga membentuk Lower Low dengan candle kecil dan volume yang kecil. Artinya harga turun dengan mudah. Diguyur sedikit, turun. Tak ada perlawanan yang berarti. Apa-apaan lah ini? Untuk saham-saham yang diprediksi punya prospek bagus ke depan, pergerakan semacam ini tentu dirasa 'menjijikkan'. (Saya memberikan tanda kutip pada kata 'menjijikkan', karena memang penilaian ini bersifat subjektif didasarkan pada pengalaman pribadi semata-mata. Sobat pastinya punya rambu-rambu sendiri untuk menandai sebuah pergerakan harga yang tak lazim.) Ketidaknyamanan ini membuat saya memutuskan untuk wait and see. Itu saja. Tak ada yang istimewa, tak ada yang spesial. Hanya fokus pada trading plan saja.

Apakah saya tak mengecek IHSG? Jujur, cek ricek gerakan IHSG pada jam trading biasanya lebih bermanfaat bagi yang mau scalping. Berhubung saya bukan scalper, makanya jarang sekali mengecek IHSG. Makanya ketika IHSG jeblok, saya juga tidak tahu kenapa. Karena sebelumnya saya hanya sibuk menghitung support harga saham yang sedang saya incer (seperti yang sudah saya sebutkan di atas). Eh IHSG jeblok, alhasil support tersebut bocor semua. Tugas kita sekarang hanyalah menandai mana support yang ideal.

Lalu, setelah posisi dirasa aman dan 'ideal' (penilaian ini subjektif, sangat tergantung dengan akurasi analisis yang dimiliki), barulah saya memutuskan untuk buy, yaitu ANTM tepatnya tanggal 09 Februari 2026.  Sebenarnya saya malas-malasan mengambil ANTM ini karena saya rasa free float ANTM ini sangat besar alias saham gendut. Saham semacam ini biasanya geraknya lambat.  Dan bingo... posisi saya kebetulan benar. Eh benar saja, geraknya lambat, cuy. Tapi ya sudahlah, saya tetap bersyukur. 

Portofolio 23 Februari 2023

Jadi portofolio saya memang tak pernah berisi banyak saham. Selain ANTM, ada odd lot MLPL yang tak kunjung bisa dilepas karena tak genap 1 lot. Terpaksa saya biarkan saja disitu. ANTM sudah saya lepas semua tanggal 23 Februari 2026 di harga 4370 karena sudah menyentuh target resisten. Saya belum tau mau buyback di harga berapa dan kapan.  Yang jelas kalau ternyata ANTM naik melewati 4460, saya akan coba untuk buyback. Tapi bukan berarti harus beli di 4460. Jangan terlalu kaku, karena pergerakan saham itu dinamis. Sering kali dia turun dulu sebelum rally. Apakah mungkin dia turun dulu ke 4300, misalnya, sebelum lanjut rally? Ataukah dia malah terkoreksi lebih rendah? Ataukah malah dia rally semena-mena tanpa memberi kesempatan buat buyback? Saya tidak tahu. Yang jelas skenario apapun yang terjadi harus bisa kita antisipasi. Jadi yang hendak saya sampaikan di sini adalah jangan pernah kuatir akan kehilangan kesempatan. Tidak ada keharusan untuk menangkap pisau jatuh. Peluang itu akan datang kapan saja tanpa kita tahu. Ironisnya rata-rata trader sangat suka memantau saham yang sedang terkoreksi turun ketimbang yang sedang posisi naik. Padahal sangat mudah memantau saham yang sedang naik. Cek saja pakai MA 20 hari (saya malah pakai MA 33 hari.☺ Ya pilih senyamannya saja.) Kalau pergerakan saham sudah di atas MA, pantaulah itu. 

Sebagai bonus tulisan ini, saya coba ulas sedikit soal analisis teknikal IHSG. 



Posisi IHSG ini hampir menyentuh target resisten yang 8411. Andai IHSG cukup kuat breakout resisten ini, maka terbuka peluang melanjutkan rally hingga 8750. (Note : angka-angka ini hasil hitungan saya pribadi. Jadi bukan hasil comot analisis manapun.) Kalau gagal bertahan, berarti koreksi yang kemungkinan targetnya belum saya hitung. 

Hanya saja yang menjadi perhatian adalah volume. Saya menandai dengan kotak biru dimana setelah IHSG rebound 2 minggu lalu, volume transaksi masih belum besar. Tapi ini kondisi sangat normal. Hampir selalu di fase rebound, volume IHSG berada di bawah MA 20 hari nya. Di luar sana sudah berseliweran kabar-kabar miring soal ekonomi Indonesia. Bahkan ada yang meramal kejadian seperti krisis 1998 lalu. Apakah benar bisa terjadi hal mengerikan seperti itu? Lain waktu akan kita bahas sama-sama. Ketatkan trading plan kamu, sob. Pasar makin hari makin ganas. 

Salam trader dan semoga sukses selalu.  

Related Post



Post a Comment