Powered by Blogger.

Candlestick, Seni Membaca Grafik Saham

Candlestick, Seni Membaca Grafik Saham
Saya mewanti-wanti buat mereka yang baru terjun ke saham, janganlah terburu-buru buat mempelajari candlestick. Analisis candlestick memang terlihat menarik buat siapapun, tak terkecuali pemula, tapi sebenarnya ia merupakan seni analisis teknikal yang advanced. Bisa dimengerti bahwa godaan buat mempelajari seni teknikal yang satu ini sangatlah besar. Bukan apa-apa, setiap harinya kita selalu dihadapkan dengan grafik candlestick, sebagai grafik khas saham atau forex. (Grafik bar juga lazim digunakan, tapi kalah populer jika dibandingkan candlestick.) Tentunya sedikit banyak kita ingin tahu apa yang terjadi dengan saham tersebut jika sudah muncul Unique Three River Bottom, misalnya.

Bagi saya, candlestick menyumbang lebih dari 30% buat pemahaman analisis teknikal. Saat membangun sistem, filosofi di balik candlestick benar-benar sangat membantu saya. Hati-hati, jika candlestick digunakan langsung buat trading, maka akurasinya hanya 5%. Jika kurang memahami filosofinya, maka kita tidak akan paham apa yang hendak disampaikan oleh candlestick tersebut.

Pengalaman Menggunakan Amibroker

Pengalaman Menggunakan Amibroker
Pertama kali mengenal Amibroker itu di tahun 2008. Ada seorang teman yang berbaik hati membagi materi workshop sahamnya yang berbasis Amibroker kepada saya. Kebiasaan jelek saya, tiap kali berkenalan dengan sesuatu yang baru, saya selalu bersikap defensif. Tidak bisa langsung percaya atas keunggulan Amibroker dibandingkan produk yang lain. Lagipula, kebetulan saya tak punya referensi apapun soal keunggulan produk yang satu dengan yang lain.

Hari-hari selanjutnya, jadilah saya rutin mengutak-atik Amibroker. Programnya ringan dan sangat user friendly, namun tampilan grafiknya terlalu sederhana. Saya membayangkan software seperti ini bisa menampilkan grafik candlestick 3D yang keren. (Hehe..) Juga, kendati disediakan banyak indikator-indikator teknikal, di Amibroker tidak banyak disediakan built-in Explorer. Ini berbeda dengan Metastock yang justru sudah menyediakan banyak built-in Explorer di dalamnya

10 Orang Yang Tak Sadar Sedang Menggenggam Intan

Dia Yang Tak Sadar Sedang Menggenggam Intan
Orang Indonesia masih banyak yang mengalami sindrom inferior complex, yang merasa dirinya lebih inferior ketimbang bangsa lain. Tak cukup sampai di situ, mental priyayi yang sudah berpuluh-puluh tahun menggerogoti bangsa ini membuat orang Indonesia lebih suka mencari kerja gajian ketimbang berfikir buat wiraswasta atau membuka lapangan pekerjaan. Maka, tiap kali ada pembahasan soal investasi, apalagi mendengar istilah saham, yang terbayang di benaknya adalah itu merupakan profesinya orang-orang kaya, tanpa dia tahu bahwa gembel sekalipun bisa berinvestasi di saham asalkan mengerti caranya.

Ya ini memang soal cara. Tak ada satu pun investor atau trader yang berani mengklaim bahwa cara A yang benar, atau cara B yang lebih keren, dan sebagainya. Setiap orang memang membanggakan caranya masing-masing, tapi tak ada yang klaim cara mana yang paling benar. Jadi, sekalipun kamu merupakan pendatang baru di dunia saham, tak akan ada yang berani menyindir soal kebodohanmu di pasar saham, karena semua orang berpotensi buat menjadi sangat bodoh di sini, bersamaan dengan berpotensi buat menjadi sangat pintar.

Di sini saya ingin menggarisbawahi bahwa di luar sana ada orang-orang yang sebenarnya sangat potensial buat sukses di bursa saham, namun ia tak menyadari itu. Saya menyebutnya sebagai orang yang tak sadar sedang menggenggam intan.

7 Pintu Masuk Analisis Saham

7 Pintu Masuk Analisis Saham
Bagaimana cara menganalisis saham? Darimana saya harus memulainya? Kenapa harus mulai dari situ? Ada banyak pertanyaan-pertanyaan mendasar seputar analisis saham, pertanyaan yang tak pernah jauh-jauh dari "Gimana caranya? Gimana caranya? Gimana caranya?". Menyadari bahwa pengetahuan masih terbatas, banyaknya pertanyaan yang tak terjawab itu menjadikan banyak trader yang tak hanya kehilangan fokus, tapi juga kehilangan semangat di awal-awal belajar saham. Lebih miris lagi, ada yang sudah bertahun-tahun mempelajari saham, namun akhirnya memutuskan untuk berhenti.

Realitanya memang analisis saham itu sulit, kok. Saya akui itu. Kata kunci untuk memulai analisis ini adalah kamu harus mengakui bahwa analisis saham itu sulit. Jika kamu terlalu angkuh buat mengakui itu, biasanya dalam hitungan 1-2 tahun, kamu akan mundur teratur dari dunia saham. Namun, kamu juga harus pahami, sesulit apapun sesuatu hal, pasti ada cara buat melakukannya. Dengan kata lain, sesuatu itu dikatakan sulit karena kita belum tau caranya. Kamu hanya perlu menemukan caranya.

Saya mempelajari teori soal saham sejak tahun 2000, namun prakteknya baru dikerjakan tahun 2009. Mencoba memahami dinamika saham lewat tulisan-tulisan di buku, forum saham, membuat saya cukup yakin bisa menjalani profesi ini dengan mulus dan lancar. Namun begitu terjun ke sini, saya digebukin hingga bonyok. Kenyataan tak seindah harapan. Ternyata buku-buku masih belum bercerita banyak (atau mungkin saya yang belum terlalu banyak membaca buku). Penyebab utamanya adalah tak lain tak bukan karena saya tidak tahu pintu masuk terbaik analisis saham.

Ekonom Dadakan, Trader Dadakan, Dan Paradoks Bursa Saham

Ekonom Dadakan, Trader Dadakan, Dan Paradoks Bursa Saham
Andai rahasia bursa itu semata-mata berada pada laporan keuangan, maka para akuntan pastinya menjadi investor terkaya di dunia. Andai rahasia bursa itu semata-mata berada pada software, maka para programmer tentunya menjadi orang-orang terkaya di dunia. Andai rahasia bursa itu berada pada berita-berita yang tengah terjadi, maka para jurnalis tentunya menjadi trader-trader paling beruntung di dunia. Siklus normal bursa saham dari mulai periode bullish hingga bearish membuat pelaku pasar mau tidak mau harus memahami situasi dan kondisi ekonomi yang melatarbelakangi siklus tersebut. Semua punya tujuan yang sama. Sama-sama ingin mengetahui rahasia asli dari bursa saham.

Saat ini rupiah masih bertengger di Rp14150 terhadap dollar, dan mendadak banyak orang yang menjadi pakar ekonomi. Seolah-olah memahami, seolah-olah mengetahui duduk persoalannya. Ekonom dadakan ini dengan mudahnya melemparkan tuduhan kepada pemerintah, seolah-olah rupiah adalah satu-satunya mata uang di dunia yang melemah terhadap dollar. Jika sebuah analisis tidak adil dalam mengolah data, maka analisis itu dengan mudah sekali dipatahkan.

Jangankan di Indonesia, yang jelas-jelas warga negara AS sendiri pun bisa jadi tak suka dollarnya menguat. Bisa saja kita membahas soal ini sampai berpuluh-puluh artikel, tapi kita mesti tahu bahwa pasar saham bisa meresponnya dengan sangat berbeda sekali. Segala analisis ekonomi itu akan kembali mentah jika dihadapkan dengan pasar saham. Ia merupakan paradoks dan ilmu ekonomi bukanlah satu-satunya cara buat memahami itu semua.

Level Psikologis, Apa Yang Hendak Disampaikan?

Level Psikologis, Apa Yang Hendak Disampaikan?
Saat mengulas soal prakiraan IHSG, analis selalu menggunakan istilah 'level psikologis' dalam menyampaikan level support dan resisten. Berbeda dengan saat mengulas saham, dimana analis lebih nyaman menggunakan istilah target (teknikal) atau harga wajar (fundamental), bukan target psikologis atau harga psikologis. Awal sebabnya karena IHSG dianggap sebagai indeks psikologis pasar. Kalau naik, artinya optimis, sehingga pasar bullish. Kalau turun, artinya pesimis, sehingga pasar bearish. Support itu level pesimis, resisten itu level optimis. Dan level IHSG di berapa pun akan disebut sebagai level psikologis.

Sedari awal, trader diyakinkan bahwa psikologis memegang peranan penting dalam pergerakan harga di pasar. Rasa takut dan tamak menjadi motor penggerak, sekaligus jawaban terhadap biang kerok naik turunnya harga. Selamanya psikologis mengandung makna relatif, mudah berubah-ubah, dan mustahil absolut.

Kalau situasi bagus, maka targetnya akan bagus. Begitu juga sebaliknya. Maka level psikologis itu merupakan nilai yang relatif, belum pasti, dan sangat tergantung dengan kondisi nantinya. Ya, merupakan prakiraan semata-mata, dan karena itulah tidak bisa disalahkan, tapi bukan berarti bisa dibenarkan. Kita akan ulas soal yang kelihatan sepele ini, padahal tidak.

Pemilu 2019

Pemilu 2019

Pemilu 2019

Berburu Jawaban Di Balik Misteri Support dan Resisten

Berburu Jawaban Di Balik Misteri Support dan Resisten
Setidaknya ada 3 hal yang paling banyak ditanyakan orang seputar saham, yaitu : harga wajar saham, sinyal beli-jual, dan support-resisten (S/R). Ada banyak sekali studi tentang menghitung S/R. Beberapa di antaranya sbb :
  1. Menghubungkan titik H ke H dan titik L ke L
  2. Menggunakan Fibonacci
  3. Menggunakan Peak and Trough
  4. Menggunakan nilai H tertinggi dan nilai L terendah mingguan dan bulanan
  5. Menggunakan Pivot point
  6. Menggunakan interval
  7. Menggunakan pola
  8. Menggunakan angka bulat di order book, misalnya 600, 700, 1500, 21000, dan sebagainya.
  9. Menggunakan Moving Average
  10. Menggunakan gap harga
  11. Menggunakan posisi ganjalan di bid dan offer
  12. Dan sebagainya

Saya tidak mengulas satu per satu tentang cara di atas. Kamu bisa mempelajarinya sendiri. Di sini yang hendak saya sampaikan adalah cara di atas masih sangat bisa diturunkan ke beragam cara, sehingga ada banyak sekali varian-variannya. Belum lagi kalau cara yang satu dikombinasikan dengan cara lain, plus varian-variannya. Alhasil, akan ada banyak sekali cara menghitung S/R ini. Akurasi S/R menjadi penyebab kenapa ada banyak varian yang muncul. Biasanya studi yang khusus mendalami soal S/R ini menggunakan rumusan yang rumit. Rumit tidaknya sebuah rumusan S/R sangat tergantung dengan logika berfikir si pembuat sistem. Pola pikir yang kamu anut sangat mempengaruhi model perhitungan S/R seperti apa yang bakalan kamu pilih.

Berburu Informasi Valid, Dimana?

Berburu Informasi Valid, Dimana?
Sekitar tahun 2003 silam, saya mengikuti pelatihan di Jakarta, dan saya sempatkan diri buat berkunjung ke Bursa Efek Jakarta, hanya untuk melihat BEJ itu seperti apa. Gedung dengan menara tinggi itu terlihat sangat megah, berdiri kokoh, seolah-olah gembira menyambut siapapun yang ingin mendalami dunia finansial. Saya naik ke lantai atas lewat lift (tapi saya sudah lupa lantai berapa). Sesampainya di lantai tersebut, saya lihat ada beberapa ruangan. Lewat jendela kaca yang sangat besar, saya bisa melihat ke bawah. Di situ terlihat lantai trading bursa dengan monitor besar terpampang di dindingnya berisikan pergerakan indeks dan saham. (Oh ya sudah lama sekali tak menginjakkan kaki di sana. Saya yakin sudah banyak sekali perubahan di BEJ yang sekarang bernama BEI.)

Di situ ada ruangan informasi seperti perpustakaan. Saya masuk dan bilang bahwa saya ingin bertanya-tanya soal investasi saham. Pegawainya meminta saya menunggu sebentar sambil menyilahkan saya duduk. Lalu datanglah seorang pria separuh baya. Dari sambutannya ia tampak sangat senang melihat saya yang masih muda begitu antusias investasi di saham. Karena kebanyakan anak muda yang dikenalnya terlalu fokus menjadi pegawai, mengejar gaji besar, dan sebagainya.

Oh ya, sebelumnya saya sudah mempersiapkan diri dengan materi-materi saham seadanya. Jangan biarkan diri kita kosong. Kalau ingin menggali ilmu dari seseorang, sedikit banyak kamu harus sudah kenal dengan ilmu yang hendak digali itu. Hingga tiba di wacana seputar informasi saham. Waktu itu saya berkeyakinan agar bisa berinvestasi dengan sukses, maka harus menggunakan informasi yang valid. Lalu si bapak sambil tertawa bertanya balik ke saya, "Yang dikatakan informasi yang valid itu seperti apa? Dan carinya dimana?" Saya terdiam. Saat itu saya kurang paham arah pertanyaannya dan kenapa ia sangat konsen soal itu. Ternyata memang ada sebab musababnya.

Siapakah Si Mr. Market?

Siapakah Si Mr. Market?
Mungkin banyak dari kita yang merasa bahwa pasar selalu memantau gerak-gerik kita. Tiap kali mengambil posisi beli, maka tiap kali itu pula harga beringsut turun, bahkan tak jarang malah diguyur lebih dalam. Begitu juga ketika mengambil posisi jual, maka harga justru naik lebih kencang. Celakanya, sekalipun sahamnya sudah berganti-ganti, perlakuan yang kita rasakan pun masih tetap sama, tak peduli itu saham berkapitalisasi besar / kecil, likuditas besar/kecil. Seolah-olah setiap saham itu ada setan penunggunya yang siap menerkam siapa saja yang coba-coba mengganggunya.

Kita berfikir bahwa keberadaan kita ini tak diinginkan oleh pasar. Kita juga berfikir mungkin segala aktivitas di bursa saham ini hanya buat mengelabui dan membodohi kita saja. Si Mr. Market berfoya-foya di atas penderitaan kita yang bisa dibilang selalu saja salah posisi, baik itu beli maupun jual. Tak hanya yang bermodal besar saja yang merasakan seperti itu, yang jelas-jelas trader bermodal kecil pun merasakan hal yang sama. Apakah pasar sebegitu arogannya sehingga sedikit saja kita ambil barangnya, lantas dia semena-mena melakukan kontra posisi terhadap kita? Untuk menjawabnya, kita mesti lebih dulu mengenali siapa Mr. Market sebenarnya.