Powered by Blogger.
Showing posts with label Belajar Saham. Show all posts
Showing posts with label Belajar Saham. Show all posts

Sistem Trading : Cocok Buat Saya atau Cocok Buat Pasar?

Sistem Trading : Cocok Buat Saya atau Cocok Buat Pasar?
Sistem trading ini merupakan rahasia para trader, disusun berdasarkan pengalaman dan karakter diri sendiri, dengan tujuan untuk meminimalisir resiko dan menaikkan profit. Semakin agresif karakternya, maka semakin agresif pula sistem trading yang disusun. Yang dimaksudkan agresif di sini adalah lebih aktif trading, dan jarang menunggu. Dimana terlihat ada kesempatan untuk meraih profit, walaupun dalam fluktuasi kecil sekalipun, pasti akan diambil. Bisa dibilang sebagai risk taker. Lawannya agresif adalah konservatif. Trader konservatif akan lebih sabar menunggu dan biasanya hanya memburu saham-saham dengan potensi fluktuasi yang besar. Disebut juga sebagai risk averter. Dalam banyak pendapat, apapun sistem tradingnya, asalkan cocok dengan karakter diri sendiri, maka itu sudah baik. Pertanyaannya, sebenarnya yang kita cari itu sistem trading yang cocok buat diri kita atau yang cocok buat pasar?

10 Hal Kecil Yang Sering Membuat Perbedaan Besar Di Analisa Saham

Hal Kecil Yang Sering Membuat Perbedaan Besar
Di dunia saham dikenal dua macam analisa yaitu analisa teknikal dan analisa fundamental. Kedua macam analisa ini punya banyak sekali variannya. Varian teknikal sendiri ada 2 macam, seperti teknikal klasik dan teknikal modern. Bagaimana dengan fundamental? Ada varian market value, fair value dan ada intrinsic value, dimana masing-masing varian ini punya beberapa metode masing-masing pula. Jadi ada banyak sekali model analisa teknikal dan fundamental yang terdapat di saham. Tapi kita tidak sedang mempersoalkan itu. Apapun metodenya, apapun hasilnya, tidaklah menjadi masalah, karena masing-masing metode ada kelemahan dan kelebihannya. Tapi tahukah kamu, bahwa dengan menggunakan metode yang sama, tapi justru bisa memberikan hasil yang berbeda? Ini seperti 2 orang analis yang sama-sama menggunakan fibonacci retracement sebagai analisa teknikal, tapi hasilnya yang satu bilang apel, yang satu lagi bilang jeruk. Sesuatu yang mungkin terlihat sepele, tapi ternyata tak sesepele seperti yang dibayangkan, bahkan tak jarang berakhir fatal.

Belajar Trading Saham Buat Mahasiswa

Belajar Trading Saham Buat Mahasiswa
BEI semakin gencar mengenalkan pasar modal ke mahasiswa. Caranya adalah lewat seminar hingga membuat pojok bursa di universitas terkait. Mahasiswa merupakan pangsa yang sangat bagus, dimana mereka berpeluang untuk membentuk grup investasi yang membahas segala yang berkaitan dengan pasar modal. Sebagai orang-orang yang terdidik, mahasiswa diharapkan bisa menjadi role model dari sebuah generasi kekinian. Kamu belum ngetrend kalau belum trading di saham, kira-kira seperti itulah pesan yang ingin disampaikan.

Tahun 2011 BEI pernah memberikan penghargaan kepada pojok bursa kepada 4 universitas yaitu :
  • Untuk kategori Pengembangan dan Inovasi, Universitas Muhammadiyah Malang keluar sebagai pemenangnya.
  • Untuk kategori Aktivitas Edukasi dan Pemerataan Informasi, Universitas Kristen Duta Wacana dari Yogyakarta keluar sebagai pemenang.
  • Untuk kategori galeri pojok BEI teraktif berdasarkan aktivitas transaksi dari nilai transaksi, keluar sebagai pemenang adalah Universitas Surabaya.
  • Untuk kategori galeri pojok bei teraktif berdasarkan aktivitas transaksi dari jumlah rekening efek, Universitas Sangga Buana (YPKP) Bandung keluar sebagai pemenangnya.
Mengingat animo mahasiswa ke pasar modal begitu tinggi, tidak ada salahnya saya mencoba memberi beberapa saran di sini.

7 Pintu Masuk Analisis Saham

7 Pintu Masuk Analisis Saham
Bagaimana cara menganalisis saham? Darimana saya harus memulainya? Kenapa harus mulai dari situ? Ada banyak pertanyaan-pertanyaan mendasar seputar analisis saham, pertanyaan yang tak pernah jauh-jauh dari "Gimana caranya? Gimana caranya? Gimana caranya?". Menyadari bahwa pengetahuan masih terbatas, banyaknya pertanyaan yang tak terjawab itu menjadikan banyak trader yang tak hanya kehilangan fokus, tapi juga kehilangan semangat di awal-awal belajar saham. Lebih miris lagi, ada yang sudah bertahun-tahun mempelajari saham, namun akhirnya memutuskan untuk berhenti.

Realitanya memang analisis saham itu sulit, kok. Saya akui itu. Kata kunci untuk memulai analisis ini adalah kamu harus mengakui bahwa analisis saham itu sulit. Jika kamu terlalu angkuh buat mengakui itu, biasanya dalam hitungan 1-2 tahun, kamu akan mundur teratur dari dunia saham. Namun, kamu juga harus pahami, sesulit apapun sesuatu hal, pasti ada cara buat melakukannya. Dengan kata lain, sesuatu itu dikatakan sulit karena kita belum tau caranya. Kamu hanya perlu menemukan caranya.

Saya mempelajari teori soal saham sejak tahun 2000, namun prakteknya baru dikerjakan tahun 2009. Mencoba memahami dinamika saham lewat tulisan-tulisan di buku, forum saham, membuat saya cukup yakin bisa menjalani profesi ini dengan mulus dan lancar. Namun begitu terjun ke sini, saya digebukin hingga bonyok. Kenyataan tak seindah harapan. Ternyata buku-buku masih belum bercerita banyak (atau mungkin saya yang belum terlalu banyak membaca buku). Penyebab utamanya adalah tak lain tak bukan karena saya tidak tahu pintu masuk terbaik analisis saham.

Berburu Jawaban Di Balik Misteri Support dan Resisten

Berburu Jawaban Di Balik Misteri Support dan Resisten
Setidaknya ada 3 hal yang paling banyak ditanyakan orang seputar saham, yaitu : harga wajar saham, sinyal beli-jual, dan support-resisten (S/R). Ada banyak sekali studi tentang menghitung S/R. Beberapa di antaranya sbb :
  1. Menghubungkan titik H ke H dan titik L ke L
  2. Menggunakan Fibonacci
  3. Menggunakan Peak and Trough
  4. Menggunakan nilai H tertinggi dan nilai L terendah mingguan dan bulanan
  5. Menggunakan Pivot point
  6. Menggunakan interval
  7. Menggunakan pola
  8. Menggunakan angka bulat di order book, misalnya 600, 700, 1500, 21000, dan sebagainya.
  9. Menggunakan Moving Average
  10. Menggunakan gap harga
  11. Menggunakan posisi ganjalan di bid dan offer
  12. Dan sebagainya

Saya tidak mengulas satu per satu tentang cara di atas. Kamu bisa mempelajarinya sendiri. Di sini yang hendak saya sampaikan adalah cara di atas masih sangat bisa diturunkan ke beragam cara, sehingga ada banyak sekali varian-variannya. Belum lagi kalau cara yang satu dikombinasikan dengan cara lain, plus varian-variannya. Alhasil, akan ada banyak sekali cara menghitung S/R ini. Akurasi S/R menjadi penyebab kenapa ada banyak varian yang muncul. Biasanya studi yang khusus mendalami soal S/R ini menggunakan rumusan yang rumit. Rumit tidaknya sebuah rumusan S/R sangat tergantung dengan logika berfikir si pembuat sistem. Pola pikir yang kamu anut sangat mempengaruhi model perhitungan S/R seperti apa yang bakalan kamu pilih.

Analisis Fiksi vs Analisis Prediksi

Analisis Fiksi vs Analisis Prediksi
Kesuksesan di pasar modal tidak bisa lepas dari 2 kunci, yaitu disiplin dan kemampuan untuk memprediksi. (Baca juga : Memprediksi Saham, Mewujudkan Mimpi Yang Sempurna) Dua kunci ini sendiri merupakan respon normal terhadap sebuah sistem yang teruji dan terpercaya. Dengan kata lain, kita tidak perlu repot melakukan disiplin pada sistem yang amburadul, karena sistem seperti itu biasanya sangat buruk dalam hal memprediksi. Lakukanlah disiplin pada sistem yang benar-benar kamu yakini benar, dan sistem yang benar itu punya ciri khas mampu memprediksi dengan baik.

Kemampuan memprediksi memang menjadi cita-cita para pelaku pasar. Beragam metode digunakan. Beragam pendekatan dilakukan. Sayangnya beberapa dari kita, tak terkecuali saya, alih-alih melakukan analisis prediksi, justru malah terjebak dalam analisis fiksi. Apa yang membedakan keduanya?

Gerilya Diversifikasi, Antisipasi Yang Tak Terprediksi

Gerilya Diversifikasi, Antisipasi Yang Tak Terprediksi
"Rencana trading merupakan strategi untuk menerobos pertahanan lawan dan menghasilkan gol. Sedangkan manajemen uang merupakan strategi untuk memaksimalkan jumlah gol yang bisa diraih." (Membuat Trading Plan Sendiri)
"Selain konsistensi, masih ada hal lain yang lebih penting ketimbang sibuk membanding-bandingkan persentase profit." (Rahasia Di Balik Gemerlapnya Bintang)

Waktu merupakan elemen yang sangat sulit, atau bahkan mungkin tak bisa, diprediksi. Banyak ragam analisis saham, tapi hampir rata-rata tak bisa memasukkan elemen waktu ke dalam prediksinya. Seperti pertanyaan "Kapan sebuah saham sudah layak dibeli?". Biasanya dijawab dengan "Tunggu di support sekian." Setelah harga benar-benar sudah berada di support yang dimaksud, pertanyaan akan berkembang menjadi "Apakah sudah saatnya membeli?" Dan jawabannya pun berkembang menjadi "Tunggu jika berhasil tembus resisten sekian." Apa kesan kuat yang tergambar pada situasi seperti ini? Kesan kuatnya adalah bahwa trader berusaha mengantisipasi elemen waktu dengan cara melakukan pendekatan support dan resisten demi mendapatkan momentum (sinyal). Dengan begitu, prediksi atas waktu bisa diabaikan karena memang waktu sangat sulit untuk diprediksi. Ini seperti bertanya ke seorang penembak jitu, kapan ia akan menarik pelatuknya. Maka jawaban yang paling masuk akal adalah apabila sasaran sudah terlihat. Kapan sasaran akan terlihat? Tidak tahu. Bisa kapan saja.

Beberapa model analisis atas waktu yang pernah saya baca tak banyak memberikan petunjuk. Memang model analisis semacam itu terkesan maju (advanced), tapi sayangnya dalam beberapa titik penting, ia menjadi kurang tradable. Nah, sekarang apa hubungan judul di atas dengan paparan ini? Saya akan jelaskan.

Menulis Jurnal Trading Sendiri

Menulis Jurnal Trading Sendiri
Mencari model analisis yang ideal tidak seperti memetik buah dari pohonnya. Lebih dulu dilakukan riset yang mendalam. Secara umum, riset bertujuan untuk mencari model portofolio ideal sesuai dengan sistem yang ada. Secara khusus, riset bertujuan untuk menemukan inti masalah dalam analisis saham untuk selanjutnya mencari solusi yang terbaik buat mengatasinya. Beberapa contoh hasil riset soal saham bisa diunduh secara gratis dari sekuritas yang bersangkutan. Memang ada yang memberikannya secara cuma-cuma, tapi ada juga yang berbayar, terutama sekali untuk riset-riset yang melibatkan perangkat analisis tertentu yang mahal harganya.

Tulisan kali ini membahas cara menulis jurnal trading sendiri. Jurnal itu sendiri merupakan kumpulan catatan dari riset yang dilakukan selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Tidak harus model risetnya seperti sekuritas. Buatlah catatan dengan gaya yang kamu suka. Terserah. Jurnal saya sendiri terdiri dari 4 kolom, yaitu tanggal, masalah, penyebab, dan solusi. Di sini saya lebih menekankan untuk menemukan inti masalahnya. Misalnya, saya menemukan 2 candle yang identik sama, katakanlah bullish harami, satu di saham A, satu lagi di saham B. Di saham A, bullish harami diikuti dengan rally, sedangkan di saham B diikuti dengan gerakan yang flat, nyaris koreksi. Selalu ada perbedaan yang bisa dicatat di sana, seperti formasi candle sebelumnya, volumenya, dan sebagainya. Jika sudah mengenali masalahnya, coba untuk menemukan solusinya. Misalnya, apa yang harus diperhatikan lebih dulu sebelum menilai candlestick. Catat dan masukkan ke dalam jurnal.

Membuat Trading Plan Sendiri

Membuat Trading Plan Sendiri
Semua trader menginginkan rencana trading yang benar-benar bagus dan akurat. Bagus tidaknya sebuah rencana trading sangat tergantung kepada kemampuan dan pengalaman invididu melakukan analisis. Semakin detil, tentunya semakin baik. Problem utama dalam menyusun rencana trading adalah mindset, karena mindset ini akan membentuk sudut pandangmu terhadap pasar saham. Apakah kamu akan memandang pasar ini dengan kacamata trader, investor, atau scalper, itu akan sangat mempengaruhi rencana trading yang akan kamu susun nanti.

Detil dalam rencana trading merupakan elemen yang sangat penting. Dulu ada seorang trader yang menyarankan agar kita tidak usah terlalu akurat sekali dalam menganalisis saham. Misalnya dalam menarik garis, meletakkan suport dan resisten, membaca indikator, dan sebagainya. Saya tidak sependapat. Saya tidak tahu bagaimana cara trader menyikapi kata 'akurat', tapi bagi saya 'akurat' bisa dilakukan asalkan ada keberanian buat menerima kondisi pasar berdasarkan apa yang tersaji. Jika harus menarik garis dari H ke H, maka lakukanlah. Jangan pula menarik garis asal kena H. Tinggal mendefinisikan mau H yang mana dan seperti apa yang pantas ditandai. Tapi kalau menarik garis hanya sekedar menyenggol saja, maka yang diperoleh hanya gambaran-gambaran besar saja. Dalam trading, kamu harus bisa melakukannya dengan lebih detil dan lebih teliti. Jangan cepat merasa puas dengan sketsa-sketsa yang besar. Karena saat trading nanti, perbedaan satu tick pun bisa menjadi persoalan. Saya menganalogikannya seperti api. Tak ada api kecil di bursa saham. Semuanya api besar. Artinya tak ada perbedaan kecil. Semuanya perbedaan besar. Karena perbedaan yang paling sepele pun sanggup membakar portofoliomu itu hingga luluh lantak.

Membuat Sistem Yang Tradable

Membuat Sistem Yang Tradable
Di luar sana ada ribuan macam sistem trading, lengkap dengan model analisis dan testimoni oleh masing-masing pelakunya. Beberapa sudah diajarkan lewat seminar, tapi tak jarang justru diketahui saat iseng-iseng bergabung di forum, blog, dan sebagainya. "Oh ternyata ada ya model analisis seperti ini", begitulah kira-kira komentar trader tiap kali melihat ada gaya analisis dan trading yang unik. Dengan melihat satu persatu model analisis, mendiskusikan sistem trading apa yang bagus buat dijalankan, maka sedikit demi sedikit kita akan memahami konsep sistem seperti apa yang kita inginkan buat ke depannya. Dan dengan cepat jari jemari akan mencorat-coret, mengetikkan ke dalam catatan harian, mengenai sistem trading yang akan dijalankan. Tapi sayangnya, problem pertama sekaligus terbesar yang harus dihadapi adalah menerjemahkan konsep analisis ke dalam konsep trading. Dengan kata lain, membuat sistem tersebut menjadi tradable. Contoh : jika kamu menarik garis Fibonacci Retracement, maka sistem secara otomatis akan menghitung target-targetnya. Nah, setelah target diasumsikan sudah diketahui, lantas bagaimana cara mengeksekusinya? Itu satu problem besar. Selanjutnya membuktikan apakah target itu benar segitu atau justru meleset parah.

Multitafsir Analisa Teknikal

Multitafsir Analisa Teknikal
Saya sempat menguraikan sedikit seputar Elliot Wave pada postingan kemarin (IHSG Review 25-02-2017). Ada banyak penganut Elliot Wave di luar sana yang memiliki teori yang berbeda. Contoh sederhana, wave 3 haruslah yang terpanjang. Saya tak sependapat. Dalam prakteknya wave 3 tidak selalu menjadi yang terpanjang, tapi tak pernah menjadi yang terpendek. Perbedaan teori ini memang sangat kecil, tapi sangat berpengaruh pada proses hitungan wave-wave selanjutnya dan seperti biasa akan memancing debat, saling ejek, bahkan saling nyinyir. Jangankan Elliot Wave yang sering dianggap teknikal berat, yang dianggap ringan seperti moving average, pola grafik, dan sebagainya pun masih banyak yang berbeda pendapat. Ini bukanlah soal siapa yang benar atau salah, tapi soal metode mana yang dianggap lebih (bukan paling) cocok buat pasar. (Baca juga : Sistem Trading : Cocok Buat Saya atau Cocok Buat Pasar?).

Jalan Terjal Para Penikmat Hoax

Jalan Terjal Para Penikmat Hoax
Rumus baku sukses di bidang apapun adalah mindset yang benar. Ini merupakan rumusan yang tak bisa ditawar-tawar. Yang membedakan seorang amatiran dengan profesional adalah mindset-nya. Mindset ini akan menentukan langkah apa yang akan diambil ke depannya. Jika mindset sudah keliru, maka biasanya langkah yang diambil pun akan keliru. Dan jika kekeliruan ini berkelanjutan, maka jalan yang diambil itu akan mengarah ke kehancuran, sadar atau tidak sadar ia melakukannya.

Pasar modal merupakan bisnis yang kejam. Ia tak mengenal siapa lawan dan siapa kawan. Yang berlawanan dengannya akan disapu bersih. Dan yang berkawan dengannya akan diangkat naik ke harga yang tinggi. Karena itu membutuhkan akurasi analisis yang benar-benar mumpuni. Segala data yang dianggap penting harus diolah, dan yang dianggap tidak penting harus bisa dibuang jauh-jauh. Jangan sampai bercampur aduk. Celakanya ada banyak sekali informasi yang bertaburan di dunia maya. Tak akan ada yang memberitahu mana informasi yang valid dan mana yang tidak. Masing-masing memberikan alasan plus data pendukung buat meyakinkan pelaku pasar. Pelaku pasar pun terseret ke dalam kondisi ambiguitas hingga pada titik tak tahu mana yang bisa dipercaya dan mana yang tidak, karena tak bisa membedakan antara yang benar dan salah. Semata-mata berharap pada faktor keberuntungan saja. "Moga-moga benar. Moga-moga tepat. Moga-moga untung." Kalau ambiguitas terjadi 1-2 kali, bisa dimaklumi. Tapi kalau hal itu terjadi sering kali, atau bahkan bisa dibilang dalam setiap keputusan selalu terjadi ambiguitas, berarti ada yang sangat salah pada mindset semenjak awal. (Baca juga : Pasar Saham Sebagai Miniatur Mentalitas Politikus, Mafia, dan Pahlawan.)

Konsep Lain Dari Akumulasi Dan Distribusi - Bagian 2

Konsep Lain Dari Akumulasi Dan Distribusi - Bagian 2

Gambar di atas merupakan pengembangan dari gambar sebelumnya di Bagian 1 yang lalu. Terlihat lebih lengkap dengan garis warna-warni menandai fase yang sedang berlangsung. Gambar ini saya peroleh dari www.readtheticker.com. Jika pada gambar bagian 1 hanya ada 4 fase (accumulation, distribution, mark up, mark down), maka di sini ada 6 fase karena ada 2 fase tambahan yaitu re-accumulation dan re-distribution.

Garis warna biru menandai daya beli yang besar dan daya jual yang lemah. Hampir semua pelaku pasar meyakini konsep bahwa fase akumulasi merupakan fase dimana pembeli yang dominan, namun dalam kenyataannya tidak begitu. Penjual bisa jadi lebih dominan, hanya saja entah kenapa harga tak lagi turun lebih jauh. Yang seperti ini sering sekali saya temukan secara kebetulan. Posisi bid offernya pun terbilang fantastis, kalau tak mau dibilang sinting. Betapa tidak, bid bisa langsing hanya berkisar ribuan lot, tapi offer bisa luar biasa tebal berkisar puluhan sampai ratusan ribu lot. Naluri trader pastinya akan berbisik dalam hati, "Habislah saham yang satu ini. Bakalan hancur." Anehnya harga tak kunjung turun. Selanjutnya sekonyong-konyong ada investor gila yang memborong offer, mengganjal bid dengan puluhan ribu lot, persis seperti seekor macan yang akan melawan kawanan gajah. Berhasil? Iya berhasil. Barisan offer tersebut mendadak tipis, bak asap tebal kena tiup angin kencang.

Konsep Lain Dari Akumulasi Dan Distribusi - Bagian 1

Konsep Lain Dari Akumulasi Dan Distribusi - Bagian 1
Konsep akumulasi-distribusi termasuk salah satu konsep dasar investasi / trading yang harus dipahami oleh setiap pelaku pasar, selain support-resisten, trend, jangka waktu, manajemen uang, dan sebagainya. Akumulasi dimaknai sebagai aksi mengumpulkan saham sebanyak yang sanggup pada saat harga dinilai masih murah / rendah. Distribusi dimaknai sebagai aksi menjual saham sebanyak yang sanggup pada saat harga dinilai sudah mahal / tinggi. Jika sebuah saham dikatakan sedang diakumulasi, maka asumsi yang pertama kali muncul adalah saham itu akan segera dibawa naik. Sebaliknya, distribusi diasumsikan saham akan segera dibawa turun. Konsep ini lebih enak buat diucapkan ketimbang dikerjakan, karena memang dalam prakteknya tak semudah yang disangkakan sebelumnya.

Menentukan Pilihan, Antara Teknikal Dan Fundamental

Menentukan Pilihan, Antara Teknikal Dan Fundamental
Mana yang lebih penting, analisa teknikal atau analisa fundamental? Jawaban yang sering kita dengar adalah sama pentingnya. Tapi kalau didesak lagi, kira-kira kamu akan menjawab yang mana? Apakah analisa teknikal lebih penting ketimbang analisa fundamental, atau justru sebaliknya? Saya tak bisa memilih satu di antara dua, maka saya memutuskan untuk menjalani keduanya secara acak. Ya kita tak bisa memberikan penilaian bahwa analisa yang satu lebih penting ketimbang analisa yang lain. Sama pentingnya. Kalau soal mana analisa yang paling bagus, pada kenyataannya analisa mana saja asalkan benar-benar dikuasai dengan benar, maka akan memberikan hasil yang bagus. Jadi ini bukan soal mana yang penting atau tidak penting, bagus atau tidak bagus, tapi soal analisa mana yang paling bisa kamu kuasai dengan benar-benar baik. (Baca juga : Fundamental atau Teknikal?.)

Spekulasi vs Judi, Dunia Yang Berbeda - Bagian 4 (Selesai)

Wall Street

Konsep sistem bursa saham itu bukanlah taruhan, bukan pula permainan, melainkan lelang. Uniknya di sini harga bisa dilelang naik tapi juga bisa dilelang turun, tergantung nilai dari saham yang bersangkutan, sehingga tak berbeda dari jual beli biasa yang dipengaruhi kondisi supplai dan demand. Penentuan nilai ini bisa secara fundamental, bisa secara teknikal; bisa jangka waktu pendek, bisa jangka waktu panjang. NIlai juga sangat tergantung dengan kondisi politik dan ekonomi, kebijakan-kebijakan yang diambil, serta besar-kecilnya arus modal yang masuk. Karena penilaian atas nilai umumnya bersifat subjektif (penilaian objektif hanya menurut pendapat pribadi masing-masing orang), maka muncul semacam kompetisi / persaingan dalam menganalisa saham. Persaingan inilah yang dikesankan sebagai 'bermain saham', padahal yang sebenarnya itu semata-mata adu analisa. Sama seperti 2 orang yang melihat sebuah lukisan, yang satu bilang itu gambar pemandangan dengan sawah yang menghijau, yang satu bilang itu gambar pemandangan dengan lautan biru. Salah satu di antaranya mungkin benar, namun keputusan final tetap akan diserahkan ke pasar.

Spekulasi vs Judi, Dunia Yang Berbeda - Bagian 3

Pasar Tradisional
Spekulasi Psikologis dan Fisik
Baik spekulasi psikologis dan fisik itu didahului dari mengumpulkan data-data atau informasi yang valid dan terpercaya. Bisa dikatakan bahwa yang mampu melakukan spekulasi itu adalah orang yang ahli di bidang tersebut. (Baca juga : Serital Sun Tzu : Menyusun Rencana Strategi dan Target.)

Kata "spekulasi" berasal dari bahasa Latin speculatus, yang merupakan bentuk kalimat lampau dari speculari , yang artinya "melihat kedepan" , mengamati, dan menelaah. Kata speculari itu sendiri merupakan turunan dari kata specula, yang berasal dari specere yang artinya "untuk melihat", yang merupakan serdadu Roma yang bertugas mengawasi perkampungan serdadu yang disebut castrum. Dalam kata ini ditemukan persamaan etimologik dari kalimat kontemporer yang menunjukkan pada suatu aktivitas "memandang dari jauh" di angkasa dan juga di dalam waktu. Maka tujuan utama spekulasi adalah untuk mengambil keuntungan dari situasi dan kondisi yang sedang dan akan terjadi.

Spekulasi vs Judi, Dunia Yang Berbeda - Bagian 2

Spekulasi vs Judi, Dunia Yang Berbeda - Bagian 2
Salah satu ciri khas dari permainan judi adalah zero sum game, dimana kekalahan satu pihak berarti kemenangan buat pihak yang lain. Konsep yang persis sama diyakini juga terjadi di perdagangan saham. Anggaplah kamu membeli saham A di harga Rp500,- dan kemudian jual rugi di harga Rp450 (rugi Rp50), maka kesimpulan yang paling mungkin muncul adalah ada pihak lain yang mengail profit Rp50 darimu. Bahkan yang sudah lama menekuni dunia saham pun berkeyakinan bahwa zero sum game di trading saham ini memang benar terjadi. Baiklah, ini juga membutuhkan penjelasan yang rada panjang, walaupun sebenarnya bukan sebuah topik yang sulit dipahami. Saya akan berikan satu komentar sederhana soal zero sum game ini : jika kamu meyakini bahwa trading saham itu zero sum game, maka hampir bisa dipastikan kamu sebenarnya tidak tahu sedang berhadapan dengan apa dan siapa. Kalau kamu ingin berjudi melawan pasar, silahkan saja. Tapi bersiap-siaplah posisimu hancur berkeping-keping dihajar pasar. Maka jangan pernah terpikirkan sedikitpun untuk berjudi melawan pasar. Itu adalah konsep utama profesi ini yang tak akan pernah bisa dipahami oleh seorang penjudi.

Spekulasi vs Judi, Dunia Yang Berbeda - Bagian 1

Billy Walters Saat Bekerja
Billy Walters Saat Sedang Bekerja
Salah satu alasan utama banyaknya orang yang tak tertarik untuk berprofesi di pasar modal adalah karena menganggap bahwa bursa saham itu tak lebih tak kurang dari sebuah kasino terbesar di dunia yang berjalan secara legal. Kegiatan bertransaksi saham dipandang sebagai kegiatan tebak angka dan adu keberuntungan, dimana setiap kemenangan pada satu pihak berarti kerugian pada pihak lain (zero sum game). Ya persis judi di kasino. Dulu saya pernah membaca sebuah pernyataan dari seorang trader yang kira-kira menuliskan begini, "Kalau kamu kenal dengan seorang penjudi terbaik, maka ajaklah dia untuk menjadi broker. Maka besar kemungkinan dia akan menghasilkan uang untukmu (dari profit saham)." Bahkan banyak konsep-konsep trading yang mengadopsi dari konsep-konsep judi, seperti risk-reward, spread, probabilitas, korelasi, dan sebagainya. Apakah memang dunia saham seperti itu? Ini akan butuh penjelasan yang cukup panjang, walaupun sebenarnya ini bukanlah topik yang sulit buat dipahami.

Dewa Turun Dari Kahyangan Saat Makanan Berlimpah

Dewa Turun Dari Kahyangan Saat Makanan Berlimpah
Pada periode tahun 2009-2010 bermunculanlah trader-trader yang menawarkan pelatihan trading saham, workshop, hingga seminar. Saat itu pasar sedang dilanda euforia pasca krisis Subprime Mortgage. Mereka yang berhasil mendulang profit spektakuler dari aksi rally harga sekonyong-konyong berinisiatif untuk membagi ilmu lewat seminar agar nantinya bisa menularkan keberuntungan itu buat orang lain juga. Saya tak mempersoalkan seminar-seminar saham ini. Kalau memang ada kesanggupan, silahkan buka seminar, workshop, atau pelatihan buat orang awam agar lebih melek investasi. Satu-satunya yang saya persoalkan hanyalah momentum kemunculannya. Menawarkan sukses dalam berinvestasi saham tepat pasca krisis biasanya hanya akan berakhir di php (pemberi harapan palsu). Kenapa baru muncul saat pasar sudah bullish? Kenapa Dewa baru turun dari Kahyangan saat makanan berlimpah? Kalaulah makanan sudah berlimpah ruah, buat apalagi dewa turun ke bumi?