Powered by Blogger.
===================================================================
Assalamualaikum Sobat Saham Ceria,
Salam sejahtera bagi kita semua,

Untuk meningkatkan kemampuan menulis sobat, silahkan tulis artikel mengenai pasar atau saham, cara kamu memahaminya, suka duka, awal mula, cita-cita, harapan, kesalahan hingga cara memperbaikinya, bedah buku / tulisan trader lain, mitos, dan sebagainya. Ada banyak sekali hal yang bisa kamu tuliskan.

Lebih disukai yang berisikan pengalaman ataupun paparan yang sarat dengan logika dan argumen yang kuat, sehingga sobat lain bisa belajar dari pengalamanmu itu.

Kirimkan tulisan kamu ke sahamceria1@gmail.com dengan format :

Nama penulis : boleh nama pena ataupun nama asli
Email :
Link Blog : (kalau ada)
Judul :
Uraian :
Referensi : (kalau ada)

Panjang tulisan antara 4000-5000 karakter. Tulisan yang menarik akan saya posting di blog ini. Dulu saya memulai untuk memahami pasar ini lewat menulis. Siapa tahu kamu pun juga begitu.

Semoga sukses dan salam trader!
===================================================================

Bagaimana Harga Saham Terbentuk?

Posted by Saham Ceria

Bagaimana Harga Saham Terbentuk?
Ini pertanyaan saya waktu mulai mempelajari dunia pasar modal di awal tahun 2003 lalu. Tujuan saya mempertanyakan ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi harga saham, sehingga nantinya bisa diketahui apakah sebuah saham naik atau turun. Tapi akhirnya saya mengerti bahwa ternyata itu merupakan 2 hal yang berbeda. Kita mungkin bisa mengetahui bagaimana harga saham terbentuk, tapi belum tentu kita mengetahui alasan sebuah saham naik atau turun. Postingan ini akan terdengar sangat teknis nantinya, tapi siapa tahu berguna buat mereka yang penasaran bagaimana cara kerja pasar ini sebenarnya.

Contoh, ada rencana aksi korporasi untuk merger dan akuisisi yang biasanya direspon positif oleh pasar, padahal itu masih sebatas wacana. Valuasi saham masih sama karena menggunakan nilai dari laporan keuangan yang sama, belum diupdate apalagi berubah. Apakah akuisisi tersebut akan merubah valuasi saham tersebut? Bisa iya, bisa tidak. Kita harus menunggu LK berikutnya untuk mengetahuinya. Pertanyaannya, bagaimana harga saham terbentuk berdasarkan aksi korporasi tersebut? Apakah ada satu mekanisme yang mengatur itu, yang dengan otomatis menaikkan harga saham, kendatipun acuan valuasinya masih tetap sama? Katakanlah investor menilai prospek perusahaan itu ke depannya, tapi tetap saja tidak, atau setidaknya belum, merubah valuasi apapun sebelum perusahaan tersebut benar-benar membuktikan kinerjanya.

Contoh lain, setelah pasar tutup sore jam 16.15 WIB, maka biasanya pergerakan harga esoknya tidak jauh-jauh dari harga penutupan tersebut. Tak disangka malamnya terjadi koreksi besar-besaran di pasar Amerika dan Eropa. Dow Jones -2%, FTSE -2,5%. Lalu kita cepat-cepat mengecek posisi EIDO. -4%. Aduh gawat ini! Esoknya di forum sudah pada ribut membahas itu. Bearish messenger mendadak menjadi idola baru. Dan benar saja! IHSG dibuka turun -3%! Pertanyaannya, apakah ini merupakan sistem yang terbentuk secara otomatis sehingga turunnya indeks pasar Amerika dan Eropa langsung didefinisikan oleh sistem di IDX untuk merespon hal yang sama? Ataukah turunnya IHSG karena memang diguyur? Lah, pembukaannya saja sudah -3%, kapan guyurnya? Turunnya IHSG secara mendadak tersebut tidak bisa ditahan bahkan oleh pemain besar sekalipun. Ataukah ada orang gila yang antri mengguyur dengan jumlah besar beberapa jam sebelum pasar dibuka? Kalau memang ada, maka harga mungkin akan dibuka pada zona hijau dulu atau zona merah tipis sebelum berubah menjadi zona merah menyala. Jika itu tak terjadi, maka tak ada kesempatan untuk merealisasikan penjualan karena harga sudah keburu melompat turun.

Contoh lain lagi, sebuah emiten membukukan kenaikan laba. EPS-nya pun naik dari 125 menjadi 142. Harga sahamnya adalah 1500. Pertanyaannya, siapa yang menentukan harga saham tersebut harus di 1500? Kenapa tidak 3000 atau 5000? Adakah peraturan yang mengatur soal itu?

Harga IPO

Ketika sebuah perusahaan memutuskan untuk go public, maka ada lembaga investasi yang bertugas untuk memvaluasi harga saham dengan menggunakan rumusan yang sangat kompleks. Mereka memperhitungkan berapa jumlah saham yang mau ditawarkan ke publik dan pada harga berapa. Semakin banyak jumlah saham yang mau dilepas, semakin turun harganya. Sebagai contoh, sebuah perusahaan yang valuasinya diperkirakan Rp10 trilliun mau melepas 100 juta lembar saham di harga Rp500 per lembar atau 200 juta lembar di harga Rp250.

Setelah harga terbentuk, maka prospektus IPO pun dibagikan ke investor yang berminat. Lalu investor yang menilai apakah harga segitu menarik atau tidak.

Spesialis (market maker)

Spesialis adalah orang yang menyediakan likuiditas untuk memastikan order terpenuhi. Tujuannya agar jumlah pembeli dan penjual stabil, sehingga volatilitas harga bisa ditekan. Spesialis alias market maker bertugas untuk memenuhi kebutuhan bid dan offer. Jika ada trader ingin beli saham di harga Rp650, maka spesialis itu yang akan mencarikan trader lain yang ingin menjual di harga Rp650, sehingga transaksi akan terjadi. Proses sedemikian cepat hingga bisa terbentuk dalam hitungan detik saja. Ia mendapatkan keuntungan dari selisih harga jual dan beli yang kecil saja, disebut sebagai spread. Jadi seorang spesialis bukan memborong saham di harga Rp650, menyimpannya dan menunggu jual di harga Rp1000, melainkan seseorang yang bertugas untuk menjamin ketersediaan barang di pasar. Ia melakukannya walaupun sampai harus mengambilnya langsung dari persediaan yang ia punya, namun biasanya dengan cepat akan terisi kembali.

Bertugas? Siapa dia memangnya? Apakah dia salah seorang petugas bursa saham? Entahlah. Saya sendiri menyebutnya sebagai orang yang punya misi membuat pasar jadi rame. Itu saja. Tak lebih, tak kurang. Tak ada gaji apapun yang diterimanya dari bursa. Ini murni inisiatif sang spesialis atau pihak-pihak yang memang menugaskan orang seperi itu, bukan inisiatif pihak bursa. Sama seperti di pasar riil, orang bakalan malas datang kalau pasarnya sepi. Dengan membuatnya rame, walaupun itu hanya sekedar transaksi pindah kantong kanan ke kantong kiri, biasanya cukup berhasil untuk memancing masuk investor-investor baru. Namun, dengan pasar saham yang sudah semakin rame, apakah spesialis ini masih dibutuhkan? Maka tugasnya tidak lagi sekedar membuat rame pasar, tapi lebih dari itu.

Di kondisi normal (jumlah pembeli = penjual), order bisa ditangani oleh komputer, tapi di kondisi lain bisa terjadi dimana jumlah pembeli dan penjual tidak seimbang. Ini disebut sebagai order imbalance. Untuk kondisi seperti ini spesialis harus turun tangan langsung untuk memenuhi order-order tersebut. Dan sudah pasti kegiatan mereka tidak hanya terbatas pada pasar reguler, tapi juga pasar non reguler. Logika ini terdengar mudah jika kemudian harga saham tersebut naik. Tapi bagaimana jika harga saham turun, misalnya pada kondisi pasar crash? Siapa yang menjadi pembeli siaganya (stand by buyer)? Ya pembelinya tetap si spesialis. Dan dia bersedia beli, karena sebelumnya dia sudah ambil posisi short lebih dulu. Dengan kata lain, posisi yang ia buka sekarang adalah cover short. Ia juga harus me-maintain order di bid dan juga offer. Namun, pada kondisi pasar crash, ia pun bisa menelan kerugian juga dan mungkin itu satu-satunya kondisi yang bisa membuatnya merugi.

Misalnya spesialis berhasil mendeteksi adanya demand besar di saham AAAA pada harga 2300, padahal harga saat itu masih 2520. Yang kemudian terjadi adalah harga tersebut turun hingga 2250, melampaui 2300, sehingga demand di 2300 akan terpenuhi. Dalam banyak kasus, kalau kita berhasil mendeteksi posisi demand dengan baik, kita akan melihat bahwa harga diguyur terus menerus pada level tersebut, padahal yang terjadi selanjutnya harga justru akan naik tajam. Guyuran tersebut terlihat seperti aksi yang bodoh, bukan? Diguyur kok malah naik? Istilah bodoh terdengar kurang tepat, tapi mungkin konyol lebih pas. Spesialis yang menemukan demand itu persis seperti semut yang menemukan gula. Mereka akan lakukan cara apapun agar demand tersebut terpenuhi dan itu terjadi saban harinya. Begitu juga ketika spesialis menemukan potensi big supply di sebuah level harga, maka ia akan memborong saham tersebut sampai menuju titik supply yang dimaksud dan dialah yang akan memakan supply yang besar itu nanti, menjadikannya seperti kerbau gendut yang siap muntah kapan saja.

Supplai dan demand

Sebenarnya konsep dasar pembentukan harga itu adalah supplai dan demand. Jika supplai > demand, maka harga akan turun. Jika supplai < demand, maka harga akan naik. Maka, setiap ketidakseimbangan antara supplai dan demand akan menghasilkan perubahan harga, entah itu naik atau turun, entah itu alami ataupun manipulasi. Di dunia saham, perubahan supplai dan demand ini bisa terjadi seketika karena faktor likuiditas yang besar, bahkan bisa terjadi dalam hitungan menit saja.

Instink Gerombolan (Herd instinct)

Dalam bahasa yang lebih mudah, kontrarian. Mereka mengambil posisi yang berlawanan dari kerumunan pasar. Jika pasar bergerak naik, ia akan melompat keluar. Jika pasar bergerak turun, ia akan melompat masuk. Aksi tersebut tidak akan memberikan dampak apa-apa, kecuali dilakukan oleh pihak-pihak yang menggunakan kekuatan uang yang besar.

Mekanisme lelang (auction)

Mekanisme ini mengatur terutama sekali berapa harga penutupan dan berapa harga pembukaan. Teori Efficient Markets Hypothesis mengatakan, "Prices reflect all available information." Apapun yang terjadi pada harga esok hari, itu merupakan refleksi informasi yang diperoleh pada kurun waktu 17,5 jam sebelumnya.
Pada saat kita tidur, saham IDX ini ternyata terus ditransaksikan di bursa luar, tapi tidak semua saham. Biasanya saham-saham yang masuk kategori big caps. Jika terjadi berita jelek, maka saham-saham tersebut turun tajam akibat tekanan jual yang besar. Esok pagi saat IDX buka, maka saham tersebut akan gap down.

Setelah pasar tutup, para trader tetap bisa memasukkan order yang baru akan dijalankan saat pasar buka besok. Di sini terjadi mekanisme lelang. Sistem secara otomatis akan mencari harga terbaik dan itu akan menjadi harga pembukaan esok hari. Misalkan saham AAAA ditutup di harga Rp1000. Ternyata malamnya dikabarkan pabriknya hangus terbakar sehingga AAAA menderita kerugian ratusan miliar rupiah. Malam itu juga kemungkinan akan muncul order jual 10 kali lebih banyak ketimbang order beli. Ini yang akan jadi acuan harga pembukaan esok hari. Jika ternyata jumlah order jual masih biasa saja, maka berarti esoknya harga pembukaan tidak akan jauh dari harga penutupan sebelumnya.

Sistem ini diawasi oleh seseorang sebagai penanggungjawab, disebut Dealer. Logikanya pada malam hari tentunya dealer sudah tahu apakah sebuah saham akan dibuka naik atau turun besok, tapi dealer bukanlah spesialis. Spesialis dengan mudah membuat antrian jual besar-besaran pada malam hari, lalu menggantinya dengan antrian beli pada pagi hari, sehingga sistem lelang akan membaca secara otomatis bahwa order beli lebih besar. Dealer juga takkan pernah tahu apakah harga akan naik esok hari hanya berdasarkan posisi bid offer yang terbentuk menjelang pasar tutup. Ini membuat posisinya sama saja dengan kita.

Tapi akhirnya saya mengerti bahwa ternyata itu merupakan 2 hal yang berbeda. Kita mungkin bisa mengetahui bagaimana harga saham terbentuk, tapi belum tentu kita mengetahui alasan sebuah saham naik atau turun.

Semoga bermanfaat.

Related Post



Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...