Buat analisis teknikal, biasanya ada banyak pendapat miring seputar ini. Analisis teknikal tidak memiliki metode buat menganalisis valuasi saham. Asumsi pergerakan saham semata-mata disandarkan pada psikologis fear and greedy. Fear menciptakan supplai, dimana orang berlomba-lomba buat jualan, sedangkan greedy menciptakan demand, dimana orang berlomba-lomba buat beli. Nilai psikologis itu diformulasikan ke dalam oscillator yang nantinya akan menandai zona psikologis overbought (terlalu tamak) dan oversold (terlalu takut). Itu jelas bukanlah valuasi saham. Dengan analisis sarat dengan penilaian subjektif seperti itu, apa sebenarnya alasan penting buat mempelajari analisis teknikal?
Showing posts with label Serial Teknikal. Show all posts
Showing posts with label Serial Teknikal. Show all posts
Home » Posts filed under Serial Teknikal
Alasan Mempelajari Analisis Teknikal
Harga saham akan mengikuti valuasinya. Valuasi saham sangat ditentukan oleh kinerja emiten. Dengan mempelajari analisis fundamental, maka besar peluang untuk bisa memprediksi harga saham nantinya. Itu merupakan salah satu dari sekian banyak alasan untuk mempelajari analisis fundamental. Saya sendiri juga berkali-kali menyampaikan di blog ini bahwa hal pertama yang kudu dipelajari di saham adalah analisis fundamental. Strong recommended lebih enak didengar jika tidak mau dibilang wajib.
Buat analisis teknikal, biasanya ada banyak pendapat miring seputar ini. Analisis teknikal tidak memiliki metode buat menganalisis valuasi saham. Asumsi pergerakan saham semata-mata disandarkan pada psikologis fear and greedy. Fear menciptakan supplai, dimana orang berlomba-lomba buat jualan, sedangkan greedy menciptakan demand, dimana orang berlomba-lomba buat beli. Nilai psikologis itu diformulasikan ke dalam oscillator yang nantinya akan menandai zona psikologis overbought (terlalu tamak) dan oversold (terlalu takut). Itu jelas bukanlah valuasi saham. Dengan analisis sarat dengan penilaian subjektif seperti itu, apa sebenarnya alasan penting buat mempelajari analisis teknikal?
Buat analisis teknikal, biasanya ada banyak pendapat miring seputar ini. Analisis teknikal tidak memiliki metode buat menganalisis valuasi saham. Asumsi pergerakan saham semata-mata disandarkan pada psikologis fear and greedy. Fear menciptakan supplai, dimana orang berlomba-lomba buat jualan, sedangkan greedy menciptakan demand, dimana orang berlomba-lomba buat beli. Nilai psikologis itu diformulasikan ke dalam oscillator yang nantinya akan menandai zona psikologis overbought (terlalu tamak) dan oversold (terlalu takut). Itu jelas bukanlah valuasi saham. Dengan analisis sarat dengan penilaian subjektif seperti itu, apa sebenarnya alasan penting buat mempelajari analisis teknikal?
Breakout, Berbagi Cerita Seputar Seni Pendobrak Tembok
Metode trading yang paling banyak digunakan tidak hanya oleh trader pemula, tapi juga trader profesional, adalah metode breakout. Selain karena sangat mudah dipahami, metode ini juga disinyalir banyak menghasilkan trader-trader sukses. Kunci suksesnya berada pada kesederhanaannya. Semakin menarik karena model breakout ini ada banyak variasinya, mulai dari horizontal (seperti fractal, T3B, darvas box, fibonacci), diagonal (seperti trendline, pola), dinamis (seperti MA, O, H, L, C, VWAP), dan sebagainya.
Breakout merupakan kondisi dimana harga berhasil menembus support / resisten yang ditandai. Contoh : saham A memiliki support di 450 dan resisten di 520. Jika harga turun lebih rendah dari 450, maka disebut breakout support. Sebaliknya, jika harga naik lebih tinggi dari 520, maka disebut breakout resisten. Sengaja saya jelaskan ini lebih dahulu agar sobat mengetahui bahwa pemahaman saya tentang breakout itu sama seperti trader-trader lainnya. Saya tak punya definisi lain soal breakout.
Breakout merupakan kondisi dimana harga berhasil menembus support / resisten yang ditandai. Contoh : saham A memiliki support di 450 dan resisten di 520. Jika harga turun lebih rendah dari 450, maka disebut breakout support. Sebaliknya, jika harga naik lebih tinggi dari 520, maka disebut breakout resisten. Sengaja saya jelaskan ini lebih dahulu agar sobat mengetahui bahwa pemahaman saya tentang breakout itu sama seperti trader-trader lainnya. Saya tak punya definisi lain soal breakout.
Candlestick, Seni Membaca Grafik Saham
Saya mewanti-wanti buat mereka yang baru terjun ke saham, janganlah terburu-buru buat mempelajari candlestick. Analisis candlestick memang terlihat menarik buat siapapun, tak terkecuali pemula, tapi sebenarnya ia merupakan seni analisis teknikal yang advanced. Bisa dimengerti bahwa godaan buat mempelajari seni teknikal yang satu ini sangatlah besar. Bukan apa-apa, setiap harinya kita selalu dihadapkan dengan grafik candlestick, sebagai grafik khas saham atau forex. (Grafik bar juga lazim digunakan, tapi kalah populer jika dibandingkan candlestick.) Tentunya sedikit banyak kita ingin tahu apa yang terjadi dengan saham tersebut jika sudah muncul Unique Three River Bottom, misalnya.
Bagi saya, candlestick menyumbang lebih dari 30% buat pemahaman analisis teknikal. Saat membangun sistem, filosofi di balik candlestick benar-benar sangat membantu saya. Hati-hati, jika candlestick digunakan langsung buat trading, maka akurasinya hanya 5%. Jika kurang memahami filosofinya, maka kita tidak akan paham apa yang hendak disampaikan oleh candlestick tersebut.
Bagi saya, candlestick menyumbang lebih dari 30% buat pemahaman analisis teknikal. Saat membangun sistem, filosofi di balik candlestick benar-benar sangat membantu saya. Hati-hati, jika candlestick digunakan langsung buat trading, maka akurasinya hanya 5%. Jika kurang memahami filosofinya, maka kita tidak akan paham apa yang hendak disampaikan oleh candlestick tersebut.
Optimasi, Pengakuan Terhadap Supremasi Pasar
Teknikal merupakan perangkat yang amat krusial saat hendak men-timing pasar. Tentu saja, keberadaan analisa teknikal sebenarnya lebih dari sekedar menghitung target. Memperhitungkan kapan saat yang benar-benar tepat buat beli / jual merupakan salah satu dari 2 kunci kesuksesan trading. (Kunci pertama adalah timing, kunci kedua adalah target.)
Buat timing ini, banyak sekali ragam indikator yang bisa digunakan. Kamu kudu mencobanya satu per satu. Saya pun dulu begitu. Malah dulu saya lebih parah. Saya sempat terjebak dalam halusinasi holy grail. Saya memburu indikator yang saya yakini bisa memberikan sinyal secara cepat dan akurat. Sayangnya, tak peduli sekuat apapun saya berusaha, tetap tak menemukan apa yang disebut holy grail dalam teknikal itu. Semua indikator berakhir sama. Sama-sama tak memberikan hasil yang konsisten. Ia memang konsisten membangkitkan sinyal, tapi akurasinya dipertanyakan. Silahkan kamu pilih beragam indikator teknikal modern dan buktikanlah sendiri. Kamu akan menyaksikan bahwa indikator itu rata-rata berkelakuan sama saja.
Buat timing ini, banyak sekali ragam indikator yang bisa digunakan. Kamu kudu mencobanya satu per satu. Saya pun dulu begitu. Malah dulu saya lebih parah. Saya sempat terjebak dalam halusinasi holy grail. Saya memburu indikator yang saya yakini bisa memberikan sinyal secara cepat dan akurat. Sayangnya, tak peduli sekuat apapun saya berusaha, tetap tak menemukan apa yang disebut holy grail dalam teknikal itu. Semua indikator berakhir sama. Sama-sama tak memberikan hasil yang konsisten. Ia memang konsisten membangkitkan sinyal, tapi akurasinya dipertanyakan. Silahkan kamu pilih beragam indikator teknikal modern dan buktikanlah sendiri. Kamu akan menyaksikan bahwa indikator itu rata-rata berkelakuan sama saja.
Harmonic Patterns
Pola-pola harmonis (harmonic patterns) didasarkan pada asumsi bahwa dalam pergerakan harga saham sesekali ditemukan pola-pola yang berulang dan konsisten. Pola yang dimaksud dibangun tidak hanya dari 3 titik (A-B-C), melainkan 4 titik (A-B-C-D), dimana jika persyaratan A-B-C telah terpenuhi, maka letak titik D kemungkinan bisa diprediksi. Metode ini merupakan salah satu pendekatan technical swing trading dengan memanfaatkan perangkat Fibonacci. Jika kamu salah satu penggemar chart patterns, maka harmonic patterns ini layak buat kamu coba. Kunci sukses menggunakan ini adalah mengenali pola tersebut dengan baik.
Diagram di bawah ini saya ambil dari Protrader.com
Mengenal 3 Divergensi Teknikal
Indikator teknikal merupakan produk turunan dari perhitungan matematika harga dengan maksud memudahkan dalam memahami pergerakan harga yang bersangkutan. Maka umumnya pergerakan harga akan selalu bersesuaian dengan oscilatornya. Namun, ada kondisi dimana terjadi perbedaan arah pergerakan antara harga dengan oscilator. Kondisi seperti ini disebut sebagai divergensi. Selain itu divergensi juga bisa terjadi antara harga-indikator, harga-capital flow, harga saham-harga komoditas, harga saham-IHSG, dan sebagainya, dimana yang satu diasumsikan menjadi acuan buat yang lain.
Penganut teknikal meyakini bahwa divergensi merupakan sinyal terkuat dari oscilator. Ketimbang melihat persilangan indikator sebagai sinyal, divergensi berpotensi memberikan sinyal yang lebih baik lagi yang pada tujuan akhirnya memudahkan trader mengambil keputusan yang tepat di waktu yang tepat pula. Kenapa harus dimaknai sebagai divergensi? Tak cukupkah trader memantau indikator saja untuk memahami pergerakan harga? Maka jawabnya, tidak cukup. Karena yang sebenarnya indikator terbaik dalam memahami pergerakan harga adalah harga itu sendiri. Karena itu, dalam menggunakan oscilator ataupun indikator manapun, jangan lupa untuk membandingkannya dengan pergerakan asli harga yang bersangkutan. Bisa dikatakan oscilator ini hanya alat bantu saja, bukan sebuah alat diagnosa yang definitif, karena definitifnya tetap pada harga itu sendiri.
Penganut teknikal meyakini bahwa divergensi merupakan sinyal terkuat dari oscilator. Ketimbang melihat persilangan indikator sebagai sinyal, divergensi berpotensi memberikan sinyal yang lebih baik lagi yang pada tujuan akhirnya memudahkan trader mengambil keputusan yang tepat di waktu yang tepat pula. Kenapa harus dimaknai sebagai divergensi? Tak cukupkah trader memantau indikator saja untuk memahami pergerakan harga? Maka jawabnya, tidak cukup. Karena yang sebenarnya indikator terbaik dalam memahami pergerakan harga adalah harga itu sendiri. Karena itu, dalam menggunakan oscilator ataupun indikator manapun, jangan lupa untuk membandingkannya dengan pergerakan asli harga yang bersangkutan. Bisa dikatakan oscilator ini hanya alat bantu saja, bukan sebuah alat diagnosa yang definitif, karena definitifnya tetap pada harga itu sendiri.
Bollinger Bands
Bollinger Bands (BB) merupakan perangkat analisa teknikal yang diciptakan oleh John Bollinger pada awal tahun 1980-an. Konsep pemikiran indikator ini adalah bahwa volatilitas harga bersifat dinamis, bukan statis. Misalnya, untuk menandai sebuah range trading harga, trader biasanya suka memplot garis statis sebagai support dan resisten (SR), dan diharapkan harga cenderung 'terperangkap' di area tersebut. BB menggunakan prinsip yang sama, tapi dengan SR yang dinamis, bukan statis. SR dinamis ini akan berubah sesuai pergerakan harga setiap harinya. Apakah ini menjadi suatu kelebihan BB? Ataukah justru menjadi suatu kelemahan? Kita coba ulas di sini.
Ichimoku
![]() |
| Goichi Hosoda |
Moving Average
Moving Average merupakan indikator teknikal tertua. Indikator ini dihasilkan dengan cara menghitung rata-rata harga tertimbang pada periode waktu tertentu. Misalnya, harga tertimbang yang mau dihitung adalah harga penutupan dalam kurun waktu 20 hari, maka hasilnya rata-rata harga penutupan dalam periode terakhir. Selain diplot pada grafik harga saham, juga bisa diplot pada grafik harga volume. Moving average ini banyak macamnya, mulai dari Simple MA, Exponential MA, Displaced MA, Wilders MA, dan sebagainya, namun apapun pilihan MA-nya tidak akan memberikan perbedaan hasil yang mencolok. Saya sendiri lebih suka menggunakan Wilders MA karena hasilnya yang lebih smoothed. Pertanyaannya, apa gunanya kita menghitung harga rata-rata tersebut dalam periode waktu tertentu?
DiNapoli Levels
DiNapoli Level merupakan seni mengukur support dan resisten dengan menggunakan fibonacci. Tehnik ini diperkenalkan oleh Joe DiNapoli. Konsep dasar metode ini tak banyak berbeda dengan fibonacci lainnya, dimana setiap pergerakan harga naik atau turun dari A ke B akan mengalami retracement sebesar 0.382 s/d 0.618 menuju titik C. Ratio 0.382 dan 0.618 itu disebut sebagai FibNode ditandai sebagai F3 dan F5.










