Powered by Blogger.
===================================================================
Assalamualaikum Sobat Saham Ceria,
Salam sejahtera bagi kita semua,

Untuk meningkatkan kemampuan menulis sobat, silahkan tulis artikel mengenai pasar atau saham, cara kamu memahaminya, suka duka, awal mula, cita-cita, harapan, kesalahan hingga cara memperbaikinya, bedah buku / tulisan trader lain, mitos, dan sebagainya. Ada banyak sekali hal yang bisa kamu tuliskan.

Lebih disukai yang berisikan pengalaman ataupun paparan yang sarat dengan logika dan argumen yang kuat, sehingga sobat lain bisa belajar dari pengalamanmu itu.

Kirimkan tulisan kamu ke sahamceria1@gmail.com dengan format :

Nama penulis : boleh nama pena ataupun nama asli
Email :
Link Blog : (kalau ada)
Judul :
Uraian :
Referensi : (kalau ada)

Panjang tulisan antara 4000-5000 karakter. Tulisan yang menarik akan saya posting di blog ini. Dulu saya memulai untuk memahami pasar ini lewat menulis. Siapa tahu kamu pun juga begitu.

Semoga sukses dan salam trader!
===================================================================

Multitafsir Analisa Teknikal

Posted by Saham Ceria

Multitafsir Analisa Teknikal
Saya sempat menguraikan sedikit seputar Elliot Wave pada postingan kemarin (IHSG Review 25-02-2017). Ada banyak penganut Elliot Wave di luar sana yang memiliki teori yang berbeda. Contoh sederhana, wave 3 haruslah yang terpanjang. Saya tak sependapat. Dalam prakteknya wave 3 tidak selalu menjadi yang terpanjang, tapi tak pernah menjadi yang terpendek. Perbedaan teori ini memang sangat kecil, tapi sangat berpengaruh pada proses hitungan wave-wave selanjutnya dan seperti biasa akan memancing debat, saling ejek, bahkan saling nyinyir. Jangankan Elliot Wave yang sering dianggap teknikal berat, yang dianggap ringan seperti moving average, pola grafik, dan sebagainya pun masih banyak yang berbeda pendapat. Ini bukanlah soal siapa yang benar atau salah, tapi soal metode mana yang dianggap lebih (bukan paling) cocok buat pasar. (Baca juga : Sistem Trading : Cocok Buat Saya atau Cocok Buat Pasar?).

Saya menganalogikan seni membaca grafik saham itu seperti menginterpretasikan lukisan hitam putih. Lukisan yang sama, tapi si A mengatakan bahwa itu lukisan lautan. Sedangkan si B mengatakan itu lukisan sawah. Si C mengatakan itu lukisan padang rumput. Mana yang benar? Tidak tahu, karena hanya pelukisnya sendiri yang paling tahu objek apa yang berada di dalam lukisan tersebut. Ketiganya (A, B dan C) sama-sama melihat objek yang luas dan serta merta imej yang muncul di kepalanya beragam. Bisa laut, bisa sawah, bisa padang rumput, bisa padang pasir, dan sebagainya. Interpretasi beragam itu muncul sebagai cara terdekat buat menebak apa isi pikiran sang pelukis. Salah satu dari tebakan itu mesti benar adanya. Jika analogi ini ditarik ke bursa saham, maka tingkat kesulitannya menjadi sangat tinggi sehingga peluang bahwa gambar tersebut bisa diprediksi akan semakin kecil. Karena apabila sebuah grafik saham disajikan ke hadapan 100 orang, maka kemungkinan akan ada 100 macam interpretasi yang muncul. Itu masalah pertama. Masalah yang kedua adalah ini seperti soal tanpa kunci jawaban. Artinya kita semua boleh menganalisis saham, tapi tak pernah tahu jawaban yang sebenarnya.

Grafik saham itu juga bisa dianalogikan seperti wajah. Sebelum menilai, terlebih dahulu kita harus pastikan apakah ini tampak samping, depan, atau belakang. Ketika kita hendak membaca karakter seseorang dari wajahnya, kita harus melihat bentuk alis, mata, hidung, bibir, pipi, kernyit kening, rambut, telinga, bahkan sampai golongan darahnya diyakini menyimpan sifat tersendiri. Dan masing-masing dari organ itu memiliki interpretasi yang beragam pula. Tak selalu alis yang lurus pertanda bagus. Tak selalu hidung yang mancung yang terbaik. Umumnya seni membaca wajah didasarkan pada kelaziman, bukan keharusan. Setelah karakternya terbaca, maka ada banyak wajah baru yang antri buat dibaca. Dan yang tersulit adalah memprediksi akan seperti apa wajah seorang bayi ketika sudah besar nanti. Di bursa saham ini diartikan bahwa grafik menyimpan banyak sekali faktor-faktor yang di dalamnya tersimpan beragam makna pula. Ada O, H, L, C, Volume, Value, FNBS, Frekuensi, Average Price, porsi kepemilikan saham, kapitalisasi pasar, bid, offer, buyer, seller, dan sebagainya. Kombinasi satu sama lain akan menghasilkan karakter baru dan ini benar-benar bukan pekerjaan yang mudah. Dan pe-er terbesar adalah memprediksi seperti apa saham itu ke depannya, apakah naik atau turun.

Saat kamu melihat grafik, apa yang pertama kali kamu lihat? Formasi candlesticknya? Oscillatornya? Trendnya? Volumenya? Pola grafiknya? Orang akan cenderung memulai dari hal yang menurutnya paling ia kuasai. Jika ia lebih menguasai oscillator, maka ia akan mulai membaca grafik dari sana. Jika ia menguasai candlestick, maka ia akan memulai dari sana. Dan seterusnya. Berbeda pandangan akan melahirkan konsep yang berbeda. Konsep yang berbeda akan melahirkan sistem yang berbeda. Dan sistem yang berbeda akan melahirkan hasil penafsiran yang berbeda pula.

Sayangnya tak ada panduan khusus buat menganalisis saham. Memang ada beberapa guidance, salah satunya seperti yang pernah saya postingkan di sini. Tapi semua guidance itu tak berarti bahwa hasil analisisnya akan seragam. Sesama penganut Elliot Wave bisa berbeda pendapat. Sesama pengguna Stochastic bisa berbeda pendapat. Sesama pengguna Alligator bisa berbeda pendapat. Dan tak jarang perbedaannya terlalu mencolok. Yang satu bilang saham Y akan naik, yang satu bilang saham Y akan turun, karena ujung-ujungnya lebih bersandarkan kepada pengalaman pribadi ketimbang teori awalnya. Kenapa banyak yang nekad mengambil langkah menyimpang dari teori? Sebutan menyimpang sebenarnya kurang tepat, tapi lebih pas disebut berimprovisasi demi mencari nilai yang paling cocok. Kalaulah itu disebut menyimpang, ya terserah. Tak ada teori yang benar 100%. Sekali waktu tebakannya memang tepat, di waktu lain meleset parah. Tak ada yang konsisten. Tak ada yang benar-benar bisa dipercaya 100%. Semua serba open disclaimer.

Multitafsir ini memang tak bisa dicegah. Ia menjadi sebuah keniscayaan. Maka tak perlu terlalu dipersoalkan. Tapi mungkin kamu harus memahami satu hal. Ketika kita memandang (bukan sekedar melihat) sebuah lukisan, kita cenderung memunculkan imej yang familiar lebih dulu untuk memahami imej yang rumit. Manusia cenderung memulai dari sesuatu yang mudah dipahami, baru melangkah ke yang lebih sulit. Sayangnya imej yang familiar itu seringkali tak ada di lukisan itu, sehingga imej itu tetap sulit untuk dibayangkan. Dan ketika imej sulit masih tak terbayangkan oleh pikiran, serta merta kita menyerah atas lukisan itu. Kalaupun tidak menyerah, kebanyakan kita akan menebak secara asal-asalan saja. Dan jika tebakan jarang mengena, kita menjadi frustrasi. Ya saya adalah salah satu yang pernah sangat frustrasi dengan analisis teknikal. Dan saya menyadari bahwa penyebab utama dari sulitnya memahami itu adalah akibat detil yang tidak sempurna yang membuat saya tak kunjung memahami gambar apa yang sedang saya pelototin ini. Kenapa detil jadi tidak sempurna? Karena data yang dianalisis kurang lengkap.

Multitafsir Analisa Teknikal
Maka saya dulu memulainya dengan memahami apa itu pasar dan apa yang diinginkannya. Ini bukan soal psikologi trading, tapi soal sistem. Setelah itu barulah saya mulai mendalami apa logika yang tersimpan di balik grafiknya dan mencatat data apa saja yang dibutuhkan. Tanpa memahami logika pasar, sangat sulit buat memahami lukisan apa yang sedang dibentuk. Pasar itu tentunya punya sistem sendiri dan sedapat-dapatnya kita menyusun sistem yang bisa seiring sejalan dengan pasar. Saya tak mengatakan bahwa cara ini akan 100% berhasil, tapi setidaknya setelah memahami prinsip yang berlaku di pasar saham, logika analisis grafik saham sedikit demi sedikit bisa dipahami. Memang progresifnya sangat pelan, nyaris lambat, tapi itu jauh lebih baik ketimbang ilmu kaget (kalau saham naik, kaget; kalau saham turun, kaget). Jadi jangan heran kalau di blog ini saya banyak sekali mengulas tentang bagaimana pasar saham ini, karena memang begitulah cara saya mulai menyelami grafik saham nantinya.

Sobat, banyaknya ragam penafsiran itu membuktikan sulitnya menemukan standard baku dalam analisis teknikal. Semua seolah menjadi serba relatif, semua seolah menjadi serba subjektif. Ini seperti soal ujian tanpa kunci jawaban. Tak ada cara apapun buat mengantisipasinya, kecuali membiarkan waktu untuk menjawabnya. Jangan terlalu berharap untuk bisa cepat jago, cepat kaya, cepat ini, cepat itu, karena memang mempelajari analisis saham ini butuh waktu yang tak sebentar. Pastikan saja pikiranmu tetap terbuka menerima ilmu-ilmu baru dan persiapkan dirimu mengarungi perjalanan yang benar-benar panjang.

Semoga bermanfaat dan tetap semangat!!!

Related Post



Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...