Dikatakan sukar memvaluasi fundamentalnya bukan berati tanpa fundamental sama sekali. Hanya saja pergerakan utamanya tampaknya bukan dari semata-mata fundamental saja. Fundamental yang bagus tentu akan jadi kelebihan. Namun dari pengamatan saya, pengaruh terbesar pergerakan saham-saham komoditas adalah harga spot komoditas tersebut di pasar future. Golden momentum terjadi saat harga spot sudah naik, tapi belum diikuti harga di pasar saham. Itu merupakan titik akumulasi beli ideal. Semudah itukah? Kalau memang golden momentum, ya memang semudah itu. Tinggal cek, apakah TA-nya mendukung atau tidak. Bagaimana dengan fundamentalnya? Lupakan fundamental saat ini. Maka dari awal saya katakan kelakuan saham-saham komoditas ini persis seperti saham gorengan, karena sering anomali dengan FA-nya.
Menuruti gerakan di pasar spot future ketimbang fundamentalnya sendiri membuktikan bahwa sebenarnya investor meragukan prospek saham-saham berbasis komoditas, sehingga menggunakan acuan non fundamental untuk memprediksikan masa depan komoditas. Penurunan harga di pasar spot serta merta dijadikan basis informasi ke depannya. Ini menurut saya sudah berlebihan. Pasar future itu tak kalah kejamnya dibandingkan dengan pasar saham. Di sana juga banyak pihak-pihak yang berkepentingan. Mungkin ini salah satu yang membuat fundamentalis merasa ogah berinvestasi di saham-saham komoditas karena rawan manipulasi harga.
Tapi kemudian muncul 2 problem, yaitu :
- Harga saham di pasar lebih dulu naik ketimbang harga spot komoditasnya. Ini sangat sering terjadi di komoditas CPO. Artinya golden momentum tidak terjadi.
- Harga spot turun, tapi harga saham masih naik. Logikanya ini akan jadi Dead momentum alias sinyal distribusi jual. Sayangnya tidak selalu terjadi seperti itu.
Ini terbentuk ketika harga spot diguyur turun tajam sehingga membentur support ideal. Pada saat yang sama harga saham hari ini pun membentur support juga. Dalam soal ini, tampaknya market mover atau bandar berinisiatif untuk melakukan aksi beli lebih awal tanpa menunggu harga spot komoditas rebound. Dan esoknya harga spot komoditas benar-benar rebound, sehingga perhitungannya menjadi tepat.
Problem 2 : Harga spot turun, tapi harga saham masih naik. Ini tetap menjadi sinyal jual, tapi untuk menentukan titik jual jangan gunakan momentum ini, melainkan gunakan TA. Harga spot memang sangat bagus untuk menemukan momentum beli, tapi merupakan cara yang buruk untuk menemukan momentum jual.
Mungkin trik golden momentum ini sudah menjadi trik yang usang. Kalau kamu kebetulan menemukannya, anggap saja itu sebuah keberuntungan.
"Dengan kata lain, mereka yang hobi trading di saham-saham komoditas BUKAN karena volatilitasnya, tapi karena mereka menemukan cara menganalisa di sektor ini cenderung 'mudah'."
Seseorang menjadi sukses bukan karena menguasai segala bidang, melainkan ia menandai kelemahan dan kelebihannya, lalu ia menandai di bidang mana yang ia bisa berhasil dengan menggunakan kelebihannya itu. Hal yang persis sama berlaku di saham.
Post a Comment