Powered by Blogger.
===================================================================
Assalamualaikum Sobat Saham Ceria,
Salam sejahtera bagi kita semua,

Untuk meningkatkan kemampuan menulis sobat, silahkan tulis artikel mengenai pasar atau saham, cara kamu memahaminya, suka duka, awal mula, cita-cita, harapan, kesalahan hingga cara memperbaikinya, bedah buku / tulisan trader lain, mitos, dan sebagainya. Ada banyak sekali hal yang bisa kamu tuliskan.

Lebih disukai yang berisikan pengalaman ataupun paparan yang sarat dengan logika dan argumen yang kuat, sehingga sobat lain bisa belajar dari pengalamanmu itu.

Kirimkan tulisan kamu ke sahamceria1@gmail.com dengan format :

Nama penulis : boleh nama pena ataupun nama asli
Email :
Link Blog : (kalau ada)
Judul :
Uraian :
Referensi : (kalau ada)

Panjang tulisan antara 4000-5000 karakter. Tulisan yang menarik akan saya posting di blog ini. Dulu saya memulai untuk memahami pasar ini lewat menulis. Siapa tahu kamu pun juga begitu.

Semoga sukses dan salam trader!
===================================================================

Sell In May and Go Away, Strategi Investasi?

Posted by Saham Ceria

Sell In May and Go Away, Strategi Investasi?
Sell in May and Go Away merupakan salah satu strategi investasi saham yang didasarkan pada teori bahwa periode dari November ke April memiliki pertumbuhan saham yang di atas rata-rata ketimbang bulan-bulan yang lain. Kerap juga disebut sebagai indikator Halloween. Nampaknya alasan kuat di balik strategi tersebut semata-mata alasan probabilitas, dimana potensi untuk mendapatkan profit pada rentang November ke April itu lebih besar ketimbang Mei ke Oktober. Secara kebetulan, rata-rata titik terendah IHSG biasanya berada di bulan September-Oktober, sehingga rally bisa dimulai di bulan November atau sesudahnya.

Kalau sudah berbicara tentang rentang waktu, kita tak lagi berbicara soal mitos atau fakta, melainkan probabilitas. Dengan gambaran strategi yang demikian, kita bisa memahami betapa orang-orang di luar sana memburu strategi investasi hingga membahasnya ke rentang bulan-bulan tertentu. Sell In May and Go Away jelas merupakan saran untuk melepaskan saham di bulan Mei dan masuk kembali di bulan November nanti. Kita akan bahas sedikit soal ini.

Saya mengakui bahwa pasca bulan Oktober, trading-investasi menjadi sangat menarik karena kerap kali menghasilkan gain yang lumayan. Dan investasi dari Januari ke Maret juga memberikan hasil yang tidak bisa dibilang sedikit. Tapi, alih-alih mengatakan bahwa itu merupakan strategi indikator Halloween, justru jauh lebih tepat kalau itu diakui sebagai faktor kebetulan semata-mata. Alasan utamanya ada 2, yaitu :

  1. Kita tidak pernah tahu kapan titik terendah dari indeks saham. Andaikan titik terendah IHSG ternyata di bulan Juni, misalnya, tentunya bulan Juli menjadi sangat menarik buat trading-investasi.
  2.  
  3. Kita harus tepat memilih saham. Andaikan saham yang dibeli tidak berhasil mencetak kinerja yang bagus, tentunya sekalipun berinvestasi di rentang November-April, tetap saja hasilnya mengecewakan.

William J. O'Neil menuliskan bahwa untuk berinvestasi di saham, kita kudu mengikuti aturan, bukan kalender. Ini jelas menyindir mereka yang menggunakan indikator Halloween sebagai strategi investasinya. Jangankan rentang waktu November-April, yang jelas-jelas tahu kapan rilis pengumuman suku bunga Bank sentral pun tak menjamin berguna bagi investasi jangka pendek.

Saya pribadi tidak pernah berfikir buat menerima mentah-mentah strategi Sell in May and Go Away. Jauh lebih bermanfaat kalau kita tahu apa logika di balik bulan-bulan tersebut. Tanpa itu, semua hanya jatuh pada spekulasi. Lantas, apakah memang ada dasar logika di balik bulan-bulan itu? Kalau dicari korelasinya, ya bisa jadi ada, tapi apapun itu saya yakin bahwa ia bukanlah variabel terikat, melainkan variabel bebas. Sama seperti variabel-variabel lainnya, semua bergerak relatif pada kondisi yang sedang berlangsung. Inilah kiranya menjelaskan kenapa indikator semacam ini lebih pantas disebut spekulasi ketimbang strategi.

Memang sudah ada yang melakukan uji statistik pergerakan harga IHSG dan melakukan perbandingan pada rentang waktu November-April dan Mei-Oktober. Hasilnya rentang November-April memberikan hasil positif yang lebih sering ketimbang Mei-Oktober. Sayangnya uji tersebut tidak dilakukan pada rentang-rentang waktu yang lain, misalnya September-Februari, Januari-Juni, dan sebagainya. Padahal semua rentang waktu tersebut harus diuji untuk mendapatkan rentang terbaik. Dan jika memang terbukti rentang waktu Mei-Oktober sedemikian jeleknya, maka barulah bisa dikatakan Sell in May and Go Away. Namun, kalau dilihat dari model strategi semacam itu, sekalipun dilakukan uji terhadap rentang-rentang waktu yang lain, hasil kesimpulannya tetaplah spekulatif.

Kenapa bisa demikian? Di Kilas Balik : Jalan Berliku Analisis Saham saya pernah menuliskan sbb :

"Seperti kamu melihat gelembung-gelembung air, lalu mengambil kesimpulan bahwa sejarah akan berulang dimana air akan mengeluarkan gelembungnya. Maka kamu ambillah segelas air lalu tunggu. Apakah muncul gelembung? Tidak. Lantas, darimana asal gelembung itu? Jadi sejarah hanya akan berulang kalau penyebabnya pun berulang juga."


Jadi bukan airnya yang dipersoalkan, melainkan penyebab terjadinya gelembung itu. Bukan bulannya yang dipersoalkan, melainkan penyebab terjadinya situasi yang kebetulan muncul di bulan itu. Cari tahu dulu soal penyebabnya, sehingga nantinya kamu bisa menandai pasar, tak peduli bulan berapapun itu. "Trade your stock first. The market second."

Semoga bermanfaat.

William J. O'Neil

Related Post



Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...